Komunisme Selalu Hidup Mengikuti Pola Zaman

0
384

MS Kaban.

Jakarta, beritalangitan.com, Perbincangan tentang ada atau tidak ada gerakan PKI saat ini semakin hangat untuk diikuti,  banyak pihak yang menyatakan bahwa gerakan tersebut ada dan tidak sedikit yang menyangkalnya.

Seperti di tegaskan oleh MS Kaban, Ketua Majelis Syuro Partai Bulan Bintang (PBB), ideologi apapun tak akan pernah mati, dia akan tetap hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru.

Dilansir Sindonews.com,  “Dalam konteks keindonesiaan gerakan komunisme PKI akan bangkit atau tidak tergantung pada sejauh mana kesenjangan hidup, kemiskinan itu ada maka akan jadi lahan subur untuk propaganda komunis itu sendiri,” ujar Kaban di Jakarta, Senin (15/1/2018).

Karena itu mantan Menteri Kehutanan di era SBY itu meminta kepada pemerintah, TNI/Polri, rakyat dan umat untuk tidak boleh lengah sedikitpun karena bisa jadi ada suatu kekuatan tertentu dengan menginternasionalisasi isu komunisme ini.

“PKI walaupun telah dilarang dengan ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (TAP MPRS) pada tahun 1966 sampai saat ini masih berlaku, namun kewaspadaan mutlak diperlukan luka sejarah yang ditimbulkan masih cukup dalam belum sembuh,” bebernya.

Saat ini, kata dia, di berbagai daerah seperti kejadian terakhir di Banyuwangi Jawa Timur, melalui aksi-aksi di jalan dengan membawa simbol ‘palu arit’ bisa saja adalah bagian dari propaganda simbol-simbol untuk  dijadikan bibit persemaian ideologi serta untuk menunjukkan eksistensi keberadaannya.

“Jadi tanda-tanda kebangkitan itu memang ada, kasus Banyuwangi itu bagian kecil dari awal kebangkitan PKI,” pungkasnya.

Fahmi Idris

Senada dengan MS Kaban, Fahmi Idris, seorang Politisi senior Partai Golkar  mengatakan, komunisme di Indonesia dalam hal ini isu kebangkitan PKI memang tidak muncul dalam bentuk dan format seperti di zaman dulu di tahun 60-an dengan agitasi dan propaganda untuk merebut kekuasaan negara.

“Tetapi motif, metode gerakan dan perilaku politiknya bisa saja masih tetap sama di era kebebasan informasi, demokratisasi dan era reformasi ini,” ujar Fahmi di Jakarta, Senin (15/1/2018).

Aktivis Angkatan 66 dari eksponen Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) ini memberi contoh, dengan melakukan ujaran kebencian pada pemerintahan yang sah, mengadu domba antarormas, anti terhadap agama, menolak kebhinekaan dan lain sebagainya.

“Kemudian kalau bicara soal ideologi komunisme itu memang akan selalu hidup dengan mengikuti perkembangan dengan pola dan gerakan zaman terkini, istilahnya sekarang adalah ‘zaman now’ semisal dengan pola ‘pertentangan kelas’ antara kaya dan miskin,” sambungnya.

Dia menambahkan, seperti perkembangan terbaru di Banyuwangi Jawa Timur dengan adanya kasus ‘palu arit’ dalam aksi dan demo warga di sana, sebenarnya warga tak sadar telah disusupi dan terinfiltrasi dengan simbol-simbol itu serta karena ketidaktahuan.

“Berawal dari kejadian seperti di Banyuwangi inilah cara komunisme mencoba memperkenal dirinya dan menunjukkan eksistensi keberadaannya,” pungkasnya.

Sumardi

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.