Masjid Istiqamah gelar bedah buku “Balada Jihad Aljazair”

0
2134
Acara bedah buku “Balada Jihad Aljazair” di Masjid Istiqomah Bandung, Minggu (03/01).

Bandung, 04/01 (beritalangitan.com) – Tidak seperti biasanya, acara pengajian minguan di masjid Istiqomah kali ini, Minggu (03/01) diwarnai dengan penyelenggaraan bedah buku “Balada Jihad Aljazair” karangan Syaikh Abu Mus’ab As-suri.

Buku ini merupakan rangkuman testimoni Syaikh Abu Mus’ab As-Suri, seorang ideolog jihadi terkemuka asal Suriah yang pernah menjadi saksi hidup “tragedi” di negeri bekas jajahan Perancis tersebut. Buku ini berkisah tentang lika-liku perjuangan gerakan jihad di Aljazair sekitar 1990-an hingga tahun 2004 yang dimulai dengan pecahnya perang saudara setelah militer menghalangi gerakan Partai Pembabasan Islam (FIS) yang hendak mengambil alih kekuasaan selepas kemenangan mereka dalam pemilu. Diantara kelompok yang bangkit melawan pemerintah adalah al-jama’ah al-islamiyyah al-musallahah (GIA). Kelompok ini merupakan salah satu kelompok terbesar mujahidin pada era jihad melawan rezim sekuler Aljazair tahun 1995-2000.2Sayangnya kelompok ini berubah menjadi kelompok bersenjata yang berlaku serampangan dalam menerapkan kaidah: “barang siapa yang tidak mengkafirkan orang kafir, niscaya ia telah kafir”. Dengan ganas mereka membunuh anak-anak, wanita dan orang tua para polisi dan tentara rezim Aljazair. Tidak hanya itu, GIA juga terpengaruh paham yang menghalalkan pembunuhan dan perampasan harta masyarakat awam kaum muslimin yg tidak mau bergabung dengan mereka. Banyak ulama, komandan mujahid dan sejumlah tokoh islam yg mereka bunuh atau hendak mereka bunuh, karena dianggap telah kafir dan tidak sejalan dengan pemahaman mereka.CaptureBuah dari sikap ekstrem dalam masalah takfir ini pada akhirnya melahirkan sikap trauma dan salah paham ditengah umat terhadap aktivis islam. Jatuhnya korban jiwa -yang disebut-sebut hingga 100 ribu jiwa selama konflik- menjadi harga yang sangat mahal untuk dibayar. Eksperimen jihad untuk menggulingkan rezim sekuler aljazair pun berujung pada kegagalan. Menurut Abu Rusydan, seorang pengamat harokah islamiyah dan kolumnis di media Kiblat.net, kondisi aljazair ketika itu diyakini kurang adanya ulama yang mengarahkan para mujahid sehingga tidak jelas siapa kawan, siapa lawan/musuh, dimana tempat/medan jihad, dan tidak ada wasilah (perantara).3Sendangkan ust. Haris Abu Ulya berpendapat bahwa cara rezim berkuasa untuk memperburuk citra islam adalah dengan menampakkan radikalisasi jihad bahkan menyeretnya dalam kriminalisasi jihad, hal inilah yang lambat laun akan membekas dalam ingatan ummat secara umum hingga dampaknya masyarakat akan menjauhi tanzim jihad.

Kesimpulan: tragedi aljazair merupakan pelajaran berharga bagi kaum muslimin khususnya jamaah pergerakan jihad islamiyah, agar jangan sampai kaum muslimin jatuh ke dalam jurang kehancuran yang sama untuk kedua kalinya. (Yd)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.