Mewujudkan Kampus Islami di Indonesia (1)

0
1168

Kampus merupakan suatu komunitas intelektual. Sebagai orang Islam, tentu kita sangat mendambakan kampus islami. Yang dimaksud dengan kampus islami adalah kampus yang menerapkan nilai-nilai Islam, baik dalam segi muatan pendidikan, perilaku insan kampus maupun lingkungan. Hal ini tercermin dari paradigma dan perilaku manusia kampus itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Islam telah mengatur dan memberi petunjuk tatacara hubungan manusia dengan Tuhannya, sesama manusia dan lingkungannya.

Kita patut bangga dengan banyaknya lembaga pendidikan saat ini di Indonesia. Terlepas dari motif menjamurnya berbagai kampus selama ini, namun penulis bersangka baik bahwa fenomena ini menandakan bahwa kita mulai sadar akan pentingnya pendidikan dan peduli terhadapnya. Lantas, apakah kita merasa cukup dengan kuantitas kampus yang semakin banyak, tanpa mengimbangi dengan kualitas dan value (nilai-nilai)?

Cukupkah kemajuan kampus dinilai dengan ramainya mahasiswa, tanpa ada indikator moral yang baik? Idealnya, setelah menimba ilmu di kampus, mahasiswa diharapkan menjadi sosok sarjana yang cerdas secara intelektual dan spiritual serta menebar manfaat bagi orang banyak. Inilah dambaan kita semua.

Dikutif dari www.islamulia.com, tulisan ini hanya mengkritisi kondisi dan potret kampus yang memakai label Islam seperti IAIN, UIN, STAIN/STAI, Perguruan Tinggi Islam lainnya di Indonesia saat ini. Sangat ironis, pemandangan yang tidak islami, mulai dari pakaian, penampilan, pergaulan, kebersihan dan kurangnya pengamalan ilmu “menghiasi” kehidupan berbagai “kampus islam” tersebut. Seakan kita tidak percaya bahwa ini “kampus Islam” yang berkonsentrasi dan mengajarkan ilmu-ilmu keislaman. Terlebih lagi para mahasiswa dan dosen serta stakeholdernya beragama Islam. Harapan penulis ada perbaikan dan usaha mewujudkan kampus islami yang kita dambakan.

Potret Kampus Islam di Indonesia

Di berbagai kampus Islam di Indonesia, tidak jarang kita menemukan para insan kampus berperilaku tidak islami dalam aktivitas sehari-harinya. Mahasiswi yang mengaku dirinya muslim namun berpakaian bertentangan dengan syariat Islam seperti berpakaian ketat, tipis/transparan, menampakan aurat dan lekuk tubuh dan norak. Bahkan suka pakai blue jin seperti orang laki-laki. Sedangkan mahasiswa berpenampilan dengan model rambut gondrong, memakai gelang dan kalung, berpakaian awut-awutan, tidak beda dengan penampilan preman. Cara mahsisiwi dan mahasiwa berpakaian/berpenampilan tidak beda dengan orang kafir. Yang jelas, bertentangan dengan syariat Islam. Begitu pula sering terjadi tawuran mahasiswa semakin mencoreng kampus yang nota benenya merupakan institusi pendidikan moral.

Selain itu, pergaulan antara laki-laki dan perempuan juga sangat memprihatinkan. “Pergaulan bebas” mewarnai kehidupan di kampus, baik di kantin, taman, tempat parkir maupun ruang kuliah. Pacaran dan khalwat menjamur di mana-mana. Bahkan yang lebih memalukan, terjadinya kasus mesum (zina) justru di kampus yang notabenenya tempat pendidikan moral, yang dilakukan oleh oknum pasangan lawan jenis calon intelektual kita.

Ini akibat percampuran (ikhtilath) antara laki-laki dan perempuan dalam satu ruang kuliah, sehingga batasan antara lawan jenis sulit dijaga. Hubungan akrab antara laki dan perempuan dianggap suatu hal yang wajar. Bahkan mereka tidak merasa malu dan canggung berboncengan ria dan mesra dengan lawan jenisnya yang bukan muhrim dengan sepeda motor, baik di dalam maupun di luar kampus.

Tidak hanya itu, pemandangan para insan kampus yang merokok turut “menghisasi” kondisi buruk kampus. Mahasiswa dengan bebasnya merokok di kantin, ruang kelas, bahkan di depan kantor dosen sekalipun, tanpa ada teguran dan larangan dari pihak otoritas kampus.

Parahnya, dosen dan karyawan pun ikut mempertontonkan aksi merokoknya. Bahkan ada dosen yang mengajar sambil merokok. Padahal, kita semua tahu bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan. Tapi justru pengetahuan ini diabaikan demi memuaskan nafsu si perokok.

Suasana ini pun diperparah dengan fenomena insan kampus yang sibuk dengan aktivitasnya pada saat azan berkumandang, baik di kantin, ruang kuliah, maupun kantor. Mereka lebih rela meninggalkan panggilan shalat berjamaah daripada meninggalkan aktivitasnya tersebut.Padahal masjid atau mushalla terletak sangat berdekatan dengan lokasi aktivitas mereka.

Selain itu, kondisi kampus yang tidak asri dan pemandangan kotoran binatang yang bertebaran di kawasan kampus serta toilet/WC yang jorok dan menebarkan bau yang tidak sedap semakin menambah kesan buruk citra kampus kita. Padahal, kita tahu bahwa kesehatan adalah segala-galanya. Faktor kebersihan merupakan faktor terpenting dalam kesehatan. Bahkan para mahasiswa pun kerap mendengar pesan-pesan al-Quran dan Hadits tentang kewajiban menjaga kebersihan. Sayangnya, ilmu mereka tersebut tidak diaplikasikan dalam realita kehidupannya.

Inilah potret negatif kehidupan sebahagian besar kampus dan perguruan tinggi Islam di Indonesia yang terlihat tidak ada bedanya dengan kampus umum. Meskipun fenomena buruk yang terjadi di kampus Islam masih lebih sedikit dibandingkan dengan kampus umum yang memang tidak berkonsentrasi dalam masalah syariat Islam. Karena nilai-nilai keislaman tidak menjadi prioritas dalam visi dan misi kampus umum. Hal ini berbeda dengan kampus Islam. Sungguh memprihatinkan. Kalau begini kondisinya, mustahil kita mengharapkan mahasiswa menjadi sosok intelektual yang cerdas, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi agama dan umat.

Seharusnya, selain menjadi tempat menimba ilmu bagi mahasiswa, kampus juga tempat pembinaan akhlak. Mahasiswa diharapkan menjadi teladan yang baik bagi keluarga dan masyarakatnya. Pengetahuan yang diperoleh selama menimba ilmu di kampus diharapkan dapat diaplikasi dalam kehidupan mereka, bukan sekedar teori belaka. Persoalan lain, berkaitan dengan silabus mata kuliah yang kurang berkualitas, sehingga banyak mahasiswa yang tidak paham syariat dengan baik terutama persoalan aqidah. Akibatnya, ajaran sesat berkembang dengan mudah di kampus.

Maka tidak mengherankan Indonesia menjadi lahan subur ajaran sesat. Sebagai “kampus islam” seharusnya lebih mengfokuskan kepada ilmu-ilmu syar’i secara mendalam, integratif dan konprehensif, terutama mata kuliah aqidah dan al-Quran sejak dari semester pertama sampai semester akhir. Agar mahasiswa paham syariat dengan baik dan menguasai ilmu-ilmu syar’i, sehingga melahirkan manusia yang tangguh di bidang imtak (iman dan takwa) dan imtek (ilmu dan teknologi).

Bersambung…. 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.