Mewujudkan Kampus Islami di Indonesia (2)

0
2366

Setelah kita tahu bagaimana potret kampus islam di indonesia yang notabene hampir tidak ada bedanya dengan kehidupan di kampus umum biasanya, yang membedakan hanyalah pelajaran agama islam saja yang sks nya lebih lama. Tidaklah cukup bila hanya pemahaman secara teori, tentu harus di dorong oleh aksi yang nyata, sehingga apa yang dipelajari akan menjadi lebih bermakna dan bermanfaat. Berikut ini adalah gambaran kehidupan kampus islam di luar negeri sebagai acuan untuk memotivasi dan mengevaluasi apa yang harus di benahi agar menjadi lebih baik. Berikut yang telah dikutip dari www.islamulia.com.

Mencontoh Kampus Islami di Luar Negeri

Untuk mewujudkan kampus Islami, maka ada baiknya kita bercermin kepada kampus-kampus terkemuka di negera-negara lain yang menerapkan nilai-nilai Islam. Universitas Al-Azhar Kairo-Mesir, Universitas Islam Madinah-Arab, International Islamic University Malaysia (IIUM). Ketiga kampus tersebut merupakan kampus yang paling banyak diminati oleh ummat Islam dari berbagai negara, karena pendidikannya yang berkualitas dan islami. Maka, sudah sepatutnya kita mencontohnya dan menerapkannya di kampus kita.

Kampus al-Azhar merupakan kampus Islam yang tertua di dunia yang menerapkan sistem pendidikan berdasarkan nilai-nilai Islam. Silabus al-Azhar dibuat oleh para ulama yang sekaligus menjadi tenaga pengajar. Sistem perkuliahan diterapkan dengan memisahkan antara mahasiswa yang laki dengan yang perempuan. Kampus banin (laki-laki) terpisah jauh dengan kampus banat (perempuan). Begitu pula dengan asrama mahasiswanya. Al-Azhar mewajibkan pula para mahasiswanya untuk berpakaian muslim/ah sesuai standar syar’i. Penguatan ‘ulum syar’iyyah (ilmu-ilmu keislaman) sangat ditekankan di al-Azhar. Mata kuliah Aqidah, Fiqh, Ushul Fiqh, Hadits, Tafsir, Akhlak dan Bahasa Arab menjadi skala prioritas dengan jam belajar yang banyak, baik di kampus agama maupun kampus umumnya. Mahasiswa diwajibkan menghafal al-Quran setiap tahunnya 2 juz bagi mahasiswa asing (ajaanib). Maka, untuk menyelesaikan studinya mereka harus punya hafalan minimal 8 juz, sedangkan mahasiswa yang berasal Mesir dan negara Arab lainnya wajib hafal 30 juz, apapun disiplin ilmunya. Maka jangan heran bila jebolan (alumni) Fakultas Kedokteran, Tehnik dan sebagainya dari kampus ini mampu menghafal 30 juz al-Quran. Itu sebabnya kampus al-Azhar sejak dulunya banyak melahirkan para ulama dan cendekiawan muslim yang handal dalam bidangnnya.

Pemandangan kampus Islami seperti diatas juga kita jumpai di Universitas Islam Madinah. Kampus ini bahkan lebih ketat penerapan nilai keislamannya. Pada saat azan berkumandang, semua aktivitas belajar dan administrasi kantor berhenti total. Mahasiswa dan dosen diwajibkan shalat berjamaah di masjid atau mushalla setiap fakultas. Sistem perkuliahan dipisahkan antara laki dan perempuan. Selain kampus mereka yang berbeda, asramapun berjauhan. Aturan larangan merokok, musik dan lagu diterapkan, karena tidak sesuai dengan dengan syariat Islam.

Begitu pula dengan aturan pakaian, mesti sopan dan islami. Pakaian dan penampilan insan kampus wajib sesuai dengan ketentuan syariat Islam, termasuk masalah kebersihan. Mahasiswa yang melanggar aturan akan dikenakan sanksi administrasi seperti teguran, pemotongan beasiswa bahkan bisa dipulangkan ke negerinya. Maka, suasana yang islami, bersih dan nyaman menjadi ciri khas kampus Universitas Islam Madinah. Kampus ini bebas dari asap rokok dan virus pacaran/khalwat. Di kampus ini pula kita tidak menemukan mahasiswa berpenampilan dan berpakaian preman yang bertentangan dengan ajaran Islam seperti pakai gelang, kalung, anting, pakaian tidak islami, dan sebagainya. Perkelahian atau tawuran antara mahasiswa pun tidak pernah terjadi, terlebih lagi sikap tidak sopan terhadap dosennya. Tidak pula kita jumpai konser musik/lagu dan mahasiswa berboncengan dengan lawan jenisnya di dalam atau di luar kampus. Suasana islami ini sangat terasa, sesuai dengan denyut kehidupan kota Madinah yang islami. Silabus kampus Madinah dikonsep oleh para ulama besar yang pakar dalam bidangnya. Mata kuliah seperti Akidah, Tafsir, Hadits, Fiqh, Ushul Fiqh dan Bahasa Arab merupakan mata kuliah wajib dengan jumlah jam kuliah 4 SKS mulai dari tahun awal sampai tahun akhir secara komprehensif dan berkesinambungan. Disamping itu, mahasiswa diwajibkan menghafal al-Quran setiap tahunnya 2,5 juz. Untuk menyelesaikan studinya di kampus ini wajib hafal minimal 10 juz, kecuali Fakultas Tafsir 30 juz. Begitu pula pendidikan akhlak sangat ditekankan.

Para dosen yang mayoritasnya para ulama senantiasa mendidik para mahasiswanya dengan nilai-nilai Islam dengan penuh keikhlasan dan sungguh-sungguh. Akhlak mereka yang mulia menjadi contoh bagi mahasiswa. Di luar waktu kuliah, mahasiswa sibuk menghadiri halaqah (pengajian) ilmu syar’i di masjid Nabawi atau di masjid lainnya yang diasuh oleh para ulama besar. Dengan hasil tarbiyah para ulama itulah, maka tidak mengherankan banyak alumni dari kampus madinah menjadi da’i dan ulama sekembali mereka ke tanah air masing-masing. Mereka menjadi sosok intelektual yang cerdas akal dan akhlak, mencintai ilmu dan para ulama.

Begitu pula sistem pendidikan islami diterapkan oleh kampus Internatioanal Islamic Universiy Malaysia (IIUM). Meskipun ada percampuran laki-laki dan perempuan dalam ruang belajar, namun pergaulan mereka tetap terjaga dalam batas-batas tertentu. Tempat duduk laki-laki dan perempuan tetap diberi batasan. Sedangkan di luar ruang kuliah diterapkan model pemisahan antara laki dan perempuan, seperti pemisahan asrama yang berjauhan, komplek olah raga, kolam renang, tempat duduk di pustaka, ruang internet dan IT, dan sebagainya. Untuk mendukung kehidupan bersyariat di kampus, berbagai aturan pun diberlakukan, seperti larangan khalwat/pacaran, wajib berpakaian islami, dan larangan merokok di dalam kampus. Maka, banyak kita jumpai pamflet yang bertuliskan “no dating”, “no couple” dan “no smoking” di kawasan kampus. Itu sebabnya kita jarang menemukan mahasiswa yang merokok, berpakaian ala artis dan “berponcengan ria” naik sepeda motor dengan lawan jenisnya. Bagi yang melanggar aturan diatas akan dikenakan sanksi. Kebersihan dan keindahan kampus sangat diperhatikan. Maka wajar bila kampus IIUM identik dengan suasana indah, bersih dan nyaman.

Silabus kuliah IIUM merupakan konsep para ulama dari berbagai negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI). Islamisasi pengetahuan (islamization of knowledge) merupakan salah satu misi dari kampus ini, sehingga pengetahuan umum dapat bernuansa dan bersumber dari nilai keislaman. Halaqah al-Quran diwajibkan sebagai mata kuliah wajib, selain program tahfiz. Kampus yang mahasiswanya berasal dari lebih 90 negara ini menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar. Tanpa menguasainya, maka jangan berharap dapat diterima kuliah di IIUM.

Akhirnya, kita berharap kepada stakeholder kampus islam dan perguruan tinggi Islam di Indonesia, agar mewujudkan kampus islami di lingkungannya masing-masing. Mengingat label Islam yang dicantumkan kepada kampus-kampus tersebut merupakan sebuah amanah dari Allah yang mesti dijalankan dengan baik. Terlebih lagi mempertaruhkan nama Islam sebagai agama rahmatan li ‘alamin dan peduli terhadap akhlak yang mulia. Syariat Islam mesti diterapkan dan diaplikasikan dalam kehidupan kampus bagi orang Islam, demi tercipta kampus islami yang kita dambakan. Dengan demikian, diharapkan dapat melahirkan sarjana yang cerdas secara intelektual dan spiritual, bermanfaat bagi agama, ummat dan negara, serta menjadi contoh teladan bagi kampus umum dan agama lain. Semoga..!

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.