Pasca Tsunami Sulteng, Rutan Rusuh dan Ratusan SatPol PP tidak diketahui Nasibnya

0
69

Sulteng, beritalangitan.com– Gempa berkekuatan 7,4 SR mengguncang wilayah Donggala, Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9/2018). Gempa tersebut juga menyebabkan tsunami.

Menurut BMKG, tsunami terjadi setidaknya di tiga wilayah, Palu, Donggala dan Mamuju.

Pasca gempa berkekuatan 7,4 SR mengguncang wilayah Donggala, terjadi beberapa kasus diantaranya kerusuhan di rumah tahanan kelas II B Donggala dan Ratusan petugas Satpol PP pasca tsunami tidak diketahui nasibnya.

Dikutip Grid.ID, kerusuhan pecah di rumah tahanan kelas II B Donggala pada Sabtu (29/9/2018)dipicu lantaran para narapidana menuntut untuk dibebaskan.

Akibat kerusuhan tersebut, setidaknya 100 napi diketahui kabur dari rutan Donggala.

Tuntutan narapidana yang ingin dibebaskan agar dapat bertemu keluarga membuat ratusan penghuni rutan kelas II B Donggala panik dan marah.

Para napi tersebut marah lantaran tuntutan mereka untuk dibebaskan dan bertemu dengan anggota keluarganya ditolak oleh petugas.

Karena tuntutan mereka untuk dibebaskan dan bertemu dengan keluarga ditolak beberapa napi pun membakar gedung penjara. “Ricuh dipicu keinginan keinginan warga binaan dibebaskan untuk bertemu dengan keluarganya.

Ada 100 narapidana dan tahanan diperkirakan kabur”, ujar Saifuddin, Kepala Rutan kelas II B Donggala

Saifuddin juga mengatakan jika upaya pengendalian kerusuhan sudah dilakukan dengan mengerahkan ratusan personel Brimob dari Polda Sulawesi Tengah.

Namun, karena minimnya mobil pemadam kebakaran yang tiba di rutan membuat api tidak terkendali.

Akibatnya, kondisi rutan Donggala pun rata dengan tanah.
Ruang terdepan dari gedung utama ludes terbakar.
Kebakaran ini mengakibatkan rutan tak bisa lagi menampung para tahanan yang masih berada di dalam rutan.

Terkait kaburnya para napi, petugas masih terus melakukan pengejaran.

Ratusan personel Brimob Polda Sulawesi Tengah juga telah berjaga di sekitar area rutan untuk mengendalikan situasi.

Selain kerusuhan di Lapas Donggala akibat terjangan tsunami juga mengakibatkan ratusan Anggota Satpol PP Kota Palu tak diketahui nasibnya.

Seperti dilansir teropongsenayan.com, salah satu korban selamat, Adrian mengatakan, hingga Sabtu (29/9/2018) pagi rekan-rekannya di Satpol PP Kota Palu belum diketahui nasibnya. Adrian adalah bagian dari 250 anggota Satpol-PP Kota Palu yang pada Jumat (28/9) mengamankan lokasi acara pembukaan Fetsival “Pesona Palu Lomoni”.

Ratusan anggota satpol-PP berada di lokasi acara festival yang berlangsung di pinggir pantai anjungan Nusantara, Kota Palu, bersama anggota pengamanan lainnya yang berasal dari unsur TNI, Polri, Dinas Perhubungan.

Mereka melakukan apel pasukan untuk mengamankan festival tersebut, pada Jumat (28/9), pukul 15.00 Wita.

“Tiba-tiba gempa pertama terjadi, disusul kepanikan orang yang sebagian melarikan diri menjauh dari pantai,” kata Adrian.

“Namun, setelah kami melihat air tiba-tiba turun, dan akhirnya terjadi kepanikan besar. Belum sempat melarikan diri, terjadi gempa yang lebih besar pada 7,4 SR itu, dan tiba-tiba air naik,” tambahnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.