Pembukaan Kegiatan Belajar Mengajar di Sukabumi masih Tuai kontroversi

0
115

Sukabumi beritalangitan.com – Kota Sukabumi usai dinobatkan sebagai Kota Zona hijau oleh Gubernur Jawa Barat beberapa waktu lalu resmi diizinkan untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Rencananya Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi akan memulai kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka pada 13 Juli mendatang.

Namun hal tersebut menuai kontroversi dari berbagai kalangan.

Sebelumnya Komisi III DPRD Kota Sukabumi menyatakan tidak sepakat akan rencana tersebut. Kali ini giliran Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang akangkat bicara.

Ketua Pengurus Besar (PB) PGRI, Dudung Nurullah Koswara mengaku, disatu sisi zona hijau yang diraih Pemkot Sukabumi merupakan sebuah prestasi. Tapi disisi lain, hal itu bagaikan buah simalakama. “Hijau daerah, bukan berarti aman 100 persen bagi anak,” seperti dilansir Radar Sukabumi, Rabu (1/7).

Menurutnya, harus ada pengawalan ketat kalau pun KBM tatap muka akan diberlakukan. Jangan sampai hanya mengandalkan status zona hijau tapi tidak mempersiapkan segala fasilitas di sekolah-sekolah.

“Kalau menurut saya siapkan satuan tugas khusus yang bisa gerak cepat layani anak-anak saat sekolah masuk. Keliling,” usulnya.

Sementara, Ketua PGRI Kota Sukabumi, Saepurohman Udung meminta agar pemerintah untuk tetap berhati-hati jika KBM tahun ajaran baru 2020 tetap diberlakukan tatap muka. Pelaksanaan tatanan baru di dunia pendidikan memerlukan kewaspadaan yang tinggi.

Karena, keselamatan peserta didik menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan membuka sekolah di era new normal atau tatanan baru pasca pandemi Covid-19. Semua harus dipertimbangkan berdasarkan data dan masukan para ahli.

“PGRI Kota Sukabumi mendukung dengan adanya sistem pembelajaran tatap muka, apalagi saat ini Kota Sukabumi sudah berstatus zona hijau.

Asal, dengan catatan semua sekolah sudah memenuhi syarat protokol kesehatan,” terang Udung yang juga menjabat sebagai Kepala SMKN 1 Kota Sukabumi ini

Menurutnya, pembelajaran tatap muka di sekolah bisa dilakukan asalkan sudah memenuhi syarat standar protokol kesehatan yang diterapkan organisasi kesehatan dunia (World Health Organization/WHO).

Seperti penyedian tempat cuci tangan dengan jumlah yang sesuai dengan rombongan belajar setiap kelas, melakukan kerjasama dengan puskesmas terdekat yang akan memantau kesehatan para siswa, menggunakan masker, memiliki ruangan kelas standar untuk physical distancing atau jaga jarak. (D.U)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.