Pentingnya Berbakti Kepada Kedua Orang Tua – Birru Walidain

Oleh : Siska Amaliyah M.Pd.I

0
251

A. Pengertian “AlBirr

Setiap anak terlahir kemuka bumi ini pada hakikatnya disebabkan kedua orang tuanya. Orang tua yang ideal adalah orang tua yang mampu mendidik putra putrinya menjadi anak yang baik, anak yang soleh dan solehah, dengan kata lain anak yang berakhlaqul karimah, berakhlak Mulia (berbakti kepada kedua orang tuanya).Berdasarkan sabda Rosulullah Shalallahualaihi Wasallam (artinya): “AlBirr adalah Kebaikan akhlaq”:(Diriwayatkan oleh muslim dalam shahihnya no.1794). Lawan “Al Aquq” yang artinya kejelekan dan menyia-nyiakan haq.

AlBirr merupakan haq ke dua orang tua dan (kerabat terdekat). AlBirr memberikan ketaatan (mentaati) kedua orang tua, taat dengansemua yang mereka perintahkan kepada kita, selama perintah tersebut bukan maksiat kepada Allah, atau melanggar perintah Allah, sedang Al-Aquq berarti menjauhi mereka dan tidak berbuat baik kepada keduanya (orang tua). Berkatalah urwah bin Zubair mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua tentang firman Allah SWT

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan” (Q.S Al-Isra:24).

Yaitu: “Jangan sampai mereka berdua tidak di taati sedikitpun”. (Ad-Darul Mantsur 5/259).

Kemudian Iman Al-Qurtubi bicara soal AlBirr. Berkata Imam Al-Qurtubi : “Mudah-mudahan Allah merahmatinya” : “Termasuk Uquuq (durhaka) kepada  orang tua adalah menyelisih/menentang keinginan-keinginan mereka  dari (perkara-perkara) yang mubah, sebagaimana AlBirr (berbakti) kepada keduanya adalah dapat memenuhi apa yang menjadi keinginan mereka. Oleh karena itu, apabila salah satu atau keduanya memerintahkan sesuatu, wajib kita mentaatinya, selama hal itu bukan perkara maksiat, walaupun apa yang mereka perintahkan bukan perkara wajib, tapi mubah pada asalnya, demikian pula apabila apa yang mereka perintahkan adalah perkara yang mandub (disukai/disunahkan). (AL-Jami’li Ahkamil Qur’an 7116 hal 238).

 

Keutamaan Birru Al-Walidain

            Mengutamakan orang tua adalah termasuk amalan yang paling mulia apa bila kita melakukannya.Sehinggabanyak keterangan menjelaskan, menegaskan baik keterangan al-qur’an maupun keterangan hadits menjelaskan keutamaan Birru Al-Walidain.Ada beberapa jalan untuk meraih Jannah, dan diantaranya jalan itu adalah “Birru Al-Walidain” (Taat Kepada Orang Tua). Cukup banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang itu. Bahkan dalam beberapa ayat Allah Subhanahu Wata’ala berfirman yang artinya:

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan suatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak…………….” (Q.S An-Nisa: 36).

Dan dalam firman  Allah yang lain, Qs.Al-Isra : 23 berbunyi:

“Dan tuhan mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapak mu dengan sebaik-baiknya (Q.S Al-Isra:23).

Dari keterangan beberapa ayat al-qur’an di atas, yang di ulang-ulang telah menerangkan dan memerintahkan kepada kita semua agar senantiasa berbuat baik kepada oran tua, dan di rangkaikannya pula ketaatan kepada keduanya dengan ketaatan kepada Allah swt, tentang keutamaan “Birru Al-Walidain (Berbakti Kepada Orang Tua).Tidak Cuma itu , hal ini telah di dukung  oleh beberapa Hadist Nabi saw, yang menerangkan Birru Al-Walidain diantaranya adalah apa yang telah diriwayatkan ole Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:

“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw, lalu bertanya “Ya Rasulullah! siapakah manusia yang paling berhak aku pergauli dengan baik? “Rasulullah saw menjawab:“Ibumu” Dia bertanya lagi, kemudian siapa lagi? Rasulullah saw, menjawab: “Ibumu”, Dia bertanya lagi kemudian siapa lagi? Rasululllah menjawab “Ibumu”. Dia bertanya lagi, kemudian siapa? Rasulullah saw menjawab, “Bapakmu”. (HR.Bukhari Kitab Al-Adab& Muslim & Muslim kitab Al-Birr Wa ash-shilah). Dalam hadist yang lain di sebutkan juga, Artinya :“Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah saw, meminta izin kepadanya untuk ikut berjihad. Maka Rasulullah saw bertanya kepadanya “Apakah kedua orang tua mu masih hidup? Dia menjawab : “Ya”. Maka Rasulullah saw berkata kepadanya, “Berjihadlah ” (dengan berbakti) pada keduanya.” (HR. Bukhori kitab Al-Adab dan muslim kitab Al-Birr wa ash-shilah).

Keutamaan Birru Al-Walidain adalah merupakan sifat para Nabi Alaihi salam . para Nabi selalu memiliki sifat (karakter) terpuji yakni mengutamakan, menghormati dan menaati kedua orang tua. Allah awt mengisahkan tentang Nabi Ibrahim Alaihi salam dalam Firman-Nya:

“Ibrahim berkata : “semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku”.  Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku (QS. Maryam : 47).

Juga pujian Allah subhanahuwata’ala kepada Nabi Isa alaihi salam,

“Dan berbakti kepada ibuku, dan dia tidak menjadikan Aku sebagai seorang yang sombong lagi celaka“ (Qs. Maryam : 32).

Keterangan-keterangan di atas itulah sirah dan sikap para Nabi alaihi salam kepada orang tua mereka dan jalan mereka itulah jalan yang benar, jalan yang Lurus (shirathal mustaqim) yang selalu kita minta dalam setiap shalat kita. Dan jalan inilah salah satu jalan untuk meraih surge. Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa berbuat baik kepadanya bukan berarti kita harus melaksanakan semua perintah (permintaan) mereka tanpa kecuali. Tetapi semua yang mereka perintahkan kepada kita yang tidak melanggar segala ketentuan-ketentuan Allah swt.

Firman Allah swt di dalam Al-Qur’an (Qs.Luqman : 15)

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya dengan baik, dan ikutlah jalan orang yang kembali kepada- Ku, kemudian hanya kepada-kulah kembalimu, maka kuberikan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (Qs. Luqman: 15).

Seperti kisah oleh Sa’ad bin waqqosh radiyallahu’anhu berkata:“Diturunkan ayat ini (Q.S Luqman: 15) berkaitan dengan masalahku. Dia berkata: “Aku adalah seorang yang berbakti kepada Ibuku, maka tatkala aku masuk Islam dia berkata: “Wahai Sa’ad! Apa yang aku lihat dengan apa yang baru darimu?” “Tinggalkan agama barumu itu kalau tidak, aku tidak akan makan dan minum sampai aku mati sehingga kamu dicela dengan sebab kematianku dan kau akan dipanggil dengan wahai pembunuh ibunya”. Maka aku katakana kepadanya, “Jangan kau lakukan wahai ibuku, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan agamaku ini untuk siapa saja.”. maka dia (ibu Sa’ad) diam, tidak makan selama sehari semalam, maka dia kelihatan sudah payah. Kemudian dia tidak makan sehari semalam lagi, maka kelihatan semakin payah. Maka tatkala aku melihatnya aku berkata kepadanya, “Hendalah kau tahu wahai iubuku, seandainya kau memiliki seratus nyawa, dan nya itu melayang satu demi satu, maka tidak akan aku tinggalkan agama ini karena apapun juga, maka kalau kau mau makan, makanlah, kalau tidak maka jangan makan”. Lantas diapun makan.” (Tafsi Ibnu Katsir).

Allah subhanahu wata’ala menyediakan balasan/pahala yang besar bagi siapa yang taat pada orang tuanyaRosulullah SAW bersabda, artinya; “Ridho Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua” (HR Tirmidzi kitab Al-Birr wa ash-Shilah, dishahihkan oleh al-Albany). Dan Ibnu Mas’ud radiyallahu’anhu berkata, “Aku bertanya kepada Rosulullah SAW “Apakah perbuatan yang paling utamaa?” Rosulullah SAW menjawab, “Iman kepada Allah dan Rosul-Nya”. “Kemudian apa lagi?” Rosulullah ASW menjawab, “Berbuat baik kepada Orang tua”. “Kemudian apa lagi?” Rosulullah SAW menjawab “Berjuang di jalan Allah”. (Hadits Riwayat Bukhari kitab Al-Hajj dan Muslim bab Bayan Kaunil Iman billah min afdhailil a’mal).

Ada beberapa keutamaan Birru Al-Walidainyang perlu diketahui;

  1. Termasuk amalan yang paling Mulia
  2. Merupakan salah satu sebab-sebab di ampuninya dosa
  3. Termasuk sebab masuknya seseorang ke Surga
  4. Merupakan sebab keridhoan Allah
  5. Merupakan sebab bertambahnya umur
  6. Merupakan sebab barokahnya Rizki

Sudah sepantasnya kita memenuhi kewajiban-kewajiban kita, kewajiban kepada orang tua kita terutama. Ada beberapa kewajiban kita terhadap orang tua kita, diantaranya:

  • Berbuat baik kepada keduanya baik dengan perkataan ataupun dengan perbuatan.Allah SWT berfirman:

“Maka janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (Q.S.al-Isra:23).

  • Rendah hati terhadap keduanya.Allah SWT berfirman;

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan” (QS. al-Isra:24).

  • Mendo’akan keduanya baik semasa hidup ataupun setelah meninggalnya. Allah SWT berfirman, artinya: “Dan ucapkanlah, wahai Tuhanku kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.
  • Dan Rosulullah SAW bersabda, “Apabila anak Adam mati maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga perkara: shodaqoh jariyah atau ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang mendoakannya”. (HR Muslim kitab al-washiyyah).
  • Mentaati keduanya dalam kebaikan. Allah SWT berfirman:

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulillah keduanya dengan baik”. (Q.S Luqman : 15).

  • Memintakan ampun bagi keduanya sesudah meninggal, yaitu apabila meninggal dalam keadaan Islam. Allah SWT berfirman:

“Ya Tuhan kami beri ampunanlah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang-orang yang mu’min pada hari terjadinya hisab/kiamat”. (Q.SIbrohim: 41).

  • Melunasi hutang-hutangnyadanmelaksanakan wasiatnya, selama wasiatnya itu tidak bertentangan dengan syari’at.
  • Menyambung tali kekerabatan mereka berdua, seperti paman dan bibi dari kedua belah pihak, atau kakek dan nenek dari kedua belah pihak juga.
  • Memuliakan teman-teman mereka berdua. Di contohkan oleh Rosulullah SAW beliau memuliakan temen-teman istrinyatercinta Siti Khodijah radhiyallahu’an ha, maka kita muliakan pula teman-temannya,di karenakan kita da penghormatan kepada kedua orang tua kita.

B. Hukum Birru Al-Walidain

Para ulama Islam sepakat bahwa hukum berbuat baik (berbakti) pada kedua orang tua hukumnya adalah wajib.Namun sering kita temukan seorang anak berselisih sengan para orang tua atau sebaliknya, itulah kondisi real di masyarakat, mereka selalu berselisih dalam realitasnya dengan orang tuaBerkata Ibnu Hazm, mudah-mudahan Allah merahmatinya: “Birru Al-Walidain adalah fardhu(wajib bagi masing-masing individu). Mendudukan orang tua sebagai sosok yang ditaati dan dihormati adalah sikap yang benar.

Dalil-dalil Shahih dan Sharih (jelas) yang mereka gunakan banyak sekali , diantaranya:
1. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala

“Beribadahlah kepada Allah, dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa… (Q.S An-Nisa:36).

Dalam ayat ini (berbuat baik kepada Ibu Bapak) merupakan perintah, dan perintah disini menunjukkan kewajiban, khususnya, karena terletak setelah perintah untuk beribadah dan meng-Esa-kan (tidak mempersekutukan) Allah, serta tidak didapatinya perubahan (kalimat dalam ayat tersebut) dari perintah ini. (Al Adaabusy Syar’iyyah 1/434).

  1. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”. (QS. Al Isra: 23).

Adapun makna (qadhoo) = Berkata Ibnu Katsir : yakni, mewasiatkan. Berkata Al Qurthubiy: yakni, memerintahkan, menetapkan dan mewajibkan. Berkata Asy Syaukaniy: “Allah memerintahkan untuk berbuat baik pada kedua orang tua seiring dengan perintah untuk mentauhidkan dan beribadah kepada-Nya, ini pemberitahuan tentang betapa besar haq mereka berdua, sedangkan membantu urusan-urusan (pekerjaan) mereka, maka ini adalah perkara yang tidak bersembunyi lagi (perintahnya). (Fathul Qodiir 3/218).

  1. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (QS. Luqman: 14).

Berkata Ibnu Abbas mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua “Tiga ayat dalam Al Qur’an yang saling berkaitan dimana tidak diterima salah satu tanpa yang lainnya, kemudian Allah menyebutkan diantaranya firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya) :“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang Ibu Bapakmu”, Berkata beliau. “Maka, barangsiapa yang bersyukur kepada Allah akan tetapi dia tidak bersyukur pada kedua Ibu Bapaknya, tidak akan diterima (rasa syukurnya) dengan sebab itu.”(Al Kabaair milik Imam Adz Dzahabi hal 40).

Berkaitan dengan ini, Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wassallam bersabda

“Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan orang tua”. (Riwayat Tirmidzi dalam Jami’nya (1/ 346), Hadits ini Shohih, lihat Silsilah Al Hadits Ash Shahiihah No. 516).

  1. Hadits Al Mughirah bin Syu’bah – mudah-mudahan Allah meridhainya, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam beliau bersabda (artinya):”Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian mendurhakai para Ibu, mengubur hidup-hidup anak perempuan, dan tidak mau memberi tetapi meminta-minta (bakhil) dan Allah membenci atas kalian (mengatakan) katanya si fulan begini si fulan berkata begitu (tanpa diteliti terlebih dahulu), banyak bertanya (yang tidak bermanfaat), dan membuang-buang harta”.  (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1757).

Betapa banyak keterangan al qura’an dan hadis yang menjelaskan kepada kita akan perlunya menghormati kedua orang tua dan kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua kita, bahkan memperlakukan teman dari pada orang tua kita wajib kita hormati layaknya orang tua sendiri, dan dalam hal ini banyak yang tidak tahu dan bahkan yang tahupun banyak yang melanggar! Apa penyebabnya? Ini disebabkan orang berilmu begitu banyak dan melimpah, namun orang yang mengamalkan itu ilmu itu sendiri sangat kering, tidak adanya aplikasian dari Ilmu yang telah mereka dapatkan, ibarat hisapan jempol saja alias zero.

Kedua orang tua adalah manusia yang paling berjasa dan utama bagi diri seseorang. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan dalam berbagai tempat di dalam Al-Qur’an agar berbakti kepada kedua orang tua. Allah menyebutkannya berbarengan dengan pentauhidan-Nya Azza wa Jalla dan memerintahkan para hamba-Nya untuk melaksanakannya sebagaimana akan disebutkan kemudian.

Hak kedua orang tua merupakan hak terbesar yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim. Di sini akan dicantumkan beberapa adab yang berkaitan dengan masalah ini. Antara lain hak yang wajib dilakukan semasa kedua orang tua hidup dan setelah meninggal. Dengan pertolongan Allah saya akan sebutkan beberapa adab tersebut, Adab kepada orang tua terbagi menjadi dua antara lain:

  1. Hak-hak yang wajib dilaksanakan semasa orang tua masih hidup
  2. Hak-hak orang tua setelah mereka meninggal dunia.

a. Hak-hak yang wajib dilaksanakan semasa orang tua masih hidup

Beberapa hak orang tua ketika orang tua kita masih hidup adalah:

  • Mentaati Mereka Selama Tidak Mendurhakai Allah
    Mentaati kedua orang tua hukumnya wajib atas setiap Muslim. Haram hukumnya mendurhakai keduanya. Tidak diperbolehkan sedikit pun mendurhakai mereka berdua kecuali apabila mereka menyuruh untuk menyekutukan Allah atau mendurhakai-Nya.
    Allah Subhanahu wa TA’ala berfirman:

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya…” (QS. Luqman: 15)

Tidak boleh mentaati makhluk untuk mendurhakai Allah, Penciptanya, sebagaimana sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Tidak ada ketaatan untuk mendurhakai Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam melakukan kebaikan.” (HR. Bukhari no. 4340, 7145, 7257, dan Muslim no. 1840, dari Ali radhiyallahu ‘anhu).

Adapun jika bukan dalam perkara yang mendurhakai Allah, wajib mentaati kedua orang tua selamanya dan ini termasuk perkara yang paling diwajibkan. Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh mendurhakai apa saja yang diperintahkan oleh kedua orang tua.

  • Berbakti dan Merendahkan Diri di Hadapan Kedua Orang Tua

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tua ibu bapaknya…” (QS. Al-Ahqaaf: 15).

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tua ibu bapak…” (QS. An-Nisaa’: 36)

Perintah berbuat baik ini lebih ditegaskan jika usia kedua orang tua semakin tua dan lanjut hingga kondisi mereka melemah dan sangat membutuhkan bantuan dan perhatian dari anaknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kami jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai, Rabb-ku, kasihilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.'” (QS. Al-Israa’: 23-24)

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Artinya: “Sungguh merugi, sungguh merugi, dan sungguh merugi orang yang mendapatkan kedua orang tuanya yang sudah renta atau salah seorang dari mereka kemudian hal itu tidak dapat memasukkannya ke dalam Surga.” (HR. Muslim no. 2551, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Di antara bakti terhadap kedua orang tua adalah menjauhkan ucapan dan perbuatan yang dapat menyakiti kedua orang tua, walaupun dengan isyarat atau dengan ucapan ‘ah’. Termasuk berbakti kepada keduanya ialah senantiasa membuat mereka ridha dengan melakukan apa yang mereka inginkan, selama hal itu tidak mendurhakai Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana yang telah disebutkan.

  • Merendahkan Diri Di Hadapan Keduanya

Tidak boleh mengeraskan suara melebihi suara kedua orang tua atau di hadapan mereka berdua. Tidak boleh juga berjalan di depan mereka, masuk dan keluar mendahului mereka, atau mendahului urusan mereka berdua. Rendahkanlah diri di hadapan mereka berdua dengan cara mendahulukan segala urusan mereka, membentangkan dipan untuk mereka, mempersilakan mereka duduk di tempat yang empuk, menyodorkan bantal, janganlah mendului makan dan minum, dan lain sebagainya.

  • Berbicara Dengan Lembut Di Hadapan Mereka
    Berbicara dengan lembut merupakan kesempurnaan bakti kepada kedua orang tua dan merendahkan diri di hadapan mereka, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“…Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Israa’: 23).

Oleh karena itu, berbicaralah kepada mereka berdua dengan ucapan yang lemah lembut dan baik serta dengan lafazh yang bagus.

  • Menyediakan Makanan Untuk Mereka

Menyediakan makanan juga termasuk bakti kepada kedua orang tua, terutama jika ia memberi mereka makan dari hasil jerih payah sendiri. Jadi, sepantasnya disediakan untuk mereka makanan dan minuman terbaik dan lebih mendahulukan mereka berdua daripada dirinya, anaknya, dan istrinya.

  • Meminta Izin Kepada Mereka Sebelum Berjihad dan Pergi Untuk Urusan Lainnya

Izin kepada orang tua diperlukan untuk jihad yang belum ditentukan. Seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya: “Ya, Raslullah, apakah aku boleh ikut berjihad?” Beliau balik bertanya: “Apakah kamu masih mempunyai kedua orang tua?” Laki-laki itu menjawab: “Masih.” Beliau bersabda: “Berjihadlah (dengan cara berbakti) kepada keduanya.” (HR. Bukhari no. 3004, 5972, dan Muslim no. 2549, dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu).

Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Aku datang membai’atmu untuk hijrah dan tinggalkan kedua orang tuaku menangisi (kepergianku). Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pulanglah dan buatlah mereka tertawa sebagaimana kamu telah membuat mereka menangis.” (HR. Abu Dawud no. 2528, an-Nasa-i, VII/143, Ibnu Majah no. 2782, dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu. Lihat kitab Shahiih Abi Dawud no. 2205).

Seorang laki-laki hijrah dari negeri Yaman lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya: “Apakah kamu masih mempunyai kerabat di Yaman?” Laki-laki itu menjawab: “Masih, yaitu kedua orang tuaku.” Beliau kembali bertanya: “Apakah mereka berdua mengizinkanmu?” Laki-laki itu menjawab: “Tidak.” Lantas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kembalilah kamu kepada mereka dan mintalah izin dari mereka. Jika mereka mengizinkan, maka kamu boleh ikut berjihad, namun jika tidak, maka berbaktilah kepada keduanya.” (HR. Ahmad, III/76; Abu Dawud no. 2530; al-Hakim, II/103, 103, dan ia menshahihkannya serta disetujui oleh Adz-Dzahabi dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu. Lihat kitab Shahihh Abu Dawud no. 2207).

Seorang laki-laki berkata kepada beliau: “Aku membai’at anda untuk berhijrah dan berjihad semata-mata hanya mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau bersabda kepada laki-laki tersebut: “Apakah salah satu kedua orang tuamu masih hidup?” Laki-laki itu menjawab: “Masih, bahkan keduanya masih hidup.” Beliau kembali bersabda: “Apakah kamu ingin mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Laki-laki itu menjawab: “Ya.” Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kembalilah kamu kepada kedua orang tuamu dan berbaktilah kepada keduanya.” (HR. Muslim no. 2549, dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu)

  • Memberikan Harta Kepada Orang Tua Menurut Jumlah Yang mereka Inginkan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada seorang laki-laki ketika ia berkata: “Ayahku ingin mengambil hartaku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kamu dan hartamu milik ayahmu.” (HR. Ahmad, II/204, Abu Dawud no. 3530, dan Ibnu Majah no. 2292, dari Ibnu ‘AMr radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini tertera dalam kitab Shahiihul Jaami no. 1486).

Oleh sebab itu, hendaknya seseorang jangan bersikap bakhil (kikir) terhadap orang yang menyebabkan keberadaan dirinya, memeliharanya ketika kecil dan lemah, serta telah berbuat baik kepadanya.

  • Membuat Keduanya Ridha Dengan Berbuat Baik Kepada Orang-orang yang Dicintai Mereka

Hendaknya seseorang membuat kedua orang tua ridha dengan berbuat baik kepada para saudara, karib kerabat, teman-teman, dan selain mereka. Yakni, dengan memuliakan mereka, menyambung tali silaturrahim dengan mereka, menunaikan janji-janji (orang tua) kepada mereka. Akan disebutkan nanti beberapa hadits yang berkaitan dengan masalah ini.

  • Memenuhi Sumpah Kedua Orang Tua

Apabila kedua orang tua bersumpah kepada anaknya untuk suatu perkara tertentu yang di dalamnya tidak terdapat perbuatan maksiat, maka wajib bagi seorang anak untuk memenuhi sumpah keduanya karena itu termasuk hak mereka.

  • Tidak Mencela Orang Tua atau Tidak Menyebabkan Mereka Dicela Orang Lain

Mencela orang tua dan menyebabkan mereka dicela orang lain termasuk salah satu dosa besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Artinya: “Termasuk dosa besar adalah seseorang mencela orang tuanya.” Para Sahabat bertanya: “Ya, Rasulullah, apa ada orang yang mencela orang tuanya?” Beliau menjawab: “Ada. Ia mencela ayah orang lain kemudian orang itu membalas mencela orang tuanya. Ia mencela ibu orang lain lalu orang itu membalas mencela ibunya.” (HR. Bukhari no. 5973 dan Muslim no. 90, dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu).

Perbuatan ini merupakan perbuatan dosa yang paling buruk.

Orang-orang sering bergurau dan bercanda dengan melakukan perbuatan yang sangat tercela ini. Biasanya perbuatan ini muncul dari orang-orang rendahan dan hina. Perbuatan seperti ini termasuk dosa besar sebagaimana yang telah disebutkan.

  • Mendahulukan Berbakti Kepada Ibu Daripada Ayah

Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Laki-laki itu bertanya lagi: “Kemudian siapa lagi?” Beliau kembali menjawab: “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya: “Lalu siapa lagi?” Beliau kembali menjawab: “Ibumu.” Lalu siapa lagi?”tanyanya. “Ayahmu,” jawab beliau.” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548).

Hadits di atas tidak bermaksud lebih mentaati ibu daripada ayah. Sebab, mentaati ayah lebih didahulukan jika keduanya menyuruh pada waktu yang sama dan dibolehkan dalam syari’at. Alasannya, ibu sendiri diwajibkan untuk taat pada suaminya, yaitu ayah anaknya. Hanya saja, jika salah seorang dari mereka menyuruh berbuat taat dan yang lain menyuruh berbuat maksiat, maka wajib untuk mentaati yang pertama.

Maksud lebih mendahulukan berbuat baik kepada ibu, yaitu lebih bersikap lemah-lembut, lebih berperilaku baik, dan memberikan sikap yang lebih halus daripada ayah. Hal ini apabila keduanya berada di atas kebenaran.

Sebagian salaf berkata: “Hak ayah lebih besar dan hak ibu patut untuk dipenuhi.”

Demikian penjelasan umum hak-hak orang tua semasa mereka masih hidup.

b. Hak-hak orang tua setelah mereka meninnggal dunia

Di antara hak orang tua setelah mereka meninggal adalah:

  • Menshalati Keduanya

Maksud menshalati di sini adalah mendo’akan keduanya. Yakni, setelah keduanya meninggal dunia, karena ini termasuk bakti kepada mereka. Oleh karena itu, seorang anak hendaknya lebih sering mendo’akan kedua orang tuanya setelah mereka meninggal daripada ketika masih hidup. Apabila anak itu mendo’akan keduanya, niscaya kebaikan mereka berdua akan semakin bertambah, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Artinya: “Apabila manusia sudah meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo’akan dirinya.” (HR. Muslim no. 1631 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

  • Beristighfar Untuk Mereka Berdua

Orang tua adalah orang yang paling utama bagi seorang Muslim untuk dido’akan agar Allah mengampuni mereka karena kebaikan mereka karena kebaikan mereka yang besar. Allah Subhanahu wa TA’ala menceritakan kisah Ibrahim Alaihissalam dalam Al-Qur’an:

Artinya: “Ya, Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku…” (QS. Ibrahim: 41).

  • Menunaikan Janji Kedua Orang Tua

Hendaknya seseorang menunaikan wasiat kedua orang tua dan melanjutkan secara berkesinambungan amalan-amalan kebaikan yang dahulu pernah dilakukan keduanya. Sebab, pahala akan terus mengalir kepada mereka berdua apabila amalan kebaikan yang dulu pernah dilakukan dilanjutkan oleh anak mereka.

  • Memuliakan Teman Kedua Orang Tua

Memuliakan teman kedua orang tua juga termasuk berbuat baik pada orang tua, sebagaimana yang telah disebutkan. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berpapasan dengan seorang Arab Badui di jalan menuju Makkah. Kemudian, Ibnu Umar mengucapkan salam kepadanya dan mempersilakannya naik ke atas keledai yang ia tunggangi. Selanjutnya, ia juga memberikan sorbannya yang ia pakai. Ibnu Dinar berkata: “Semoga Allah memuliakanmu. Mereka itu orang Arab Badui dan mereka sudah biasa berjalan.” Ibnu Umar berkata: “Sungguh dulu ayahnya teman Umar bin al-Khaththab dan aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya bakti anak yang terbaik ialah seorang anak yang menyambung tali persahabatan dengan keluarga teman ayahnya setelah ayahnya tersebut meninggal.” (HR. Muslin no. 2552 dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu).

  • Menyambung Tali Silaturahim Dengan Kerabat Ibu dan Ayah

Hendaknya seseorang menyambung tali silaturahim dengan semua kerabat yang silsilah keturunannya bersambung dengan ayah dan ibu, seperti paman dari pihak ayah dan ibu, bibi dari pihak ayah dan ibu, kakek, nenek, dan anak-anak mereka semua. Bagi yang melakukannya, berarti ia telah menyambung tali silaturahim kedua orang tuanya dan telah berbakti kepada mereka. Hal ini berdasarkan hadits yang telah disebutkan dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:”Barang siapa ingin menyambung silaturahim ayahnya yang ada di kuburannya, maka sambunglah tali silaturahim dengan saudara-saudara ayahnya setelah ia meninggal.” (HR. Ibnu Hibban no. 433 dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini tertera dalam kitab Shahiihul Jaami’no.5960).

Demikianlah akhir dari adab berbakti kepada kedua orang tua yang telah dimudahkan Allah kepadakami, tidak ada kemudahan selain bantuan dan pertolongan Allah SWT, dan akhirnya kami ucapkan: “Walhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin”.

Referensi tambahan: Shahiih Muslim (IV/1974) dan halaman setelahnya, Fathul Baari (X/414) dan halaman setelahnya, al-Ihsan bi Tattiibi Shahiih Ibni Hibban (I/315) dan halaman setelahnya, al-Aadaab karya al-Baihaqi (hlm.5) dan halaman setelahnya, al-Aadaab asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih (I/433) dan halaman setelahnya, Ihyaa’ Uluumuddin karya al-Ghazali (II/216) dan halaman setelahnya, Birrul Waalidain karya ath-Thurthusi, dan lain-lain.

Dikutip langsung dari Ensiklopedi Adab Islam Menurut AL-Qur’an dan As-Sunnah, Jilid I,karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada, terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi’i, cetakan pertama Agustus 2007, hlm. 171-179).

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.