Perangi Erdogan, Mossad Lancarkan Operasi Senyap ke Negeri-Negeri Islam untuk Musuhi Turki

0
237

beritalangitan.com – Direktur Badan Intelijen Israel (Mossad), Yossi Cohen, menganggap Iran bukan ancaman, namun Turki yang sejatinya merupakan ancaman eksistensi Zionis-Israel. Dia sungguh menyadari besarnya ancaman Turki. Menurut laporan The Times of Israel, Cohen berpandangan jika pergerakan Turki jauh lebih berbahaya dan mengancam ketimbang negara syiah Iran yang dikatakannya rapuh.

Pernyataan Cohen diungkap Roger Boyes, jurnalis asal Inggris, Roger Boyes. Boyes mengungkap kalimat yang diucapkan Cohen mengenai Turki, dalam tulisannya di Sunday Times.

“Kekuatan Iran rapuh. Tetapi, ancaman sebenarnya adalah dari Turki,” Boyes melaporkan ucapan Cohen kepada pejabat tinggi Mesir, UEA, dan Arab Saudi, bunyi pernyataan Cohen dalam laporan Boyes.

Laporan lain yang diperoleh dari media Yunani, Pentapostagma, mengatakan jika Erdogan dinilai punya ambisi untuk menunjukkan diri sebagai pemimpin baru umat Islam dunia. Untuk menarik dukungan sejumlah negara Islam, Erdogan jelas harus membuktikan kelayakannya sebagai pemimpin Dunia Islam, dan caranya adalah dengan membebaskan kiblat pertama umat Islam yakni Masjid Al Quds atau Al Aqsha di Yerusalem.

Erdogan pun diduga kuat tengah mengincar Masjid Al-Aqsa, salah satu tempat suci umat Islam sebagai sasaran. Bukan untuk dihancurkan, melainkan direbut dari cengkeraman tangan kotor Zionis-Israel. Masjid Al-Aqsa yang terletak di Jerussalem, sampai sekarang masih berada di bawah hegemoni penjajah Israel.

Ambisi Erdogan dan Turki tampak berkaitan dengan apa yang diutarakan oleh Cohen. Oleh sebab itu, Mossad di bawah komando Cohen melancarkan operasi senyap menyasar negara-negara Islam. Apa yang dilakukan Mossad sepertinya untuk membuat negara Islam lain semisal Uni Emirat Arab (UEA), Mesir dan Arab Saudi, justru menentang Turki.

Andai Erdogan mampu merebut kendali Masjid Al-Aqsa dari tangan Zionis-Israel, maka negara Zionis itu dipastikan sudah dalam kondisi kalah.



Salah satu buktinya adalah ‘perdamaian’ antara penjajah Israel dengan Uni Emirat Arab, yang disambut hangat oleh Amerika Serikat (AS). Saat militer Turki tengah berada dalam ketegangan dengan Yunani di Laut Mediterania, UEA ikut mengirimkan armada tempur berupa jet F-16 Fighting Falcon ke wilayah tersebut.

Bukan untuk mendukung, tapi sebagai lawan Turki. UEA bahkan berada satu kubu dengan Prancis yang lebih dulu mengerahkan armada perangnya, guna melawan militer Turki.

UEA juga menentang niat Turki untuk melakukan gencatan senjata di Libya. Turki yang terlibat dalam Perang Saudara Libya satu suara dengan Pemerintah Kesepakatan Nasional Libya (GNA) dan Qatar, untuk melakukan gencatan senjata dengan Tentara Nasional Libya (LNA).

Sayangnya, UEA justru malah berseberangan dengan Turki. UEA dan Mesir yang mendukung LNA di bawah komando Khalifa Haftar, tidak menyepakati gencatan senjata dan akan terus berdiri di belakang kelompok pemberontak. (*era)

Sumber : eramuslim.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.