Pondok Pesantren An-Nasr, Tarogong Garut “Pada saatnya akan kembali ke Salafi”

0
4622
Kyai Ajang Solahudin

Garut, (beritalangitan.com) – Di kaki sebuah pegunungan di kawasan garut, tepatnya di Kampung Suniasari Rt 02/04 desa Mekarjaya kecamatan Tarogong Kaler Garut dengan pemandangan alam yang sangat asri terletak sebuah lembaga pendidikan swasta yang cukup besar, dari taman kanak-kanak, diniyah, tsanawaiyah, hingga Aliyah ada disini, namanya yayasan pendidikan  An-Nasr  sekilas tampak seperti sebuah sekolah formal biasa, namun setelah di telusuri ternyata disini sekarang menyediakan juga pondok pesantren salafi, lengkap dengan kurikulum salafi ala Miftahul Huda Manonjaya.

Areal komplek pendidikan milik pribadi ini dipimpin oleh seorang Kyai muda yang cukup enerjik yaitu Kyai Ajang  Solahudin berdiri pada tahun 1969 oleh kakeknya yaitu KH. Aceng Toha berupa madrasah diniyah saja, tetapi saat KH. Aceng Toha wafat pada tahun 1980 madrasah ini sempat vakum dan terlantar, Kyai  Ajang Solahudin saat itu masih kecil dan sedang menuntut Ilmu di Miftahul Huda Manonjaya, baru 1999 setelah selesai menuntut ilmu Kyai Ajang Solahudin pulang.

Awalnya yang akan di dirikan oleh dirinya adalah pesatren salafiyah, namun kondisi masyarakat disana  notabene kurang mendukung terhadap keberadaan pesantren, sehingga sang Kyai mengurungkan niatnya dan akan membuka sekolah boarding School, namun itu pun ternyata ditolak masyarakat sehingga akhirnya dirinya memutuskan untuk membuka seolah biasa saja dari taman kanak-kanak, Diniyah, Tsanawiyah, dan Aliyah.

Saat ditemui team beritalangitan.com sang Kyai menuturkan bahwa mesyarakat disana sebenarnya masyarakat pluralis biasa dan tidak memiliki kecenderungan terhadap aliran, mazhab ataupun partai, namun minat akan pendidikan terutama kepesantrenan sangat kurang, sebab dulu di kawasan ini terdapat sebuah pesantren yang bernama Mukhtarul Huda yang diimpin oleh Kyai Falahudin alm, namun setelah wafat pesantren tersebut tutup dan tak ada yang meneruskan hingga saat ini, itulah mungkin yang membuat masyarakat kurang respon terhadap pesantren di kawasan ini tuturnya.

Kegiatan murid pagi hari di mesjid sekolah An-nasr
 Kegiatan murid pagi hari di mesjid sekolah An-nasr

“Saya hanya berusaha mengikuti kemauan masyarakat saja dulu, sebenarnya saya ingin nya membuat pesantren salafi, tetapi alhamdulilah seiring berjalannya waktu, saat ini mulai banyak siswa yang menginginkan sekolah sambil mondok, jadi saya sediakan saja pondok dan tahun lalu mulai resmi membuka pesantren bagi siswa yang menginginkan sekolah sambil mondok, sebenarnya saya sadar betul bahwa membuat sekolah hanya akan melahirkan alumni saja, dan tidak bisa mencetak kader Kyai dan melanjutkan estafeta risalah kepesantrenan, namun itu memerlukan waktu dan keluwesan dalam menyesuaikan diri dengan kondisi masyarakatnya.

Pada saatnya jika sekolahnya sudah mapan dan bisa dilanjutkan dengan tenaga pengajar yang ada saya akan focus kepada pesantren saja dan baik kurikulum atau managemen nya pun akan terpisah dengan sekolah, pungkasnya.

Memang jika jika saat ini dunia pesantren ramai-ramai eksodus ke dunia pendidikan formal, lalu siapa yang akan mencetak para Kyai, karena para kyai lah yang akan mencetak manusia yang berkarakter sholeh dan mampu memimpin masyarakatnya tanpa pamrih, dan jika masyarakat sudah tidak lagi berkarakter baik apalagi sholeh, lantas mau jadi apa negeri  ini.    (Team beritalangitan.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.