Pondok Pesantren Miftahul Hasanah Sukasari Sumedang Miniatur kejayaan Dinasty Salafiyah

0
5642
Dewan pengurus pondok pesantren Miftahul Hasanah Sumedang

Sumedang (beritalangitan.com) – Dari sekian banyak alumni Miftahul Huda Manojaya yang sudah mengakar ke berbagai daerah di pulau Jawa dan sekitarnya, salah satu pondok pesantren yang masih istiqamah dan tetap tegar dengan prinsip salafiyahnya adalah Pondok pesantren Miftahul Hasanah, pesantren militan yang luar biasa ini persisnya berada di Jalan genteng no 7 desa sukarapih kecamatan sukasari, santri salafi 200, santri khalaf 67, tanfidz 17 org, Diniyah 300 org.

Dengan santri sebanyak itu pesantren ini tidak bisa dikatakan pesantren kecil, jika diukur dengan eksistensi yang ada sekarang ini. selanjutnya dalam melayani masyarakat akan kebutuhan pendidikan bagi pesantren ini  merupakan tuntutan yang  tidak bisa dinafikan begitu saja, meski saat ini Miftahul Hasanah tetap istiqamah dengan pesaantren salafiahnya, hal ini dapat dibuktikan bahwa saat ini masih tetap melayani santri yang mondok sambil sekolah, meski tidak banyak dan sisanya tetap mengikuti kegiatan pondok salafiyah seusai bersekolah umum.

Saat beritalangitan.com berkunjung ke pesantren ini suasana kental sebuah peradaban salafiyah sangat terasa, dimana santri-santri berbusana sarung dan peci, dan santri perempuan nya yang berjilbab rapi sedang belajar mengaji kendati saat itu masih cukup pagi, udara yang sejuk sawah dan gunung dan suasana pedesaan yang asri menjadi pelengkapnya, suasana tersebut rasanya benar-benar  seperti kembali ke zaman abad kejayaan santri salafiyah.

Apalagi pesantren yang dikelola keluarga besar KH. AM Rahmat dan Hj Siti Nuroniah ini didirikan langsung oleh Uwa Ajengan Khoer Affandi, dan hampir seluruh pengelola nya yang merupakan anak keturunan KH. AM Rahmat, dan rata-rata adalah lulusan Miftahul Huda, jadi tak heran jika pesantren ini seperti bagian dari Dinasty Salafiyah Miftahul Huda.

Team diterima oleh dewan Kyai yang terdiri dari KH. Asep Sofyan R, KM. Irfan Amrillah, KM. Dede Khoirul Falah, KM. Abdul Aziz Misbah, dan KM, Shofwan wahyudin yang merupakan Murabi-Murabi MIftahul Huda yang mengabdikan diri sepenuhnya mempertahankan nilai-nilai salafiyah pesantren ini sesuai dengan maksud didirikannya pesantren ini, bahkan beberapa diantaranya sudah terikat secara nasab dengan keluarga besar Miftahul Huda sehingga semakin memperkuat keterikatan pesantren ini dengan pesantren raksasa dari Manonjaya tersebut.

Kami disini menganut Triprogram yang diusung Miftahul Huda yaitu target yang di tujunya adalah Mutaqin, imamul Mutaqin, dan Ulama’ul amilin, yaitu mencetak manusia bertaqwa, pemimpin yang bertaqwa, dan Ulama yang mengamalkan Ilmunya, jadi meskipun santri itu kelak tak jadi ulama, paling tidak bisa jadi manusia bertaqwa atau pemimpin yang bertaqwa atau syukur jika benar-benar jadi Ulama yang mengamalkan ilmunya, bagi kami apa yang di gariskan oleh Miftahul Huda adalah program kami juga, “Sami’na Waato’na, Sa bubukna rek nuturkeun kumaha Miftahul Huda” (siap mentaati apapun program miftahul huda walaupun harus hancur lebur.Red) itulah ketulusan sikap yang tergambarkan kata-kata monumental yang diungkapkan kyai Dede Khoirul Falah kepada team beritalangitan.com.

Sungguh luar biasa semangat tempur yang terpancar dari Kyai-Kyai muda ini, sungguh merupakan jiwa-jiwa yang siap dengan pengabdian kepada Agama dengan seluruh jiwa raga, sebuah semangat yang seharusnya ditiru oleh Kyai-Kyai dimana saja berada, semangat mengabdikan diri demi Agamanya, semangat memelihara kesalafian demi keberlangsungan kaderisasi para calon Kyai adalah sebuah harta karun yang saat ini teramat langka.

Komplek pesantren Miftahul Hasanah
           Komplek pesantren Miftahul Hasanah

Satu-satunya hal yang mengganjal di pesantren ini adalah bahwa belum ada bangunan masjid yang spesifik di komplek pesantren ini, jika shalat berjamaah dilakukan di aula serbaguna dan jika shalat jum’at bergabung dengan masjid warga di sekitar, rupanya perjuangan para Kyai ini sedang focus kepada pembangunan beberapa ruangan kobong, meski sudah tersedia lahan seluas 20×25 M² namun membangun sebuah masjid rupanya harus ditunda demi kebutuhan yang lebih vital yaitu asrama yang sudah tidak memadai, pantas saja seperti itu karena bagi para Muraby Militan ini hampir berpantang jika harus mengemis kepada pemerintah, seperti selama ini pun seluruh bangunan pesantren salafi ini tidak pernah mendapat bantuan pemerintah.   (team beritalangitan.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.