Pondok Pesantren Nurul Huda Malangbong Garut “Dari dulu Pesantren itu mampu hidup tanpa ditopang Pihak manapun”

0
7912
KH. Tatang Mustafa kamal dan Hj. Siti Maryam

Pernah di iming-imingi  Milyaran Rupiah asal beralih haluan menjadi pesantren modern dan ditolaknya mentah-mentah, itulah Pondok Pesantren Nurul Huda yang tepatnya berada di kawasan Kampung Sakawayana Desa Sakawayana kecamatan Malangbong Garut, pesantren yang memiliki lebih dari dua ratus santriwan santriwati ini dipimpin oleh KH. Tatang Mustafa kamal bersama istrinya Hj. Siti Maryam.

Berdiri tahun 1992 dengan petunjuk langsung dari sang Guru yaitu Uwa Ajengan H. Khoer Afandi, yang menancapkan tongkatnya dan berkata “disini harus dibangun pesantren nya minggu depan” padahal saat itu tanah di sekitar itu masih milik warga sekitar, namun dengan waktu hanya satu minggu itu ternyata kata-kata Uwa ajengan ternyata menjadi kenyataan hingga sekarang pesantren Nurul Huda berdiri dan sudah melahirkan banyak alumni yang juga sudah membuka pesantren di berbagai daerah.

Meski tak jauh beda dengan pondok pesantren lainnya yang juga mengalami banyak masa-masa sulit dan juga terpaan bisikan dari berbagai pihak untuk beralih menjadi pesantren modern, namun KH. Tatang Mustafa Kamal tetap Istiqamah dengan kesalafiannya, meski juga membebaskan sepenuhnya bagi santrinya yang ingin bersekolah, bahkan menyediakan kendaraan khusus antar jemput bagi santri-santri yang bersekolah tersebut.

Tak hanya itu, dengan konsistensinya tersebut resiko termarjinalkan dan tak mendapat perhatian dari pemerintah pun dialami pesantren ini, namun sang Kyai tak sedkitpun bergeming untuk beralih haluan, karena Kyai Tatang berprinsip sejak zaman dulu kala, dari generasi ke generasi bahkan jauh sebelum pemerintahan NKRI ini ada, Pesantren

Mesjid PP. Nurul Huda
                     Mesjid PP. Nurul Huda

Itu mampu berdiri diatas kaki sendiri tanpa ditopang oleh pihak manapun, begitupun hari ini tanpa bergantung kepada bantuan pemerintah pesantren itu harus mampu berdiri sendiri, harus mampu mandiri dan tidak meminta, bahkan harus mampu memberi jika bisa.

Menurutnya Pesantren itu harus mampu tampil sebagai lembaga yang mumpuni, agar dipercayai dan diminati masyarakat, jika di dalam pendidikan formal lembaga yang melahirkan sarjana-sarjana adalah perguruan tinggi yang dipimpin seorang professor, begitupun pesantren adalah lembaga yang melahirkan Kyai-Kyai berarti adalah lembaga besar yang seharusnya setara dengan perguruan tinggi dan Kyainya pun setara dengan professor karena tugasnya adalah juga mencetak Kyai-Kyai baru.

Santri Putra PP. Nurul Huda
                 Santri Putra PP. Nurul Huda

Kyai Tatang Mustafa Kamal meyakini bahwa kondisi hari ini “dunia itu sudah miring” miring itu karena saat ini sudah tidak seimbang lagi antara faktor jasmani dan rohaninya, manusia sudah sangat cenderung kepada faktor duniawinya, jika ketidak seimbangan itu sudah mencapai batas maksimalnya maka karakteristik manusia akan cenderung rusak dan cenderung kepada sifat hewaninya, maka pada saat itulah pesantren dapat menjadi solusinya, karena di pesantren manusia itu dapat lebih mengenalkan manusia kepada jati dirinya dan hakikat eksistensinya.

Kyai dengan 5 orang anak ini juga berharap agar para Kyai di mana saja juga menganggap penting kaderisasi Kyai, dan kaderisasi Kyai itu hanya ada di pesantren salafiyah, maka dari itu keliru jika berfikir untuk mengganti jadi pendidikan formal, karena jika tercampur maka tidak akan melahirkan Kyai lagi, dan jika alasannya adalah untuk mengimbangi keadaan maka itu juga keliru, karena justru seharusnya  para Kyai adalah panutan bagi keadaan maka tidak perlu mengimbangi keadaan, tetapi para kyai lah yang harus tegak dengan peran dan fungsinya sebagai Mu’alim, Mu’adib, Muraby, dan Mujahid maka dengan itu tidak perlu lagi mengalah pada keadaan dan mengikuti system, tetapi konsep salafiyah itulah sebuah system, yaitu system kaderisasi yang sudah terbukti selama bertahun-tahun efektif dalam mencetak orang-orang shaleh.

Santri Putri PP. Nurul Huda
                   Santri Putri PP. Nurul Huda

Di samping itu Kyai yang aktif dalam berbagai elemen sosial kemasyarakatan ini juga berharap agar Kyai hari ini mampu tampil di hadapan Masyarakat tidak hanya sebagai pemimpin ritual seremonial belaka, tetapi Kyai juga harus mumpuni sebagai pemimpin dalam segala aspek, karena menurutnya tidak benar jika masih ada dikotomi sekuler yang memisahkan antara peran Kyai dan Umara, karena seperti sejarah mencatat sebelum NKRI ini berdiri peran Kyai di masyarakat adalah pemimpin dalam segala persoalan, bahkan dalam masa-masa perlawanan terhadap penjajah, peran Kyai tak pernah surut dalam memimpin masyarakat dan santrinya dalam aksi militer melawan penjajah.

Ini menjadi sebuah bukti bahwa peran Kyai ditengah masyarakat itu tak hanya sekedar pemimpin peribadatan ritual saja, tetapi Kyai adalah barometer kualitas sebuah tatanan ummat sebuah tolak ukur dalam kondisi social kemasyarakatan secara umum, jika baik tatanan sebuah masyarakat maka pasti baik peran Kyai dalam membinannya, sebaliknya jika rusak tatanan sebuah kondisi social, maka lemah lah pula pola pembinaannya.

Kyai Tatang Mustafa Kamal juga sedang mengembangkan sebuah pola pembinaan baru dalam membina ummat, dirinya kini sedang merintis sebuah program yang dinamainya Pesantren Rumahan, dimana didalamnya adalah sebuah upaya dakwah secara intensif dari rumah ke rumah, hal tersebut untuk lebih mengoptimalkan dakwah agar lebih menyentuh dan berupa sebuah pembinaan langsung ditengah masyarakat.

Sosok seperti inilah yang sangat dirindukan Ummat, Sangat  pantas untuk diteladani semua pihak, Inilah prototype Kyai yang tak hanya gigih dalam melakukan perlawanan terhadap kebodohan, mandiri secara kelembagaan, juga tegas dalam prinsip akan jati dirinya, dan tak mau kooperatif dengan system apapun jika itu bertentangan dengan nilai-nilai Syari’ah. (team beritalangitan.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.