Pondok Pesantren Nurul Ihsan Mangunreja Tasikmalaya dari Santri Cilik Hingga Dewasa

0
7557

Beritalangitan.com – Terletak sedikit tersembunyi dari keramaian kota Singaparna Tasikmalaya Pesantren Nurul Ihsan yang asri ini persisnya berada di kampung Cicangkudu Rt 06/07 desa Mangunreja Kecamatan Mangunreja Tasikmalaya, suasana pedesaan yang indah dengan suasana yang tenang, lingkungan yang bersih dan bangunan yang menarik membuat siapa saja bisa betah berlama-lama di tempat ini.

Didirikan pada tahun 1945 oleh perintisnya yaitu Raden Moh Sya’ban bin Majasri, di Sirnarasa Banten, kemudian dipindahkan ke lokasi ini masih berupa Padepokan Thoriqoh, kemudian pada tahun 1997 berkembang menjadi pondok pesantren kemudian ditambah pula dengan sekolah ibtidaiyah dan tsanawiyah dengan jumlah santrinya hingga kini sebanyak 350 orang.

Setelah KH. Moh Sya’ban bin Majasri wafat kepemimpinan dilanjutkan oleh  KH. Umar Bukaeri hingga saat ini, dan seluruh putera puterinya juga turut terlibat dalam mengelola seluruh kegiatan pesantren dan juga sekolah.

Yang menyita perhatian team beritalangitan.com adalah bahwa dipesantren ini juga terdapat santri-santri cilik berusia 4 sampai 7 tahun, santri-santri kodok ini berasal dari daerah jauh seperti Banten dan bahkan Palembang, anak-anak luar biasa yang sejak kecil sudah berani berpisah dari orangtua ini masuk dalam kelas I’dadul Ibtida, atau persiapan ibtida, bahkan ada yang sudah empat tahun berada disini sejak berumur empat tahun hingga kini usianya delapan tahun.

santri cilik

Saat team beritalangitan.com berkunjung disambut oleh putera-putera dan murid senior sang Kyai, Ust Cecep Rahmat Hidayat SE. MPd, Sansan Rahmat Sadeli SPdI. MPd, Isak Parid ST, dan Ahmad Suleman SAg, merupakan putera dan murid sang Kyai pengelola sekaligus tenaga pengajar dan Murabby disini, dan banyak lagi murid atau alumni disini yang kembali mengabdikan dirinya disini.

mesjid nurul ikhsan

Kami akan tetap menjaga kesalafan kami meskipun dengan membagi waktu dengan sekolah formal, karena kami sadar karakter salafiyah lah yang akan bisa membentuk karakter santri dan mudah-mudahan saja bisa menularinya menjadi para Kyai kelak untuk meneruskan membangun ummat, dan kami disini mengabdi dengan ikhlas, sehingga menjadi sebuah jargon Yaitu mengaji disini itu “Kitabna jangkungna Satangtung Lebarna sadepa” (tingginya seukuran tubuh dan lebarnya satu depa.Red) yang artinya ukurannya adalah diri sendiri dan yang dikajinya juga adalah dirinya sendiri. (team beritalangitan.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.