Pondok Pesantren Sirajul Huda Leles –Garut Perjuangan Sang Kyai Merombak Masyarakat Jahili

1
4723
KH. Muhtar Gojali

Garut, 6/5 (beritalangitan.com) – Terletak di kampung Pasar kidul, desa Barak kecamatan Leles Kab Garut, Pesantren Sirajul Huda bukanlah sebuah pesantren besar tetapi juga tidak bisa dikatakan kecil, santri yang mondok disini hanya berjumlah sekitar lima puluh orang saja, di tambah santri kalong dari masyarakat sekitar.  Pesantren ini memiliki tiga bangunan besar yaitu masjid, pondok putri yang berikut tempat tinggal sang kyai dan juga terdapat usaha depot isi ulang air mineral, lalu satu bangunan lagi adalah pondok putra berikut kelas-kelas di lantai bawah.

Dipimpin oleh KH. Muhtar Gojali dan Juga Ustd. Aam Sirajul Ulum dengan di bantu beberapa saudaranya, pesantren ini cukup sederhana dengan menggunakan tenaga pengajar dari keluarga sendiri dan tidak mengupah orang lain, namun di balik kesederhanaan tersebut  saat team beritalangitan.com berkunjung dan berdialog panjang lebar ternyata terdapat cerita sangat menarik yaitu kisah perjalanan pesantren tersebut sejak berdiri hingga saat ini.

Berdiri pada tahun 1988 KH. Muhtar Gojali dulunya tinggal di kawasan ujung beberapa kilo dari tempat sekarang, lalu kyai Muhtar di minta oleh kakanya yatu H Mustopa untuk pindah kelokasi sekarang dan membangun sebuah pesantren, meski awalnya ragu tetapi setelah berbicara dengan keluarga akhirnya sang kyai menerima dan hijrahlah ke tempat ini dengan membeli  rumah milik kakanya dengan cara menyicil.

Dulu di tempat ini hanya ada mushola kecil berukuran 2 x 3 m² dengan kondisi sangat memprihatinkan , kotor dan banyak barang di dalamnya, menunjukan bahwa mushola tersebut tidak pernah tersentuh apalagi di gunakan warga untuk beribadah. Kyai Muhtar mengatakan bahwa saat dirinya pindah kelokasi ini kultur masyarakat disini memang sangat kacau, selain gemar berjudi dengan menyabung ayam, mengadu domba, mengadu babi  dan lain sebagainya, juga terdapat semacam aliran kepercayaan yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang agung dan luhur.

Seperti contoh banyak orang yang mengklaim bahwa melakukan ibadah sholat cukup dengan niat saja tanpa melaksanakannya begitupun dengan ibadah lain seperti  shaum, zakat dan lain sebagainya, namun sang kyai tetap istiqomah dan tidak mundur menghadapi kondisi masyarakat seperti  itu, perlahan-lahan dengan penuh kesabaran dirinya sanggup sedikit demi sedikit dirinya sanggup merubah kebiasaan jahiliyah masyarakat sekitarnya.

Mesjid PP. Sirajul Huda
                    Mesjid PP. Sirajul Huda

Hingga saat ini mushola kecil yang kotor dan berdebu serta banyak barang-barang didalamnya telah berubah menjadi  masjid seluas 18 x 18 m²  berdiri dengan mustami yang penuh, meski  tentunya hal tersebut tidak di raih dengan cara yang mudah berbagai kesulitan di alaminya mulai dari omongan miring, fitnah hingga pernah satu ketika bak penampungan air untuk berwudhu di masjid di cemari orang dengan membuang kotoran, namun hal tersebut tidak membuat semangat sang kyai turun dirinya tetap istiqomah dan tetap melanjutkan perjuangan merubah tatanan masyarakat jahili tersebut menjadi masyarakat yang islami dan beradab.

Itulah sekelumit kisah perjalanan jihad seorang kyai  yang dengan gigih menyampaikan kebenaran ayat-ayat Allah hingga mampu menjadi rahmat bagi masyarakat sekitarnya. Inilah yang harus diteladani oleh pemuda-pemuda Islam saat ini, inilah prototype pejuang Islam yang tetap istiqomah menyampaikan ilmu yang dimilikinya hingga bermanfaat bagi orang lain. (team beritalangitan.com)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.