Qur’an dan Sains Modern (1)

0
733

Beritalangitan.com – Secara apriori mengasosiasikan Qur’an dengan Sains, adalah mengherankan, apalagi jika asosiasi tersebut berkenaan dengan hubungan harmonis dan bukan perselisihan antara Qur-an dan Sains. Bukankah untuk menghadapkan suatu kitab suci dengan pemikiran-pemikiran yang tak ada hubungannya seperti ilmu pengetahuan, merupakan hal yang paradoks bagi kebanyakan orang pada zaman ini? Sesungguhnya sekarang para ahli Sains yang kebanyakannya terpengaruh oleh teori materialis, menunjukkan sikap acuh tak acuh bahkan sifat merendahkan terhadap soal-soal agama, karena mereka memandangnya sebagai hal yang didasarkan atas legenda.

Selain daripada itu, di negeri Barat (negeri pengarang, dan kalangan orang-orang yang terpelajar menurut sistem Barat), jika seseorang berbicara tentang Sains dan agama, kata agama itu difahami sebagai agama Yahudi dan Kristen tetapi tak ada orang yang memasukkan Islam dalam kata agama itu. Tentang Islam, orang Barat mempunyai gambaran yang salah dan karena itu mereka juga menunjukkan penilaian yang salah, sehingga sampai hari ini sangat susah bagi mereka untuk mendapatkan gambaran yang tepat dan sesuai dengan ajaran Islam yang sebenarnya.

Sebagai pengantar untuk konfrontasi antara Wahyu Islam dan Sains, adalah sangat perlu untuk memberikan suatu tinjauan tentang agama yang sangat tidak dikenal di negeri kita (Europa, Perancis). Penilaian yang salah terhadap Islam di Barat adalah akibat kebodohan atau akibat sikap meremehkan dan mencemoohkan yang dilakukan secara sistematis. Akan tetapi di antara kekeliruan-kekeliruan yang tersiar, yang paling berbahaya adalah kekeliruan-kekeliruan atau pemalsuan fakta; jika kekeliruan penilaian dapat dimaafkan, maka penyajian fakta yang bertentangan dengan fakta yang sebenarnya, tidak dapat dimaafkan. Adalah menyedihkan jika kita membaca kebohongan-kebohongan besar dalam buku-buku yang serius yang ditulis oleh pengarang-pengarang yang mestinya sangat ahli.Umpamanya kita baca dal am Encyclopedia Universalis, jilid VI, artikel : Evangile (Injil), suatu isyarat kepada perbedaan antaraInjil dan Qur-an. Pengarang artikel tersebut menulis : “Pengarang-pengarang Injil tidak mengaku-aku, seperti Qur-an, menyampaikan otobiografi (riwayat hidup diri sendiri) yang didiktekan oleh Tuhan kepada Rasulnya secara ajaib.” Begitulah kata penulis itu, padahal Qur-an bukan otobiografi. Qur-an adalah tuntunan dan nasehat. Terjemahan Qur-an yang paling jelek juga dapat mengungkapkan kenyataan ini kepada pengarang artikel tersebut.

Pernyataan tersebut di atas, yakni bahwa Qur-an itu otobiografi sama besar kesalahannya dengan orang yang mengatakan bahwa Injil itu adalah riwayat hidup pengarangnya.Yang bertanggung jawab tentang pemalsuan terhadap idea Qur-an itu adalah seorang guru besar di Fakultas teologi Yesuite di kota Lion (Perancis selatan); tersiarnya kekeliruan semacam ini telah membantu member gambaran yang salah tentang Qur-an dan Islam.

Walaupun begitu tetap ada harapan untuk memperbaiki keadaan, karena sekarang agarna-agama tidak hidup sendiri-sendiri; banyak agama yang mencari perkenalan dan pemahaman timbal balik. Kita terharu dengan fakta bahwa pada eselon tertinggi orang-orang Katolik berusaha untuk memelihara hubungan dengan umat Islam, serta menghilangkankesalahfahaman dan mengoreksi gambaran-gambaran yang keliru tentang Islam. Saya telah menyebutkan perubahan besar yang terjadi pada-tahun-tahun yang terakhir ini dan menyebutkan pula suatu dokumen yang dikeluarkan oleh Sekretariat Vatikan untuk orang-orang bukan Kristen. Dokumen tersebut berjudul: Orientasi untuk dialog antara umat Kristen dan umat Islam, dokumen itu sangat berarti karena sikap-sikap baru terhadap Islam.

Dalam cetakan ketiga (1970) kita dapatkan ajakan untuk “meninjau kembali sikap-sikap kita terhadap Islam, dan mengkritik purbasangka kita” kita dapatkan pula kata-kata seperti “kita harus bekerja keras lebih dahulu untuk merubah cara berfikir saudara-saudara umat Kristen, secara bertahap; ini adalah yang paling penting,” “kita harus meninggalka gambaran gambaran kuno yang kita warisi dari masa lampau atau gambaran-gambaran yang dirubah oleh prasangka danfitnahan,” “kita harus mengakui ketidak adilan yang dilakukan oleh Barat yang beragama Kristen terhadap umat Islam.”1 Dokumen Vatikan yang terdiri dari 150 halaman itu menolak pandangan-pandangan kuno umat Kristen terhadap Islam dan menerangkan hal-hal yang sebenarnya . Di bawah judul: “membebaskan diri kita daripada prasangka-prasangka yang sangat mashur,” para penulis dokumen tersebut mengajak umat Kristen sebagai berikut: “Disini kita harus melakukan pembersihan yang mantap dalam cara berfikir kita. Secara khusus kami pikirkan penilaian tertentu yang “sudah jadi” yang sering dilakukan orang secara sembrono terhadap Islam. Adalah sangat penting untuk tidak menghidup-hidupkan dalam hati sanubari kita, pandangan-pandangan yang dangkal dan arbitrer yang tidak dikenal oleh orang Islam yang jujur.

Salah satu daripada pandangan arbitrer yang sangat penting untuk diberantas adalah pandangan yang mendorong untuk memakai kata “Allah” secara sistematis untuk menunjukkan Tuhannya umat Islam, seakan-akan Tuhannya umat Islam itu bukan Tuhannya umat Kristen. Allah dalam bahasa Arab berarti Tuhan, Tuhan yang maha Esa, maha Tunggal. Oleh karena itu untuk menterjemahkannya dalam bahasa Perancis kita harus rnemakai kata “Dieu,” dan tidak cukup hanya mengambil alih kata arab (“Allah”) karena kata ini tak dimengerti orang Perancis. Bagi umat Islam, Allah itu juga Tuhannya Nabi Musa dan Tuhannya Yesus.” Dokumen Sekretariat Vatikan bagi umat bukan Kristen menekankan hal yang fundamental ini sebagai berikut:

“Adalah tak berguna untuk mengikuti pendapat beberapa orang Barat bahwa Allah itu sesungguhnya bukan Tuhan! Teks-teks yang dihasilkan oleh Konsili telah membenarkan kata-kata diatas. Orang tidak akan dapat meringkaskan kepercayaan Islam tentang Tuhan, secara lebih baik dari kata-kata Lumen Gentium (cahaya bagi manusia ) bagian dari Dokumen Konsili Vatikan II (1962-1965) yang berbunyi: “Orang-orang Islam yang mengikuti aqidah Nabi Ibrahim menyembah bersama kita kepada Tuhan yang Tunggal, yang maha penyayang, yang akan mengadili manusia pada hari akhir.”2 Semenjak itu orang mengerti mengapa orang Islam melakukan protes terhadap kebiasaan orang Barat memakai kata ‘Allah’ untuk Tuhan. Orang-orang Islam yang terpelajar memuji terjemahan Qur-an oleh D. Masson yang memakai kata “Dieu” (Tuhan) dan tidak memakai kata “Allah.”3 Orang Islam dan orang Kristen menyembah Tuhan yang maha Tunggal.

Kemudian Dokumen Vatikan mengkritik penilaian-penilaian lain yang salah terhadap Islam. “Fatalisme” Islam, suatu prasangka yang tersiar luas, dibahas dengan mengutip beberapa ayat Qur-an. Dokumen Vatikan tersebut menunjukkan hal-hal yang sebalik Fatalisme, yakni bahwa manusia itu akan diadili menurut tindakannya diDunia. Dokumen Vatikan tersebut juga menunjukkan bahwa konsep yuridisme atau legalisme dalam Islam itu salah, yang benar adalah sebaliknya, yakni kesungguhan dalam Iman. Dibawakannya pula dua ayat yang sangat tidak dikenal orang di Barat. Ayat pertama: “Tak ada paksaan dalam agama” (Surat 2 ayat 256). Ayat kedua: “Dan Tuhan tidak menjadikan dalam agama sesuatu hal yang memaksa.” (Surat 22 ayat 78)

Dokumen Vatikan tersebut juga menentang ide yang tersiar luas bahwa Islam itu adalah agama “rasa takut,” dan menjelaskan bahwa Islam adalah agama cinta, cinta kepada orang-orang yang dekat, cinta yang berakar dalam Iman kepada Allah. Dokumen Vatikan tersebut juga menolak anggapan bahwa tak ada “moral Islam,” serta anggapan yang dianut oleh orang Yahudi dan orang Kristen bahwa Islam itu adalah agama fanatisme. Dalam hal ini Dokumen tersebut mengatakan: “Sesungguhnya, Islam dalam sejarahnya tidak pernah lebih fanatik daripada kota-kota suci Kristen ketika kepercayaan Kristen bercampur dengan nilai politik.” Di sini para pengarang Dokumen Vatikan menyantumkan ayat-ayat Qur-an yang diterjemahkan oleh orang Barat sebagai “Perang Suci.”4

“Perang suci yang dimaksudkan, dalam bahasa Arabnya adalah: Al Jihad fi sabililah, usaha keras untuk menyiarkan agama Islam dan mempertahankannya terhadap orang-orang yang melakukan agressi.” Dokumen Vatikan meneruskan keterangannya: “Al Jihad bukan “kherem” yang tersebut dalam Injil. Jihad tidak bermaksud untuk memusnahkan orang lain, akan tetapi untuk menyiarkan hak-hak Tuhan dan hak-hak manusia di negeri-negeri baru. “Kekerasan yang timbul dalam Jihad adalah gejala-gejala yang mengikuti hukum perang. Pada waktu peperangan Salib bukanlah orang- Islam yang selalu melakukan pembantaian besar-besaran. Dokumen Vatikan akhirnya membicarakan purbasangka bahwa Islam itu adalah agama beku yang mengungkung para pengkutnya dalam Abad Pertengahan yang sudah lampau dan menjadikan mereka tidak sanggup untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan tehnik pada zaman modern. Dokumen tersebut menyebutkan perbandingan dengan situasi-situasi serupa yang terdapat dinegara-negara Kristen dan menyatakan “Kami menemukan dalam perkembangan tradisional pemikiran Islam suatu prinsip evolusi yang dapat menjadi pedoman untuk masyarakat beradab.” Bahwa Vatikan mempertahankan Islam, saya yakin, akan mengherankan pengikut-pengikut agama masa kini, baik ia orang Yahudi, orang Kristen atau orang lslam. Gejala tersebut merupakan manifestasi kesungguhan dan pikiran yang terbuka yang bertentangan sama sekali dengan sikap-sikap dimasa dahulu. Tetapi sayang, sangat sedikit sekali orang-orang Barat yang mengetahui pergantian sikap yang diambil oleh eselon tertinggi daripada Gereja Katolik.

Setelah kita mengetahui hal tersebut di atas kita tidak begitu heran untuk mendengarkan langkah-langkah konkrit selanjutnya yang dilaksanakan untuk pendekatan ini. Mula-mula adalah kunjungan resmi kepala Secretariat Vatikan untuk orang-orang bukan Kristen kepada (almarhum) Sri Baginda Raja Faesal, raja Saudi Arabia, kemudian kunjungan ulama-ulama Besar dari Saudi Arabia kepada Sri Paus Paul Vl pada tahun 1974. Kita merasakan arti spiritual yang dalam ketika Monsigneur Elchinger menerima para ulama itu diCathedral Strasbourg dan mempersilahkan mereka untuk sembahyang di tengah-tengah Cathedral, walaupun menghadap kearah Ka’bah.

Jika wakil-wakil tertinggi daripada umat Islam dan umat Kristen, dalam rasa kepercayaan kepada Tuhan yang sama dan rasa hormat menghormat terhadap perbedaan yang ada diantara mereka telah sefaham untuk melakukan dialog agama, apakah tidak wajar jika aspek-aspek lain dari kedua agama itu juga dihadapi? Maksud daripada konfrontasi ini adalah penyelidikan tentang Kitab Suci atas dasar hasil-hasil penyelidikan ilmiah dan pengetahuan-pengetahuan kritik kebenaran. Penyelidikan teks-teks ini harus dilakukan terhadap Qur-an sebagaimana ia telah dilakukan terhadap agama Yahudi dan Kristen. (bersambung)

SUMBER : BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern

Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science

Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi

Penerbit Bulan Bintang, 1979

Kramat Kwitang I/8 Jakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.