Qur’an dan Sains Modern (2)

0
734

Beritalangitan.com – Hubungan antara agama-agama dan Sains tidak sama di segala tempat dan segala masa. Adalah suatu fakta bahwa tak ada kitab suci agama monotheist yang menghukum Sains. Tetapi dalam prakteknya, kita harus mengakui bahwa ahli-ahli Sains bercekcok dengan penguasa keagamaan tertentu.

Di dunia Kristen, selama beberapa abad, pembesar-pembesar menentang perkembangan Sains atas initiatif mereka sendiri dan tidak bersandar kepada teks autentik dalam Kitab Suci. Terhadap mereka yang memajukan Sains, mereka melancarkan tindakan-tindakan yang kita ketahui dalam sejarah, yaitu tindakan-tindakan yang menjerumuskan para ahli Sains dalam pembuangan, jika mereka ingin selamat daripada hukuman “mati dibakar,” atau sedikitnya memaksa mereka untuk menebus dosa mereka dan memperbaiki sikap mereka serta memohon maaf.

Dalam hal ini, kita ingat peradilan Galile yang dituntut hanya karena ia mengikuti penemuan Copernikus tentang peredaran bumi. Galile kemudian dihukum dengan alasan menafsirkan Bibel secara keliru sebab tidak ada Kitab Suci yang dapat dibantah. Bagi Islam, sikap terhadap Sains pada umumnya sangat berlainan. Tak ada yang lebih jelas daripada hadits Nabi yang sangat masyhur. “Tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina” atau hadits lain yang maksudnya: mencari ilmu adalah wajib bagi seorang muslimin dan seorang muslimat. Adalah suatu kenyataan yang penting seperti yang akan kita lihat dalam fasal ini nanti, bahwa Qur-an yang mengajak memperdalam Sains. Qur-an itu memuat bermacam-macam pemikiran tentang fenomena alam, dengan perinci yang menerangkan hal-hal yang secara pasti cocok dengan Sains modern. Dalam hal ini tak ada hal yang serupa itu dalam agama Yahudi dan Kristen. Tetapi adalah salah jika orang mengira bahwa dalam sejarah Islam, beberapa orang Islam mempunyai sikap yang berlainan terhadap Sains. Memang terjadi bahwa pada suatu waktu, kewajiban untuk belajar dan mengajar orang lain itu disalah fahamkan, dan orang pernah berusaha memberhentikan perkembangan ilmu pengetahuan. Tetapi perlu kita ingat bahwa pada zaman kejayaan Islam, antara abad VIII dan abad XII M.

Pada waktu orang membatasi perkembangan ilmu pengetahuan dipersempit di negara-negara Kristen, banyak sekali penyelidikan dan penemuan yang dilakukan orang di Universitas universitas Islam. Pada waktu itulah kita dapatkan kebudayaan yang luar biasa. Di Cordoba (Qurtubah) perpustakaan Khalifah memuat 400.000 buku; Ibnu Rusyd mengajar di situ. Banyak orang dari berbagai daerah di Eropa datang ke Qurtubah untuk belajar, seperti pada waktu ini banyak orang belajar ke Amerika Serikat. Banyak manuskrip-manuskrip lama sampai kepada kita dengan perantaraan orang-orang Arab, dan membawa kebudayaan kepada negeri-negeri yang ditaklukkan. Banyak hutang kami (orang-orang Barat) kepada pengetahuan Arab dalam matematika (kata al jabar adalah kata Arab), astronomi, fisika dan optik, geologi, ilmu tumbuh-tumbuhan (botanik), ilmu kedokteran (Ibnu Sina) dan lain-lain. Untuk pertama kali Sains mempunyai sifat internasional dalam Universitas Islam pada abad pertengahan. Pada waktu itu manusia lebih mempunyai jiwa keagamaan daripada sekarang, akan tetapi dalam Dunia Islam hal tersebut tidak menghalangi seseorang untuk menjadi orang yang mukmin dan pandai sekaligus. Sains adalah saudara kembar daripada agama, dan akan tetap begitu. Dalam negara-negara Kristen, abad pertengahan adalah abad stagnasi dan conformisme mutlak. Penyelidikan ilmiah dikekang, bukan oleh agama Yahudi dan Kristen, akan tetapi oleh mereka yang mengaku mengabdi kepada agama-agama tersebut. Sesudah Renaissance, reaksi yang wajar daripada ahli ilmu pengetahuan adalah untuk membalas dendam kepada musuh mereka kemarin, dan pembalasan dendam itu berlangsung sampai sekarang. Pada waktu ini, di negeri Barat, untuk bicara tentang Tuhan di kalangan ilmuwan adalah janggal. Sikap semacam ini juga terdapat dalam otak-otak yang muda yang menerima pengetahuan dari universitas-universitas Barat, termasuk otak-otak muda Islam.

Hal tersebut di atas adalah wajar karena ahli-ahli pengetahuan Barat yang terkemuka selalu-mengambil sikap yang ekstrim. Seorang yang pernah meraih hadiah Nobel dalam ilmu kedokteran pada tahun-tahun akhir ini telah menulis dalam satu buku tebal untuk awam, bahwa materi hidup itu tercipta sendiri secara kebetulan daripada unsur-unsur elementer. Dan bertitik tolak dari materi hidup yang sederhana itu, dengan pengaruh bermacam-macan faktor luar, terbentuklah benda hidup yang teratur dan secara berangsur-angsur akhirnya menjadi benda hidup yang sangat complex, yaitu manusia. Tetapi orang yang memikirkan secara mendalam hasil-hasil yang mengagumkan daripada Sains masa kini dalam bidang “kehidupan” akan sampai kepada natijah (konklusi) yang sebaliknya.

Pertumbuhan yang terjadi sebelum munculnya “kehidupan” serta pemeliharaan “kehidupan” itu akan Nampak sangat berbelit-belit (complicated). Lebih banyak kita mengetahui perincian-perinciannya, lebih banyak pula kita merasa heran dan takjub. Sesungguhnya jika kita mengetahui perinci-perinci itu lebih banyak, kita lebih condong untuk mengurangi unsur: “kebetulan” dalam fenomena “kehidupan.” Lebih banyak kita memiliki ilmu pengetahuan, khususnya mengenai hal-hal yang sangat kecil, lebih menonjollah argumentasi tentang adanya zat “pencipta.” Tetapi manusia bukannya tunduk kepada fakta-fakta tersebut di atas, malahan ia menjadi sombong. Ia merasa berhak untuk menertawakan ide tentang Tuhan dan ia menganggap remeh segala sesuatu yang menghalangi kemauannya untuk kenikmatan dan kelezatan. Itulah masyarakat materialis yang sekarang ini berkembang di Barat.

Kekuatan spirituil manakah yang dapat menghadapi polusi pemikiran para ahli pengetahuan modern sekarang? Agama Kristen dan agama Yahudi telah menunjukkan ketidak-mampuannya untuk membendung banjir materialism serta ateisme di Barat. Agama Kristen dan agama Yahudi dalam keadaan kacau balau, dan dari tahun ke tahun telah menunjukkan daya tahan yang berkurang terhadap aliran yang akan menghancurkannya; seorang materialis ateis hanya dapat melihat dalam agama Kristen klasik, suatu agama yang diciptakan oleh manusia 2000 tahun yang lalu untuk menegakkan kekuasaan sekelompok kecil manusia terhadap manusia-manusia lain. Ia tidak dapat melihat dalam kitab suci Yahudi Kristen suatu bahasa yang ada hubungannya dengan bahasanya sendiri walaupun terlalu jauh; kitab suci Yahudi Kristen memuat hal-hal yang keliru, yang kontradiksi dan yang tidak sesuai dengan penemuan-penemuan ilmiah modern, sehingga ia tidak mau mempertimbangkan teks-teks yang oleh kebanyakan ahli-ahli teologi dipaksakan untuk diterima semua sebagai keseluruhan.

Bagaimana kalau ada orang yang mengajaknya berbicara tentang Islam? Ia akan tertawa lebar yang menunjukkan bahwa ia tidak banyak mengetahui tentang agama. Sebagai kebanyakan kaum terpelajar dari bermacam-macam agama, ia mempunyai gambaran-gambaran yang salah tentang Islam. Dalam hal ini, kita harus menerima beberapa alasan. Pertama, dengan mengecualikan sikap-sikap baru dari tingkatan tertinggi daripada Gereja Katolik yang mulai menunjukkan hormat kepada Islam. Islam di negara-negara Barat selalu menjadi objek daripada “diffamation seculaire” (cemoohan penganut-penganut secularisme). Semua orang Barat yang mempunyai pengetahuan dalam tentang Islam, mengetahui bahwa sejarahnya, dogmanya dan tujuannya sudah jauh dibelokkan orang. Kedua, dokumen-dokumen dalam bahasa-bahasa Barat mengenai Islam yang sudah diterbitkan, tidak mempermudah usaha seorang yang ingin mempelajari Islam. Dalam hal ini kita dapat mengecualikan beberapa penyelidikan-penyelidikan yang sangat khusus.

Dalam hal mempelajari Islam, pengetahuan tentang wahyu dalam Islam adalah sangat pokok (fundamental). Tetapi bagian-bagian daripada Qur-an khususnya yang ada hubungannya dengan hasil – hasil perkembangan Sains sering diterjemahkan secara keliru atau ditafsirkan sedemikian rupa sehingga seorang ahli Sains akan melancarkan kritik yang tidak tepat terhadap Qur-an, walaupun kritik-kritik kelihatannya benar. Ada satu hal yang perlu kita garis bawahi: terjemahan yang tidak tepat dan penafsiran yang keliru (keduanya biasanya terjadi bersama-sama) yang tidak mengherankan pada satu atau dua abad yang lalu, pada waktu sekarang mengejutkan ahli Sains yang menolak untuk mempertimbangkan secara serius, suatu kata-kata yang diterjemahkan secara salah sehingga memberi keterangan yang tak dapat diterima menurut perkembangan Sains sekarang. Dalam bab tentang terjadinya janin manusia, kita akan melihat contoh kekeliruan seperti itu.

Mengapa terjadi kekeliruan dalam menterjemahkan Qur-an? Hal ini terjadi oleh karena penterjemah-penterjemah modern sering hanya mengambil alih interpretasi para ahli tafsir di zaman dahulu, tanpa pendirian kritik. Para ahli tafsir zaman dahulu itu dapat dimaafkan jika mereka memilih satu daripada beberapa arti kata bahasa Arab, oleh karena mereka tidak mengerti arti yang benar daripada kata atau kalimat itu, yaitu arti yang baru sekarang nampak dengan jelas berhubung kemajuan pengetahuan kita tentang Sains. Dengan kata lain, perlu dilakukan peninjauan kembali terhadap terjemahan atau tafsiran-tafsiran yang tak dapat dilaksanakan secara baik pada suatu masa, karena sekarang kita sudah memiliki arti kata-kata yang sebenarnya. Persoalan penterjemahan seperti tersebut tidak timbul dalam wahyu Yahudi Kristen . Soal itu hanya khusus mengenai Qur-an.

Aspek-aspek ilmiah yang khusus untuk Qur-an itu sangat mengherankan aku, karena aku sama sekali tidak mengira bahwa dalam teks yang disusun semenjak lebih dari 13 abad, aku dapat menemukan keterangan-keterangan tentang hal-hal yang bermacam, yang sangat cocok dengan pengetahuan ilmiah modern. Pada permulaannya aku sama sekali tidak percaya dengan Islam. Aku mulai menyelidiki teks Qur-an dengan pikiran yang bebas dari segala prasangka, dan dengan pikiran obyektif. Jika ada faktor yang mempengaruhi aku, faktor itu adalah pendidikan yang aku terima ketika aku masih muda, pada waktu orang menamakan orang Islam dengan nama “Mohametans” untuk memberi kesan bahwa Islam adalah agama yang didirikan oleh seorang insan dan saleh karena itu agama itu tidak ada nilainya di hadirat Tuhan. Sebagai kebanyakan orang Barat, aku terpengaruh dengan pikiran-pikiran yang salah tentang Islam, dan aku merasa heran jika aku bertemu dengan orang-orang yang mengetahui soal-soal ke-Islaman, di luar kalangan para ahli (spesialis). Oleh karena itu aku mengaku terus terang bahwa sebelum mempunyai gambaran tentang Islam yang berlainan dengan gambaran orang Barat, aku sendiri sangat tidak tahu tentang Islam, jika akhirnya aku mengetahui bahwa penilaian Barat tentang Islam itu salah, hal itu adalah karena kejadian-kejadian yang istimewa. Di Saudi Arabialah aku menemukan bahan-bahan apresiasi yang menunjukkan kepadaku betapa salahnya pendapat orang-orang Barat tentang Islam.

Aku berhutang budi besar kepada almarhum Sri Baginda Raja Faisal yang aku hormati. Aku dapat mendengar daripadanya keterangan-keterangan tentang Islam, dan aku dapat membicarakan soal-soal penafsiran Qur-an mengenai Sains modern. Semua itu tak akan dapat aku lupakan. Sesungguhnya aku merasa mendapat kehormatan yang luar biasa dapat menerima keterangan-keterangan dari Sri Baginda dan para pengikut-pengikutnya.

Setelah aku dapat mengukur jurang yang memisahkan hakekat Islam daripada image yang dimiliki oleh orang-orang Barat, aku merasa ingin belajar bahasa Arab yang aku belum mengerti, agar dapat membantu aku mempelajari agama yang sangat tidak dikenal. Tujuanku yang pertama adalah untuk membaca Qur-an, menyelidiki teksnya, kalimat demi kalimat, dengan bantuan bermacam kitab tafsir yang sangat diperlukan untuk penyelidikan yang kritis. Aku mulai tugas itu dengan memperhatikan keterangan-keterangan Qur-an tentang fenomena alam. Ketepatan keterangan Qur-an dalam perinci-perincinya, yaitu hal yang hanya dapat ditemukan dalam teks original, telah menarik perhatianku karena cocok dengan konsepsi-konsepsi zaman sekarang. Padahal seorang yang hidup pada zaman Nabi Muhammad tidak dapat mempunyai ide sedikitpun tentang hal tersebut. Kemudian aku membaca beberapa buku karangan orang-orang Islam mengenai aspek ilmiah daripada teks Qur-an. Buku-buku tersebut memuat pengetahuan-pengetahuan yang sangat berfaedah, akan tetapi aku belum pernah melihat di negara-negara Barat, suatu penyelidikan yang menyeluruh tentang hal ini. (BERSAMBUNG)

SUMBER : BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.