Santri Tewas Dianiaya Senior

0
76

Mojokerto – Beritalangitan.com- Pengurus Ponpes Mambaul Ulum di Mojokerto meminta maaf kepada keluarga santri yang menjadi korban tewas akibat dianiaya seniornya. Mereka mengaku kecolongan dalam mengawasi para santri. Sehingga terjadi penganiayaan santri senior terhadap juniornya.

Hal itu dikatakan Kuasa Hukum PP Mambaul Ulum Agus Sholahuddin. Pengurus Pondok Putra Mahfuddin Akbar dan Pengasuh Pondok Putri Anisatul Fadilah juga hadir dalam jumpa pers di kantor pesantren, Desa Awang-awang, Kecamatan Mojosari. Dikutip dari detik.com.

Agus mengatakan, selama 68 tahun berdiri, PP Mambaul Ulum tidak pernah mengajarkan kekerasan terhadap santrinya. Menurut dia, hukuman bagi santri yang melanggar disiplin diberikan pengurus pondok hanya berupa menghafal surat pendek Al Quran, praktik ibadah, atau denda.

Selain itu, pengurus pondok juga tidak memberi kewenangan bagi WN (17) untuk menghukum santri yang melanggar tata tertib pesantren. Santri senior asal Kecamatan Pacet, Mojokerto itu sebatas ditunjuk sebagai ketua kamar. Tugasnya menata jadwal piket dan mengawasi kebersihan asrama santri.

“Kewenangan memberikan sanksi kepada santri adalah pengurus pondok. Kami meminta maaf kepada para wali santri, ini kelengahan pondok mengawasi santri. Kami akan meningkatkan pengawasan. Pondok sudah kecolongan,” kata Agus kepada wartawan, Minggu (25/8/2019).

Ia menjelaskan, WN tega menganiaya Ari Rivaldo (16) kerena merasa kesal. Menurut dia, korban kerap keluar dari pesantren tanpa izin. Berulang kali ditegur WN, santri asal Kelurahan Sepanjang, Kecamatan Taman, Sidoarjo itu tetap saja mengulangi perbuatannya. Sehingga penganiayaan terjadi.

WN menendang kepala Ari hingga membentur dinding kamar asrama, Senin (19/8) sekitar pukul 23.00 WIB. Akibatnya, tengkorak belakang korban pecah. Korban tewas saat dirawat di RSI Sakinah, Sooko, Mojokerto, Selasa (20/8) sekitar pukul 12.00 WIB. Kini WN ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini.

“Pondok mengikuti proses hukum Polres Mojokerto,” terang Agus. (Sopian Parid)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.