Sistem Kufur Lahirkan Politisi Prematur

0
77
Ilustrasi Politisi Premature, Foto: MuslimahNews.com

Oleh: Permadina Kanah Arieska, S.Si., M.Si.

Sumber : MuslimahNews.com

Genderang pilkada 2020 di hampir seluruh wilayah Indonesia telah ditabuh. Kandidat dari berbagai background partai pun mulai mengayuh simpati dari elemen penduduk negeri.

Tak jarang kita dapati, para calon pilkada blusukan memberikan sembako berupaya menebar empati di kala pandemi. Pilkada bagi masyarakat Indonesia merupakan sebuah agenda rutin, di mana para calon kepala daerah berkompetisi dalam kontestasi politik.

Sebagaimana halnya sebuah kompetisi, akan ada yang kalah dan akan ada yang menang. Hal yang perlu dipastikan tentunya adalah fair play dalam pertandingan menjadi kandidat calon kepala daerah.

Ada yang istimewa dari pilkada 2020 ini yang bisa kita cermati, salah satunya adalah majunya beberapa anak dan menantu bahkan keponakan dari petinggi negeri yang berpartisipasi dalam pencalonan kepala daerah.

Sederet nama seperti Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Joko Widodo yang menjadi calon wali kota Solo, putra sulung Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung, Hanindhito Himawan Pramono di Pilkada Kabupaten Kediri, dan Bobby Nasution menantu Jokowi dalam pemilihan wali kota Medan.

Juga putri Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Siti Nur Azizah sebagai calon wali kota Tangerang Selatan dan keponakan Prabowo Subianto, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo sebagai calon wali kota Tangsel diusung PDI-P dan Gerindra.

Anak Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah tak mau ketinggalan, Pilar Saga Ichsan resmi mendapat rekomendasi Partai Golkar dan PPP untuk maju sebagai calon wali kota Tangsel 2020. (akurat.co,19/7/2020)

Banyak pengamat politik memperbincangkan fenomena ini. Pengamat politik Adi Prayitno menyampaikan bahwa tampilnya putra sulung Presiden Jokowi sebagai calon wali kota Solo dinilai menambah daftar panjang politik dinasti keluarga.

Sementara itu, pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago menyebut, bentuk konflik kepentingan pada pencalonan Gibran sudah terlihat dari pengakuan Achmad Purnomo, pesaing Gibran dalam meraih tiket dari PDI Perjuangan.

Menurut Pangi, semestinya Gibran maupun seluruh anggota keluarga Jokowi menunggu untuk terjun ke politik praktis hingga Jokowi tak lagi menjabat sebagai Kepala Negara.(kabar24.bisnis.com, 17/07/ 2020).

Partai politik (praktis) sebagai wadah melahirkan politisi-politisi ulung bermental negarawan kini sudah tak dapat diharapkan. Banyak kader yang lahir instan karena secara hitungan kuantitas memiliki popularitas.

Kenapa harus populer? Semakin populer semakin dikenal masyarakat, semakin murah biaya politik, karena calon yang ditawarkan sudah tak perlu dipromosikan.

Kepopuleran menjadi value lebih bagi calon kepala daerah untuk maju ke panggung politik. Artis, seniman, anak pengusaha, anak pejabat, hingga anak presiden seakan mendapatkan karpet merah untuk masuk ke laga kompetisi pilkada, berpeluang dipinang partai lebih besar dari sekadar orang biasa.

Proses pengaderan seperti ini akan berakibat pada lahirnya politisi-politisi prematur dari partai. Kedewasaan berpikir, cepat mengambil solusi, mengedepankan pelayanan daripada kepentingan pribadi atau golongan, aware dengan masalah yang ada di masyarakat, yang merupakan karakter seorang politisi negarawan, kini sudah tak melekat pada kandidat pilkada, terutama dari jalur instan.

Pemakaian masker bergambar karakter bermulut lebar dan gigi tajam di bagian atas dan sedang menjulurkan lidah atau melet yang dilakukan Gibran, calon wali kota Solo saat blusukan, merupakan salah satu fenomena tidak etis yang dilakukan seorang calon kepala daerah.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah menyatakan bahwa gaya itu menunjukkan ketidakpekaan Gibran pada situasi dan kondisi tempatnya berada.

Dedi menambahkan, ketidakpekaan Gibran membedakan situasi dan kondisi, menandai kedewasaan Gibran prematur.

Mengapa politisi prematur ini menjamur di tengah sistem demokrasi? Apakah memang sistem demokrasi menjadi lahan subur tumbuhnya politisi prematur?

Demokrasi melahirkan Politisi Instan

Demokrasi didefinisikan sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Pertanyaannya, rakyat yang mana yang bisa memerintah dan mendapatkan kekuasaan?

Jawabannya ada pada proses rekrutmen atau pencalonan para penguasa. Dalam sistem demokrasi, baik parlementer maupun presidensial, keduanya sama-sama mewajibkan tingginya finansial. Tak punya kapital yang besar, jangan harap bisa berkontestasi dalam politik demokrasi.

Finansial yang tinggi ini mengharuskan para calon menjaring “sponsor” baik individu ataupun korporasi, yang ending-nya selalu berhitung profit untuk menghasilkan pundi-pundi.

Demokrasi memiliki mesin politik yang unik dalam menjalankan roda pemerintahannya. Terwujudnya keterwakilan rakyat hanya isapan jempol semata. Apalagi berharap rakyat sejahtera, sesuatu yang hingga saat ini tak kunjung dapat dibuktikan demokrasi.

Demokrasi dikatakan cacat sejak lahir. Pernyataan ini disampaikan J. Kristiadi, penulis senior Centre for Strategic of International Studies (CSIS).

Cacatnya sistem ini karena tidak adanya jaminan orang-orang yang dipilih memang benar-benar representasi ratusan juta rakyat.

Partai politik yang fungsi utamanya sebagai wadah edukasi politik bagi masyarakat, nyatanya sering kali terjebak pemikiran “yang penting menang” dalam pemilihan umum, yang penting calonnya bisa tembus menjadi kepala daerah, atau yang penting kadernya bisa lolos ke senayan.

Pemikiran dangkal partai politik ini menjadikan partai mengambil jalan pintas dalam perekrutan kadernya. Dengan tujuan meraup suara rakyat, artis bermasalah sekalipun akan dilamar menjadi kader partainya.

Sistem kufur seperti inilah yang menghasilkan politisi-politisi prematur. Politisi instan dengan kompetensi negarawan yang diragukan.

Politik Islam: Politik Pencetak Politisi Berkarakter Negarawan

Dalam bahasa Arab, politik berasal dari kata sâsa-yasûsu-siyâsat[an] yang bermakna: dia mengurusi urusannya (ra’â syu‘ûnahu).

Adapun secara istilah, politik berarti mengurusi urusan umat, di dalam dan di luar negeri, yang dilakukan negara dan umat.

Negara secara langsung mengatur urusan rakyatnya, sementara umat/rakyat melakukan koreksi dan kontrol. Definisi ini disimpulkan dari hadis Rasulullah ﷺ:

“Dulu Bani Israil senantiasa diurusi oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi wafat, ia diganti oleh nabi lainnya. Namun, tidak ada lagi nabi sesudah aku. Yang ada adalah para khalifah yang jumlahnya banyak.” (HR al-Bukhari).

Politik Islam adalah politik yang lahir dari sebuah peradaban Islam, di mana negaranya menjadi negara pertama dalam konstelasi perpolitikan dunia.

Negara yang dimaksud tentu adalah Khilafah Islam, yang sudah terbukti mampu memimpin dunia hingga 13 abad lamanya. Para politisinya tak hanya bermain politik praktis, namun juga bermental negarawan.

Tengoklah Abu Bakar As Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, atau setara Ali bin Abi Thalib. Visinya menjadi pemimpin negara adalah semata agar rakyatnya sejahtera dan menjadi Hamba Allah yang bertakwa.

Politik yang dijalankan adalah politik pelayanan, bukan politik kepentingan. Pelayanan kepada masyarakat menjadi basis mengurusi urusan umat. Bukan sekadar karena kepentingan partai apalagi untuk kepentingan pribadi untuk memperkaya diri sendiri.

Untuk menjadi seorang politisi muslim sejati, setidaknya ada beberapa hal yang wajib dimiliki.

  1. Menjadikan Islam sebagai pisau analisis peristiwa politik.

Politisi muslim sejati adalah orang yang senantiasa mengurusi urusan umatnya dengan ideologi yang dia anut. Dalam konteks umat Islam, mereka adalah orang-orang yang senantiasa mengurusi urusan umat ini berdasarkan ideologi Islam.

  1. Menguasai informasi politik.

Informasi ini mencakup informasi tentang siapa negara nomor satu di Dunia, tentang negara-negara besar yang menjadi pesaing negara nomor satu tersebut, dan terkait wilayah-wilayah yang berada di bawah hegemoni mereka.

Negara pertama di sini adalah negara yang paling memiliki pengaruh dalam konstelasi politik Internasional. Sampai saat ini Amerika masih menjadi negara pertama yang didaulat memiliki pengaruh atas kebijakan politik di dunia.

  1. Mengonfirmasi dan menelaah ulang setiap berita dan peristiwa secara sempurna.

Di era digital saat ini, hoaks atau berita bohong memadati sistem informasi. Maka seorang politisi muslim sejati harus mengetahui sumber dan kebenaran berita.

Bila diketahui berita yang didapat itu ternyata bohong, politisi muslim sejati wajib tahu tujuan dari penyebaran berita tersebut. Namun bila berita itu benar, ia wajib mengetahui konteks berita dan peristiwa itu.

Penelaahan dan pemilihan ini tentu harus dilakukan semaksimal mungkin sesuai dengan kadar kemampuan yang dia miliki. Dengan begitu ia terhindar dari kesalahan sekaligus penyesatan pihak lain.

  1. Kontinuitas.

Berita-berita politik senantiasa berbentuk mata-rantai kejadian dan peristiwa. Bila rantainya terputus, niscaya ia tidak mampu menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lain, satu berita dengan berita lainnya.

Oleh karena itu, kontinuitas dalam memonitor berita dan peristiwa menjadi kunci sukses menjadi politisi muslim sejati.

  1. Menghindari generalisasi.

Sering kali seseorang melakukan generalisasi dalam menganalisis sebuah peristiwa atau berita. Memang benar, ada kalanya antara peristiwa satu dengan peristiwa lainnya terdapat kemiripan, baik dari segi waktu, tempat, dan konteksnya, namun berbeda dari sisi pelaku atau pihak yang berkepentingan di balik itu. Oleh sebab itu, setiap kejadian tetap perlu dipilah dan ditelaah satu persatu.

Selain itu, politisi muslim sejati wajib menyampaikan pendapatnya bukan hanya di kalangan masyarakat awam, namun juga di kancah perpolitikan dalam lingkup yang lebih luas; di hadapan para penguasa, pimpinan partai politik dan kalangan berpengaruh lainnya; secara personal maupun melalui berbagai media dan sarana informasi masyarakat.

Bila menghadapi pembungkaman, sebagaimana terjadi di beberapa negeri kaum Muslim, ia harus berusaha menyampaikan pandangannya secara personal atau melalui media yang dia miliki.

Dalam sejarah Islam, senantiasa akan muncul di setiap masa para pendengki dan pembenci risalah Allah. Keistikamahan para pejuangnya menyuarakan Islam akan menjadi cahaya kebenaran yang dijamin Allah kemenangannya.

Sebagaimana firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى:

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS At-Taubah [9]: 32)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.