Tanggapan UAS soal Usulan Dana Haji untuk Penanganan Covid-19

0
292

beritalangitan.com – Beberapa waktu lalu, Menteri Fachrul Razi menyatakan Kementerian Agama akan mengkaji usulan soal pengalihan dana haji untuk penanganan Covid-19.

“Tentang kemungkinan haji ditunda mungkin dananya bisa dialihkan untuk covid-19. Mungkin akan kita kaji lagi lebih lanjut nanti,” kata Fachrul dalam rapat daring bersama Komisi VIII DPR RI, Rabu (8/4).

Fachrul masih berharap, dana yang telah diatur oleh Kementerian Keuangan dapat mencukupi kebutuhan penanganan Covid-19. 

Usulan ini muncul dari anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat Nanang Samodra. Menurutnya, usulan ini berlaku bila penyelangaraan haji tahun ini tertunda.

Terkait itu, Ustaz Abdul Somad (UAS) memberikan tanggapan, dilansir dari Republika, Ahad (12/4).

Pertama, UAS menerangkan bagaimana Islam memandang persoalan harta. Agama ini membedakan antara harta umum (al-mal al-‘am) dan harta khusus (al-mal al-khash).

Suatu harta umum disebut pula sebagai harta milik orang banyak atau masyarakat. Selanjutnya, masyarakat memilih orang-orang yang dianggap layak untuk mengatur harta umum itu.

“Orang-orang ini disebut ulil-amri atau pemerintah. Pemerintah diberi amanat kuasa oleh masyarakat untuk mengatur harta itu demi kepentingan bersama,” kata UAS.

Adapun harta khusus adalah milik pribadi atau orang per orang. Harta jenis ini, UAS menegaskan, tidak dapat diintervensi oleh siapa pun di luar si pemiliknya.

“Harta ini bisa berpindah tangan ke orang lain melalui akad, misalnya, akad jual-beli, pinjaman, gadai, hibah, wasiat, zakat, infaq/sedekah,” ucapnya.

Dana haji termasuk harta khusus, bukan harta umum, meskipun dana tersebut saat ini sedang dititipkan kepada negara.

“Contoh, Rp 40 juta uang Saudara untuk berangkat haji itu adalah tergolong nomor dua, al-mal al-khas, harta khusus, pribadi. Ketika Saudara menyetorkan ONH (ongkos naik haji) ke bank untuk berangkat haji, akadnya adalah jual-beli barang dan jasa. Yakni, terkait visa, tiket pesawat, hotel, bus, konsumsi, dan lain-lain,” kata dia.

“Maka, negara tidak ada hak mengalihkannya ke urusan yang lain. Semua yang berani menggunakan dana haji untuk kepentingan yang lain,maka bertanggung jawab di hadapan Allah,” lanjut UAS menegaskan.

Ia pun mengingatkan, setiap jabatan di dunia hanyalah sementara. Urusan akhirat jauh lebih penting karena ujungnya hanya ada dua: surga atau neraka.

“Jabatan di dunia itu sebentar, tapi hisabnya lama di akhirat. Wallahu a’lam.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.