Teladan dalam Peranan Mahasiswa Islami

0
1767

Oleh: Rahma Octaviani – 2011.0420.376

Sebagai makhluk hidup manusia diberikan akal dan pikiran, sehingga manusia mampu mengendalikan nafsu maupun melihat mana yang baik dan mana yang salah. Agar tidak membuat kesalahan yang terlalu berlebihan, salah manusiawi, lupa manusiawi tapi karena memiliki akal dan pikiran dia akhirnya dapat berfikir bagaimana caranya untuk mengubah sesuatu yang tadinya salah menjadi baik.

Adanya bekal akal dan pikiran membuat manusia terus-menerus berfikir bagaimana caranya agar dia dapat bertahan hidup. Maka mulailah diberi kemampuan dasar untuk berpendidikan, belajar mengetahui mana yang ilmiah dan alamiah, bagaimana dia bisa mendapatkan uang untuk memenuhi kehidupannya sehari. Sebagai seorang mahasiswa kita dituntut untuk kritis dalam segala hal. Mahasiswa berperan dalam perkembangan zaman, dan kehidupan bermasyarakat.

Islam memiliki pandangan yang luas dalam segala hal, semua itu dapat dilihat dari pengembangan tafsir hadist maupun ilmi fiqh. Ada beberapa mahasiswa yang berfikir kuliah hanya untuk mencari nilai atau IPK tinggi, ada yang hanya ingin sekedar kuliah dan menjadikannya angin lalu tetapi ada juga sebagian yang merasa miris terhadap dirinya karena lemah di saat mengikuti beberapa mata kuliah. Tahukah wahai para sobat, bahwa kuliah itu bukan mencari nilai melainkan mencari ilmu yang halal agar nantinya kita bisa mengelola ilmu tersebut seiring dengan perkembangan zaman di era globalisasi di mana persaingan kerja semakin besar. Meskipun begitu dilain hal menyangkut agama sebagai seorang manusia atau mahasiswa” jika kemampuan dalam perkara agama tidak dimiliki, kemampuan lainnya tidak dapat menggantikannya. Agama merupakan pengganti dari kemampuan lainnya.”

Jangan takut untuk tidak pintar, jika saja kau lemah dimata kuliah namun kau memiliki agama dan keyakinan sebagai seorang islam maka dakwah kau lah yang akan menjadi jati dirimu, bukan IPK yang kau dapat melainkan pahala dan doa. Wahai orang-orang yang memiliki kelemahan dalam masalah agama, takutlah kepada Allah.

“…Dan orang-orang zhalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (Asy-Syu’ara(26):227).

Sebagai mahasiswa yang memiliki karakter islam untuk melakuan perbuatan apapun harus memiliki keistiqamahan didalam diri. Dengan istiqomah, semua perbuatan akan menjadi suci. Kesucian amal saleh dan sahnya suatu keadaan tidak akan terwujud tanpa adanya istiqamah.

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan jangalah melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Hud (11):112).

Jika tidak mampu untuk beristiqamah, berusahalah untuk mendekati tingkatan istiqamah. Kata istiqamah merupakan segala aspek dalam islam. Istiqamah adalah berdiri dihadapan Allah dengan kejujuran yang sesungguhnya dan Allah SWT akan memenuhi janjinya. Adapun karakter yang harus dimiliki oleh seorang mahasiswa dia harus mempunyai “bil quwwah” yaitu merupakan niat yang ikhlas.

Mahasiswa yang memiliki bekal islam yang cukup harus memiliki keikhlasan didalam setiap hal yang ingin dilakukannya. Dengan banyak belajar maka mahasiswa memiliki mentalitas dan persiapan diri yang matang dalam menghadapi segala rintangan dimasa sekarang dan juga masa depannya kelak.

Sedangkan dizaman Rasulullah SAW, para sahabat tidak melakukan sesuatu, hingga mereka tahu bahwa perbuatan tersebut diridhai Allah atau dengan melakukan amal tersebutakan mengantarkannya ke surga. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka meihat kesalahan-kesalaahanya.” (Al-A’raf (7):201).

Mahasiswa muslim yang berkarakter memiliki karakteristik yang berakhlak baik. Allah SWT dengan sengaja mengutus nabi Muhammad SAW untuk menyempurnkan akhlak masyarakatnya. Orang yang menyucikan akhlaknya akan memperoleh derajat yang tinggi begitulah yang begitulah yang disampaikan Dr. Muhammad ash-Shibagh dalam bukunya Nadzarat fil Usrah al-Muslimah.

Akhlak yang mulai merupakan sifat dari Nabi yang juga merupakan salah satu satu bukti ajaran agama Islam. Akhlak yang mulia merupakan semangat kesungguhan orang-orang yang bertakwa dan ingin terus-menerus memperbaiki diri. Berjuang dan terus berjihad dalam menuntut ilmu semata-mata hanya karna Allah SWT. Dengan akhlak yang dimiliki oleh mahasiswa muslim maupun muslimah insya Allah dapat dijadikan pelindung dasar-dasar dan keberadaan unsur akhlak dalam perasaan, tingkah laku, dan kedalaman hati masyarakat.

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada istrinya.” (HR Tirmidzi)

Adapun juga dalam penerapan islam dikesehariannya sebagai umat muslim kita memiliki kelembutan dan meudahkan orang lain, saling membantu, dan memahami kesulitan yang dimiliki orang lain. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa memudahkan, lembut (terhadap orang lain), maka Allah mengharamkannya untuk masuk neraka.” (HR Hakim dan Baihaqi)

Oleh karena itu, sebagai seorang muslim hendaklah kita para sobat senantiasa berbicara dengan kata-kata baik, sopan dan selalu tersenyum. Semuanya ini dilakukan didalam setiap kesempatan kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun. Insya Allah hidupmu akan bahagia sadarilah kaat-kata buruk, kasar, dan selalu cemberut tidak akan mengubah sesuatu yang anda benci.

Karna sesungguhnya setiapa kata yang kau ucapkan merupakan sedekah. Setelah memiliki keistiqomahan dan akhlakul karimah yang juga merupakan perilaku membentuk rasa takut kepada Allah SWT. Seorang mahasiswa muslim dan muslimah harus mempunya keinginan untuk serius dalam menuntut ilmu.

“Menuntut ilmu adalah ibadah, mengajarkan merupakan tasbih, mencari ilmu adalah jihad mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahui adalah sedekah, dan menyerahkannay kepada orang yang berilmu merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.”

Seperti itulah yang disampaikan Mu’adz bin jabal semoga Allah melindunginya. Seorang penuntut ilmu dituntut untuk selalu rendah hati dalam segala hal, tidak sombong kepada siapa pun. Ketika kita sedang berilmu maka diharuskan untuk kita agar terus-menerus mengkaji ilmu tersebut agar tidak lupa. Karna musibah bagi ilmu adalah lupa.

Sedangkan buah dari ilmu tersebut ialah mengamalkannya, pelajarilah ilmu dan terapkanlah. Janganlah kita memperlajari sebuah ilmu hanya karna ingin bergaya, karna sama saja seperti seorang manusia yang bergaya dengan pakaiannya.

Faktor-faktor penting yang dapat dilakukan seorang muslim dalam mendapatkan manfaat dalam melakukan kebaikan.

Pertama, berdoa untuk pemanfaatan waktu untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kedua, zuhud dalam urusan dunia dengan menurunkan tingkat ketergantungan hati kepada dunia. Jangan hanya sibuk mencari dan berambisi kepada dunia.

Ketiga, Takut kepada Allah SWT. Orang-orang yang takut kepada Allah SWT akan melakukan hal-hal yang bermanfaat disetiap waktunya. Dia akan takut kepada kiamat milik Allah sehingga lebih mempersiapkan dirinya untuk akhirat kelak.

Keempat, Niat yang lurus dan cita-cita yang tinggi.

Manusia yang paling mulia, ketika tinggi cita-citanya hingga ia bisa merasakan kelezatan dan kenikmatan yang diberikan oleh Allah dengan melakukan segala sesuatunya melalui kemampuan yang dimilikinya. Menjalankan semua perintah-Nya secara ikhlas dan hanya ingin mendapatkan ridha dari-Nya.(ad)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.