Ustadz ABB Menegaskan Hanya Patuh Kepada Allah.

0
139

Jakarta, beritalangitan.com, Pasca debat capres yang mengangkat tema Hukum, HAM, Terorisme dan Korupsi, publik dikejutkan kabar yang terkait dengan tiga tema besar yang diangkat dalam debat putaran 1 tersebut ( Hukum, HAM dan Terorisme),  berupa kabar pembebasan tanpa syarat Abu Bakar Ba’asyir (ABB), terpidana kasus terorisme.

Yang menjadi alasan dibebaskannya ABB adalah Alasan kemanusiaan karena kondisi kesehatan beliau yang memburuk di usia 81 tahun, konon hal tesebut menjadi dasar persetujuan Jokowi membebaskan AAB atas rekomendasi seorang advokat, yang dikenal sebagai ahli hukum tata negara, Yusril Ihza Mahendra.

Dalam konferensi pers bersama Tim Pengacara Muslim (TPM) di Jakarta Selatan, Yusril Ihza Mahendra menjelaskan proses komunikasinya dengan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (ABB). Menjelang pembebasannya, pengasuh Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki tersebut menolak menandatangai pernyataan setia kepada Pancasila sebagai kelengkapan pembebasan bersyarat dan menegaskan hanya patuh kepada Allah.

Yusril menerangkan undang-undang Indonesia mengatur hak-hak narapidana, antara lain hak mendapatkan remisi, hak untuk mendapatkan bebas bersyarat, hak untuk mendapatkan cuti menjelang bebas. Ustadz ABB sudah memenuhi syarat mendapatkan haknya mendapat remisi pembebasan bersyarat.

“Haknya itu wajib ditunaikan oleh pemerintah, itu dari sisi hukumnya. Jadi tidak bisa dihalang-halangi hak-haknya,” ujar Yusril, Sabtu (19/01/2019).

Ustadz ABB, lanjut Yusril, sudah berhak mendapat pembebasan bersyarat karena sudah lebih dari 2/3 menjalani masa pidananya. Sepanjang menjalani masa pidana terorisme yang dijeratkan kepadanya, Ustadz ABB beberapa kali mendapatkan remisi, dengan total sekitar 36 bulan. Dia mendapat remisi karena berkelakuan baik, dan ABB berhak mendapatkan remisi itu sekaligus mendapat pembebasan bersyarat.

“Terlepas debat bahwa dia melakukan teror atau bukan, tapi secara hukum beliau sudah diputuskan inkrah dipidana karena kejahatan terorisme. Saya sendiri, hati saya tidak yakin beliau teroris. Ini keyakinan saya,” tegas Yusril.

Masalah pembebasan bersyarat ini menjadi panjang, karena ada syarat yang harus disetujui. Salah satu syaratnya adalah pernyataan setia kepada Pancasila, dan syarat ini ditolak Ustadz ABB

“Ustadz Abu katakan, saya tidak mau teken lebih baik saya tetap saja di tahanan sampai tahanan penjara berakhir. Nah inilah materi masalahnya,” ungkap Yusril.

Atas pendirian Ustadz ABB yang tidak mau meneken syarat itu, maka Yusril menghormati pendiriannya. Ketika Yusril mendatangi ABB di Lapas Gunung Sindur, Ustadz Abu juga mengatakan hal yang sama. “Pak Yusril, kalau saya disuruh bebas bersyarat disuruh tanda tangan setia kepada Pancasila, saya tidak akan tanda-tangani,” ujar Yusril menirukan pernyataan ABB.

Ketika ditanya Yusril terkait alasan penolakan tersebut, Ustadz ABB menjawab, “saya hanya setia kepada Allah, saya hanya patuh kepada Allah, jadi tidak akan patuh kepada selain itu. Saya hanya menyembah Allah saja, tidak kepada selainnya. Inilah jalan yang datang dari Tuhanmu, ikutilah jangan mengikuti jalan yang lain,” terang Yusrul, kembali menirukan penuturan Ustadz ABB.

Yusril pun mengaku paham dengan pikiran Ustadz ABB, karenanya dia tidak mau mendebat pemikiran itu. Atas pembicaraan tersebut dengan ABB, Yusril pun menghadap ke Presiden Joko Widodo menjelang debat putaran pertama Capres-cawapres. Jokowi lantas meminta Yusril mencarikan solusinya, dan diusulkan jalan tengah dengan mengendurkan syarat pembebasan.

Setelah itu Yusril kembali mendatangi Ustadz ABB di Lapas Gunung Sindur. Pengasuh Pondok Pesantren Al Mukmin Ngurki itu kembali menanyakan perihal status pembebasannya, apakah jadi tahanan rumah. Yusril pun menjawab bahwa status Ustadz ABB bukan tahanan rumah. “Ustadz dibebaskan dengan syarat yang dimudahkan, bahkan tidak ada syaratnya. Dibebaskan, itu saja,” pungkas Yusril.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.