Ustadz Abu Bakar Ba’asyir Tidak Pernah Dipidana Kasus Bom

0
245

Jakarta, beritalangitan.com – Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) tidak pernah dipidana terkait dengan aksi teror bom mana pun, meski beberapa kali dituduh terlibat, hal tersebut disampaikan oleh Tim Pengacara Muslim (TPM).

Ditegaskan oleh Ketua Dewan Pembina TPM, M. Mahendradatta. “Jika dikaitkan degan Bom Bali, saya katakan Ustadz tidak pernah terbukti dalam bom mana pun. Jika tuduhan sudah, didakwa sudah, tapi tidak terbukti,” ujarnya dalam konferensi pers di kantornya, Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan, Senin (21/01/2019). Dikutip dari kiblat net.

Mahendradatta lantas menyebutkan sejumlah tuduhan di pengadilan yang mengaitkan Pengasuh Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki itu dengan serangan bom. Pertama, Ustadz ABB dituduh mendalangi Bom Bali 1. Setelah persidangan berakhir dia ditahan. Bukan karena terbukti mendalangi Bom Bali, namun Ustadz ABB saat itu dipenjara karena tersangkut masalah KTP di imigrasi. Pengadilan menjatuhkan vonis selama 18 bulan atau satu setengah tahun.

Tuduhan kedua adalah terkait teror bom JW Marriott. Ustadz ABB kembali menjalani pengadilan, namun di pengadilan kasasi pria yang kini berusia 81 tahun itu menang dan dinyatakan tidak terbukti bersalah.

“Ustadz (ABB) tidak pernah terbukti terhadap peristiwa teror pengeboman apapun. Memang kemarin-kemarin dikaitkan dengan teror Thamrin, namun kenyataannya selama ini ustadz berada di penjara super maksimum,” tandas Mahendradatta.

Mahendradatta menambahkan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir berbeda pendapat dengan trio bomber Bali. Dalam persidangan terdakwa ustadz Mukhlas, Ustadz ABB memberi pernyataan bahwa tidak akan memberi izin jika dirinya dimintai izin terkait aksi itu.

Sementara, penahanan yang dijalaninya saat ini terkait dituduh mendanai pelatihan militer di hutan Jalin, Janto, Aceh pada 2009. Belakangan instruktur kegiatan itu terlibat aksi terorisme. Mahendra menyebut Ustadz Abu pun tidak mengenalnya.

“Niat Ustadz (ABB) mendanai pelatihan itu adalah untuk latihan ke Palestina,” imbuh Mahendradatta.

Melengkapi penjelasan Mahendra, anggota TPM Ahmad Michdan menjelaskan bahwa Ustadz Abu memang menghimpun dana untuk disalurkan ke Palestina. Sekitar 500 Juta yang terkumpul disalurkan untuk membangun rumah sakit Indonesia di Palestina.

“Ada yang minta sumbangan waktu itu, sama Ustadz diberikan sekitar lima puluh juta untuk latihan mereka yang akan berangkat berjihad di Palestina,” tutur Michdan.

Aparat mengaitkan dana itu sebagai pendanaan gerakan teror. Dalam proses persidangan, pengadilan menjatuhkan vonis hukuman 15 tahun penjara kepada Ustadz Abu.

Terkait sikap Ustadz Abu yang menyatakan tak bersedia membuat dokumen pernyataan sebagai kelengkapan pelepasan bersyarat, Mahendradatta menegaskan penolakannya bukan semata karena harus menyatakan setia kepada Pancasila. Lebih dari itu, karena dokumen itu di dalamnya mencakup pernyataan dirinya harus mengakui bahwa telah menyesal dan tidak akan mengulangi lagi.

“Disini Ustadz Abu sampai kapanpun tidak akan mengakui, karena dia merasa tidak bersalah,” kata Mahendradatta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.