A. Mansur Suryanegara dan Sejarah Islam Indonesia

0
1313
Oleh : Dr. Asvi Warman Adam, Ahli Peneliti Utama LIPI

Beritalangitan.com – Patut dihargai sekali penerbitan Api Sejarah setebal 584 halaman oleh Ahmad Mansur Suryanegara, sejarawan senior yang masih aktif berkarya. Usia beliau 74 tahun dengan kalender Masehi dan dapat “bonus” tiga tahun bila memakai kalender Hijriah.

Buku Api Sejarah yang ditulis Ahmad Mansur Suryanegara (selanjutnya disingkat AMS) sangat menarik untuk diperdebatkan. Perdebatan yang pertama tentu tentang sumber yang dipakai (kritik sumber jelas sesuatu yang mesti dilakukan sejarawan dalam bekerja) dan kedua tentang perspektif yang digunakan. Beberapa topik dalam buku ini sudah pernah muncul dalam buku Menemukan Sejarah, Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, 1995.

Buku AMS menggunakan sumber sekunder. Tentu sejarawan tidak mengambil kesimpulan dari sebuah sumber saja, apalagi sumber yang tidak jelas. AMS menyatakan bahwa Sisingamangaraja XII beragama Islam dengan mengutip seseorang bernama Sukatulis yang terbit tahun 1907. Siapa Sukatulis, apa judul buku karya dia, tidak diperoleh informasi sedikitpun pada buku AMS, baik yang sekarang maupun yang terdahulu.

Di dalam karya AMS terkesan ia mencoba menggambarkan seorang tokoh yang dipilihnya secara “lebih islami” seperti halnya Kartini. Dalam pembacaan saya selama ini, Kartini adalah seorang perempuan Jawa beragama Islam secara abangan. Tentu saja boleh hal ini dilakukan sepanjang sumber yang digunakan memang sahih dan akurat. Saya sudah pernah membandingkan tulisan AMS dengan opini penulis Kristen Protestan, Katolik, Buddha dan Komunis yang masing-masing memperebutkan “agama” Kartini.

Pada buku Api Sejarah dalam uraian tentang suatu peristiwa ditemukan padanan penanggalan tahun Masehi dengan tahun Hijrah. Kalau akan dihafalkan oleh siswa jelas itu menambahkan kerepotan.

Bahwasanya agama Islam yang masuk ke Indonesia langsung dari Arab atau melalui Persia, India (Gujarat), dan Cina, menurut hemat saya, semuanya mungkin benar dan melalui perkembangan waktu yang panjang (bersamaan atau tidak bersamaan). Di dalam buku Menemukan Sejarah dikemukan tiga teori tentang masuknya Islam ke tanah air, tetapi pada buku Api Sejarah, teori itu sudah bertambah menjadi empat, baguslah. Hanya perlu dibedakan, kalau kita ingin menentukan tanggal atau periode masuknya Islam ke nusantara, pengertian tentang a. datang (de komst), b. diterima (receptie), c. berkembang (uitbreiding). Datang (terdapat bekas Islam di suatu tempat), diterima dan berkembang (sudah ada masjid), muncul sebagai kekuatan politik (sultan memerintah). Penyebaran dan penerimaan agama Islam itu terkait pula dengan berbagai motif (ekonomi, religius, dan politis).

Buku ini terdiri atas empat bab yaitu 1. Pengaruh Kebangkitan Islam di Indonesia, 2. Masuk dan Perkembangan Agama Islam di Nusantara Indonesia, 3. Peran Kekuasaan Politik Islam Melawan Imperialisme Barat, dan 4. Peran Ulama dalam Gerakan Kebangkitan Kesadaran Nasional (1900-1942).

Menurut pandangan saya, kedatangan dan pengaruh Islam di nusantara tidak terlepas dari pengaruh luar yang sudah sebelum dan sesudahnya. Penduduk asli nusantara menganut animisme sebelum kedatangan — meminjam istilah Denys Lombard — empat nebula (mega budaya) yang berasal dari India (Hindu/Buddha), Arab (Islam), Cina (Konghucu) dan Eropa (Kristen/Katolik). Keempat nebula ini berinteraksi dengan warga dan budaya lokal di samping sesama megabudaya itu sendiri. Percampuran keempat nebula misalnya dapat digambarkan pada seorang Jawa yang beragama Islam dari kalangan ningrat berpendidikan Barat tetapi masih suka membakar kemenyan atau menaruh sesajen bagi arwah leluhur.

Identitas yang bersangkutan bagai kulit bawang yang setelah dikupas satu per satu kelihatan penanda yang berbeda, paling luar yang tampak adalah pria berdasi direktur bank yang pada kolom agama KTP tertulis Islam, memakai bahasa Jawa kromo yang mengandung hierarkis itu di rumah dan percaya kepada kesaktian kerisnya.

Identitas berlapis adalah konsekuensi dari faktor globalisasi budaya yang memasuki nusantara sejak berabad-abad silam. Itulah sebabnya dalam sejarah perkembangan Islam di nusantara itu selalu ada upaya pada suatu kalangan untuk “memurnikan” agama dan di pihak lain ada keinginan untuk membaurkannya dengan unsur lokal.

PELURUSAN SEJARAH ISLAM

Agama Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian. Daripada menyerang atau menjelekkan agama lain, kiranya lebih baik memperbaiki diri sendiri lebih dahulu. Kalau Islam dipojokkan atau dijadikan kambing hitam, tentu kita harus bereaksi bahkan melawan.

Pada masa Orde Baru di bawah kepemimpinan Jenderal Benny Murdani ada upaya untuk membesarkan bahaya “ekstrem kanan” (EKA) atau Islam radikal seperti tergambar dalam Museum Waspada Purba Wiwesa yang diresmikan tahun 1987. Memang ada kalangan muslim yang “keras” tetapi pada umumnya penganut Islam di tanah air bersifat moderat. Saya menentang penyamaan Islam dengan terorisme atau radikalisme.

Buku Sintong Panjaitan yang baru terbit beberapa waktu lalu menyebutkan keberhasilan melumpuhkan pembajak pesawat Garuda “Woyla” di Bangkok. Para pembajak ini dikaitkan dengan kelompok keras Islam. Terdapat keanehan dalam operasi Woyla yang dipimpin Sintong. Sebelum berangkat ke Bangkok mereka sempat berlatih di bandar udara Kemayoran dengan menggunakan pesawat Garuda yang sejenis. Setiba regu pembebas di Thailand mereka sekali lagi melakukan latihan penyelamatan dengan memakai pesawat serupa di Pelabuhan Udara Don Muang. Terlihat jelas bahwa ini mirip upacara bendera atau kegiatan kesenian, sebelum “pertunjukan” yang sesungguhnya ditampilkan di pentas sudah dilakukan dua kali geladi kotor dan geladi resik. Berapa orang pembajak yang ditembak dan berapa yang masih hidup juga menjadi tanda tanya.

Kasus Talangsari Lampung juga menjelekkan citra Islam. Beberapa buku yang ditulis mengenai masalah tersebut terkesan “dipesan” oleh tokoh yang ditengarai terlibat dalam penyerbuan bersenjata di desa tersebut. Ada buku yang merupakan karya akademis mengenai kasus Usroh ini yang ditulis Abdul Syukur pada pascasarjana UI. Buku ini diluncurkan oleh Kontras yang dipimpin almarhum Munir. Juga perlu diluruskan uraian pada buku Sejarah Nasional Indonesia (edisi pemutakhiran diterbitkan Balai Pustaka, 2008) yang jilid 6 disunting oleh Saleh Djamhari yang menimpa umat Islam Tanjung Priok. Kasus ini dianggap sebagai perbuatan radikalisme.

Jadi, sebetulnya ada berbagai cara untuk meluruskan sejarah umat Islam di Indonesia. Ahmad Mansur Suryanegara telah mencoba memetakan permasalahnya dalam puluhan subbab yang ditulis belum lengkap. Tugas para sejarawan di Jawa Barat untuk mengisinya secara utuh dengan menggunakan sumber yang sahih. Karena kita bisa menemukan api sejarah apabila menggunakan sumber yang benar. Bila yang dipakai sumber yang tidak jelas, yang dijumpai hanya abu sejarah.

Sumber : serbasejarah.wordpress.com / koran PR 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.