Barakatul Huda Manonjaya Tasikmalaya Konsisten denganSalafiyah Meski Godaan di Depan Mata

0
1666
KH. Enjang Misbah dan Ustd. Ade Yusuf

Beritalangitan.com – Masih di lingkungan kecamatan Manonjaya Tasikmalaya tak seberapa jauh dari alun-alun, kita dapat dengan mudah menemukan Pondok Pesantren Barakatul Huda, pondok pesantren dengan santri lebih dari dua ratus orang ini memang tidak bisa dikatakan kecil meskipun tidak sebesar induknya Pesantren Miftahul Huda,  tetapi suasana salafiyah yang sangat kental bisa dirasakan disini, dimana kehidupan santri di asrama atau biasa disebut kobong dapat dilihat tanpa tercampur dengan format pendidikan formal.

Pesantren dibawah pimpinan KH. Enjang Misbah bersama istrinya Hj. Elin Tsamrotul Fua’adah ini memiliki lahan lebih dari satu hektar, bermula dari sebidang tanah wakaf kemudian pesantren ini akhirnya berkembang seluas saat ini, ketika di temui team beritalangitan.com KH. Misbah didampingi menantunya Ust. Ade Yusuf suami dari anak tertuanya Aufa’un Nisa yang kini menjadi salah satu tulang punggungnya dalam mengelola pesantren Barakatul Huda ini.

Masjid Barakatul Huda
                    Masjid Barakatul Huda

Mengangumkan bagaimana mendengar kisah perjalanan Pesantren yang dituturkan sang Kyai bersama menantunya ini, memulai dari nol dengan jerih payah sendiri dengan dibekali sebidang sawah oleh mendiang KH. Choer Affandi untuk bekal hidupnya KH. Enjang Misbah berjuang membesarkan Barakatul Huda, bahkan sebelum ada adik dan menantunya, dirinya mengajar sendiri dari pagi sampai malam hari santri-santrinya selama bertahun tahun, hingga saat ini  alumni Barakatul Huda sudah membuka seratus pesantren baru, ditambah seratus lagi yang masih dalam proses.

Luar biasa melihat kegigihan dan kerja keras Kyai ini, selain mampu bertahan dengan segala kesulitan ekonomi, dirinya pun tetap konsisten memegang teguh kesalafiannya, menurutnya konsep pendidikan salaf itu tak bisa disatukan atau disejajarkan dengan format pendidikan formal, jadi meskipun santri di bolehkan untuk bersekolah tetapi harus ditempat terpisah, karena konsep pendidikan salaf itu tak sama dan tak bisa disatukan.

Begitupun dengan desakan kebutuhan sarana prasarana yang meskipun sangat kesulitan dan intinya tak mau jika itu harus melepaskan konsep kesalafiannya, pernah satu ketika Pemerintah menawarkan bantuan fisik gedung bernilai ratusan juta terima jadi asal harus menjadi boarding school tetapi di tolaknya mentah-mentah, dengan alasan sederhana dan merendah bahwa dirinya tidak akan sanggup menjalankan sekolah semodern itu.

Padahal sejatinya Kyai yang gigih ini hanyalah tak ingin melepaskan kesalafiannya ataupun mencampurinya dengan format disiplin ilmu yang lain, baginya Salafiyah itu harga mati dan tak bisa di tawar-tawar lagi, bahkan menurut menantunya Ust. Ade Yusuf “harus ber Ta’udz kalau terlintas berfikir untuk mencampuri salafiyah dengan sekolah modern’’.  (team beritalangitan.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.