Biografi riwayat perjuangan Kyai Haji Ahmad Sanusi (2)

0
1045

Beritalangitan.com – Karya-Karya K.H. Ahmad Sanusi. Pengasingan yang dijalani oleh K. H. Ahmad Sanusi memberikan dampak positif terhadap dirinya. Selama menjalani pengasingannya di Batavia Centrum, ia menunjukkan dirinya sebagai ulama yang produktif dalam menulis buku. Perjuangan dalam menegakkan kebenaran dalam konteks ibadah Islam tidak hanya dapat dilakukan dengan cara berdakwah secara langsung. Pemikiran-pemikirannya yang sedikit banyaknya terpancing oleh adanya pengaduan dari para jamaah dituangkan oleh K. H. Ahmad Sanusi dengan menulis buku.Hal tersebut mudah dipahami karena sebagai orang yang sedang menjalani pengasingan, ruang geraknya sangat dibatasi. Sementara itu, jika tidak menanggapi pengaduan-pengaduan para jamaah yang menyangkut masalah keagamaan, maka masayarakat akan mengalami kebingunan dalam menjalankan praktik-praktik keagamaannya. Oleh karena itu, ia menuliskan pemikirannya dengan menerbitkan berbagai buku.

Selain itu, produktivitasnya dalam penerbitan buku menunjukkan bahwa K. H. Ahmad Sanusi merupakan kyai tradisional yang memiliki pikiran progresif.Ia tidak hanya berdiam diri sambil memegang kuat keyakinan tradisionalnya. Ia memberikan suatu pembelaan terhadap para ulama terdahulu yang menurut kaum mujadid pemikirannya tidak perlu dijadikan bahan rujukan untuk ber-taqlid. Namun yang terpenting adalah meskipun ia diasingkan ke Batavia Centrum sehingga meninggalkan para santri dan jamaahnya di Sukabumi, proses pembelajaran terhadap mereka tetap dapat dilakukan oleh dirinya. Pada hakikatnya, dia tetap melaksanakan proses mengajar tetapi dengan menggunakan media berbeda.

Materi-materi keagamaan yang disampaikan kepada para santri dan jamaahnya ddilakukan melalui sebuah buku. Tafsir Qur’an, misalnya, ia secara rutin menuliskannya ke dalam beberapa buku (buletin) yang secara rutin ia terbitkan di Batavia Centrum. Dengan demikian, meskipun ia diasingkan dari lingkungan sosial-budayanya, namun ia tidak meninggalkan dunia pendidikan. Proses pendidikan terhadap para santrinya tetap dapat dilakukan. Para kyai yang menggantikannya di pesantren terlebih dahulu mendiskusikan tafsir yang ditulis gurunya itu ketika menjenguknya ke Batavia Centrum.

Dari menulis buku inilah, K. H. Ahmad Sanusi dapat bertahan hidup selama pengasingannya di Batavia Centrum karena buku-bukunya itu banyak dibeli orang (Sipahoetar, 1946: 73).Produktivitasnya dalam menulis buku diperlihatkan dengan kemampuannya dalam menerbitkan buku yang jumlahnya mencapai ratusan judul, seperti yang dilaporkan oleh dirinya kepada Pemerintah Militer Jepang tahun 1942.Adapun buku-buku yang ditulis dan diterbitkan oleh K. H. Ahmad Sanusi adalah sebagai berikut.

A. Buku yang ditulis dalam Bahasa Sunda

1. Al loe, loeoennadid (Menerangakan Bahasan Ilmoe Taoehid)

2. Matan Ibrohiem Badjoeri Gantoeng Logat

3. Matan Sanoesi Gantoeng Logat

4. Madjma‟oel Fawaid (Tardjamah Qowaidoel Aqoid)

5. Taoehidoel Moeslimien

6. Tardjamah Risalah Qoedsijah

7. Tardjamah Djauharotoettaoehid

8. Tidjanul Gilman (Elmoe Tadjwied Qoeran)

9. Hiljatoellisan

10. Tardjamah Fiqih Akbar karangan Imam Hanafi

11. Hiljatoel Goelam (Bab Siam)

12. Mifathoe Darissalam

13. Al Hidajah (Menerangkan Hadits2 Kitab Sapinah)

14. Al Djaoeharotoel Mardijah (Fiqih Sjafe’ie)

15. Misabahoel Falah (Wiridan Sore dan Soeboeh)

16. Sirodjoel Afkar (Wiridan Siang dan Malam)

17. Matolioel Anwar (Bab Istigfar)

18. Al Kawakiboeddoerrijjah (Do’a2 Nabi)

19. Al Adwijatoessafiah (Bab Solat Hadjat dan Istihoroh)

20. Daliloessairien (Menerangkan Keoetamaan Solawat)

21. Al „Oekoedoel Fachiroh (Menerangkan Istiharoh Moetahadjdjiroh)

22. Tahdziroel Awam (Menerangkan Kesetiaan Madjalah Tjahaja Islam)

23. Kasjfoenniqob (Tardjamah Qowai’doel Irob)

24. Doeroesoennahwijjah (Keterangan Adjroemijah)

25. Al Madjama‟atoel Moefidah (Menerangkan Tiga Kitab)

26. Matan Sorop Bina (dengan segala keterangannja)

27. Attamsjijjatoel Islamijjah (Manaqib Imam Ampat)

28. Moethijjatoel Goelam (Tardjamah Manteq Soelam)

29. Sirodjoel Moeminien (Doe’a Fadilah Jasin)

30. Fachroel Albab (Manaqib Wali2)

31. Al Moefhimat (Menerangkan Pabid’ahan dan Idjtihad)

32. Al Djawahiroel Bahijjah (Peradaban Istri)

33. Sirodjoel Oemmah (70 Choesoesijat Djoemah)

34. Hidajatoel Azkija (Tardjamah Azkija)

35. Tasjqiqoel Aoeham (Menolak Madjalah Tjahaja Islam)

36. Silahoel Basil (Menolak Kitab Tazahiqoel Bathil)

37. Al Isjaroh (Membedakan antara Dijafah dan Sodaqoh)

38. Kasjifoel Aoeham (Tentang Menjentoeh Qoeran)

39. Hilaatoel Iman (Kaifijat Chatam Qoeran)

40. A‟qoiduddoeror (Mema’nakan Kitab Barzandji)

41. Bahasan Nadlom Jaqoeloe (Ilmoe Sorof)

42. Tanwiroerribat (Sjarah Nadom Imriti)

43. Kifajatoel Moebtadi (Bahasan Samarqondie Ilmoe Bajan)

44. Tarbijatoel Islam (Menerangkan Adab2 Islam)

45. Miftahoel Gina (Tentang Tasbeh)

46. Doe‟a Nabi Ibrohiem

47. Mandoematurridjal (Tawasoel Kepada Aulija)

48. Tafsier Soerat Jasin

49. Tafsier Soerat Waqi‟ah

50. Tafsier Soerat Tabarok

51. Tafsier Soerat Doechon

52. Tafsier Soerat Kahfi

53. Sirodjoel Wahadj (Kitab Mi’radj)

54. Manaqib Sjech Abdoel Qodie Djaelani

55. Jasin Waqi‟ah

56. Kitab Asmaoel Hoesna

57. Bab Taraweh

58. Bab Aer Teh

59. Al‟Oehoed fil Hoedoed

60. Al Aqwaloel Moefidah (Tentang Adzan Awal)

61. Tanbihoettoelabah (Choetbah Djoemah)

62. Arroe‟oedijjah (Menolak Dowabit Qontoerijah)

63. Tardjamah Ajjoehal Walad Gozalie

64. Maldjaoettolibien Djoez Ama

65. Maldjaoettolibien (24 Boekoe dari 100 Djoez Qoeran)

66. Hidajatussomad (Tardjamah Zoebad)

67. Tardjamah Kitab Hikam

68. Al Hidajatoel Islamijjah (10 Boekoe Hoeroef Latin)

69. Pengadjaran Al Ittjihad (7 Nomer)

70. Tabligoel Islam (10 Nomer)

71. Addaliel (10 Nomer)

72. Noeroel Iman (5 Nomer)

73. Tardjamah Ilmoe Moenadoroh

74. Pengadjaran Istri (2 Nomer)

75. Mindoroh

76. Oesoeloel Islam

77. Koerses Al Ittihad

78. Kitab Bab Tioeng

79. Idjtihad Taqlied

80. Tarich Ahli Soennah

81. Dijafah dan Sodaqoh

82. Bab Djoemah

83. Bab Adab Awal

84. Bab Zakat dan Fithrah

85. Qowaninoeddinijjah (Bab Zakat)

86. Bab Nikah

87. Raoedlotoel „Irfan (17 Boekoe dari 17 Djoez Qoerqn)

88. Hiljatoel Aqli (Bab Moertad)

89. Al Moethohhirot (Bab Moesjrik)

90. Assoejoefoessorimah (Menolak Matjam2 Bid’ah)

91. Kitab Talqin

92. Hoedjdjatoel Qot‟ijjah

93. Bab Kematian

94. Firqoh (8 Nomer)

95. Al Moefid (6 Nomer)

96. Silahoel Mahijah Firqoh 73

97. Al Kalimatoel Moebajjinah (Ilmoe Badé)

98. Al Kalimatoel Moezhiqoh

99. Tafsier Boechorie

100. Tanwiroeddoelam fi Firoqil Islam

101. Targib Tarhib

B. Buku yang ditulis dalam Bahasa Melayu

1. Tafsier Maldjaoettolbien (1 Boekoe)

2. Fadoiloel Kasbi (Bab Kasab dan Ichtiar)

3. Mifatahoerrohmah (Bab Hadijah)

4. Tamsjijjatoel Moeslimin (53 Boekoe dari 7 ½ Djoez Qoeran)

5. Bab Woedloe

6. Bab Bersentoeh

7. Lidjamoel Goeddar (Bab Ajah Boenda Nabi)

8. Jasin Waqi‟ah di Gantoeng Loegat dan Keterangannja

9. Asmaoel Hoesna dengan ma‟nanja serta Choesoesijatnja

10. Tahdziroel Afkar (Menolak Kitab Tasfijatoel Afkar)

11. Loe Loeunnadies Ilmoe Taoehid

12. Taoehidoel Moeslimien (Tentang Ilmoe Taoehied)

13. Al Djawahiroel Bahijah (Tentang Adab-Adaban Istri)

14. Koerses Lima Ilmoe (10 Nomer)

15. Bahasan Adjroemijah

16. Hoeljatoel A‟qli (Bab Moertad)

17. Addaliel (10 Nomer)

18. Bab Istighfar

19. Fathoel Moeqlatain (Tentang Pendirian Djoemah)

20. Noeroel Jakin (Penolakan Ahmadijah Qadian Lahore, 2 Boekoe)

21. Tolakan Kepada Foetoehat

22. Silahoel Irfan (2 Boekoe dari 2 Djoez Qoeran)

23. Miftahoel Djannah

C. Peran K.H. Ahmad Sanusi Dalam Sarekat Islam

Peristiwa perkenalannya dengan Haji Abdul Muluk lah yang menghantarkan H. Ahmad Sanusi untuk terlibat dalam bidang politik. Keterlibatannya di bidang politik semakin jelas pada saat ia melakukan pembelaan bagi Sarekat Islam. Pembelaan yang dilakukan oleh H. Ahmad Sanusi terhadap Sarekat Islam bermula dari beredarnya sebuah surat tanpa identitas (surat kaleng) yang isinya menuduh Sarekat Islam bukanlah sebuah organisasi yang berlandaskan Islam. Surat kaleng itu tidak hanya diterima dan dibaca oleh H. Ahmad Sanusi, tetapi diterima juga oleh Syaikh Achmad Khatib dan K. H. Muchtar, dua orang ulama Indonesia yang bermukim di Mekkah. Bahkan, surat tersebut sampai juga ke tangan K. H. Moehamad Basri dari Pesantren Babakan, Cicurug, Sukabumi. Menurut K. H. Moehamad Basri surat itu ditulis oleh Sayyid Utsman Betawi karena ada kemiripan dari gaya bahasanya (Verklaring H. Moehamad Basri dalam Koleksi R. A. Kern, No. 278. KITLV).

Surat kaleng itu diterima H. Ahmad Sanusi tanggal 5 Dzulhijah 1333 Hijriah dan segera menyebar di kalangan jamaah sehingga akan berpotensi dapat menghancurkan Sarekat Islam. Sementara itu, K. H. Moehamad Basri menerima surat yang sama di Sukabumi sekitar tahun 1913  Sebagai anggota, H. Ahmad Sanusi merasa terpanggil untuk membantah isi surat tersebut. Menurut keyakinannya, keburukan-keburukan Sarekat Islam yang dimuat dalam surat kaleng tersebut merupakan sebuah fitnah untuk mengadudombakan kaum muslimin Indonesia dengan cara menghancurkan organisasi pergerakannya. Pembelaan yang dilakukan oleh H. Ahmad Sanusi dituangkannya dalam sebuah buku yang berjudul Nahratoeddarham. Dalam bukunya itu, H. Ahmad Sanusi membeberkan berbagai kebaikan Sarekat Islam yang tercantum dalam statuten-nya, antara lain mengenai tujuan didirikannya Sarekat Islam.

Buku yang masih dalam bentuk draft itu kemudian dikirim kepada K. H. Moehamad Basri dari Cicurug untuk dikoreksi. Akan tetapi, setibanya kembali di Cantayan tahun 1915, draft kitab Nahratoeddarham tersebut tidak pernah dikembalikan oleh K. H. Bisri kepada H. Ahmad Sanusi. Rupa-rupanya, oleh K. H. Bisri, buku itu dikirim kepada H. Moechtar dan ketika H. Ahmad Sanusi melihatnya, draft bukunya itu sudah ada catatan-catatan tambahan (Proces Verbaal Hadji Ahmad Sanoesi tanggal 7 Oktober 1919 dalam Koleksi R. A. Kern No. 278. KITLV). Berdasarkan keterangan H. Moechtar, K. H. Bisri bermaksud akan menyerahkan kembali buku itu apabila H. Ahmad Sanusi sudah pulang dari Mekkah. Buku itu diberikan kepada H. Moechtar dengan maksud untuk didiskusikan supaya kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam buku itu dapat diperbaiki (Proces Verbaal Raden Hadji Moechtar tanggal 15 Oktober 1919 dalam Koleksi R. A. Kern No. 278. KITLV).Sayangnya, sebelum buku itu diterima kembalioleh H. Ahmad Sanusi, Pemerintah Hindia Belanda telah menemukan buku itu dan menganggap buku berbahaya sehingga melarang untuk disebarluaskan.

Bentuk pembelaan lain yang dilakukan oleh H. Ahmad Sanusi adalah mengajak berdebat kepada orang yang tidak menyukai Sarekat Islam. Dalam perdebatan itu, materi yang disampaikan oleh H. Ahmad Sanusi tidak begitu berbeda dengan isi buku Nahratoeddarham ketika membahas Sarekat Islam. Intinya, ia membela Sarekat Islam karena berdasarkan statuten-nya (anggaran dasarnya), organisasi ini bertujuan hendak melepaskan ketergantungan bangsa pribumi dari bantuan bangsa asing. Dengan perkataan lain, perjuangan H. Ahmad Sanusi tidak hanya sebatas menegakkan hukum Islam, melainkan juga sudah memperlihatkan jiwa nasionalisme.

Selain itu, masalah kepercayaan dan mazhab pun menjadi tema perdebatan H. Ahmad Sanusi ketika berdebat dengan para ulama Ahmadiyah.Dengan ilmu dan pengetahuannya yang begitu dalam serta wawasan yang begitu luas, perdebatan-perdebatan tersebut dapat dilakukan oleh H. Ahmad Sanusi dengan baik. Oleh karena itu, di kalangan kaum mukimin di Mekkah ia dikenal sebagai ahli debat (Iskandar, 1993: 25).

Pada tahun bulan Juli 1915, H. Ahmad Sanusi pulang ke Cantayan, kampung halamannya yang telah ditinggalkan sejak tahun 1910.Setibanya di Cantayan, H. Ahmad Sanusi langsung membantu orang tuanya mengajar agama di Pesantren Cantayan. Gaya mengajarnya berbeda dengan gaya mengajar para kyai lainnya, termasuk dengan orang tuanya. Dia mengajar dengan bahasa sederhana dan menerapkan metode halaqah.Ternyata hal itu berdampak positif karena materi pelajaran yang disampaikannya dapat diterima relatif dengan mudah oleh para santri dan jamaahnya. Oleh karena itu, dalam waktu yang relatif singkat, K. H. Ahmad Sanusi telah mendapat gelar dari masyarakat dengan panggilan Ajengan Cantayan atau dalam sumber kolonial dipanggil dengan sebutan Kyai Cantayan (Proces Verbaal Hadji Ahmad Sanoesi tanggal 7 Oktober 1919 dalam Koleksi R. A. Kern No. 278. KITLV; Sipahoetar 1946: 72).

Di tengah-tengah kesibukannya mengajar di Pesantren Cantayan, K. H. Ahmad Sanusi didatangi oleh H. Sirod.Oleh Presiden Sarekat Islam Sukabumi itu, H. Ahmad Sanusi diminta untuk menjadi penasihat (adviseur) Sarekat Islam Sukabumi. Sebelum menerima tawaran itu, K. H. Ahmad Sanusi mengajukan beberapa syarat, yaitu

1. Tidak menerima perempuan sebagai anggota.

2. Para anggota harus secara mutlak patuh terhadap anggaran dasar (statuten).

3. Para anggota harus berpegang teguh kepada agama.

4. Iuran anggota sebesar f 0,10 jangan semuanya disetorkan kepada pengurus besar. Iuran itu harus dibagi dua, masing-masing f 0,05 untuk pengurus besar dan f 0,05 lagi harus dijadikan sebagai kas sebagai modal organisasi untuk memajukan anggotanya dalam urusan perdagangan atau urusan lainnya (Proces Verbaal Hadji Ahmad Sanoesi tanggal 7 Oktober 1919 dalam Koleksi R. A. Kern No. 278. KITLV).

Syarat yang diajukan oleh K. H. Ahmad Sanusi ternyata diterima oleh H. Sirod sehingga sejak Juli 1915, ia menjadi penasihat (adviseur) Sarekat Islam Sukabumi. Akan tetapi, jabatan itu hanya dipegang oleh K. H. Ahmad Sanusi selama sepuluh bulan.Sekitar bulan Mei 1916, K. H. Ahmad Sanusi mundur dari jabatannya itu karena dua hal. Pertama, ia merasa sudah tidak dapat mengerti lagi arah perjuangan Sarekat Islam. Kedua, ia merasa dikhianati oleh pengurus Sarekat Islam Sukabumi karena persyaratan yang diajukannya ternyata sama sekali tidak dijalankan oleh pengurus Sarekat Islam Sukabumi. Meskipun resminya ia mundur dari kepengurusan Sarekat Islam Sukabumi, tetapi pada kenyataannya Hoofdbestuur Sarekat membekukan juga keanggotaannya di Sarekat Islam (Proces Verbaal Hadji Ahmad Sanoesi tanggal 7 Oktober 1919 dalam Koleksi R. A. Kern No. 278. KITLV).

Kiprah K. H. Ahmad Sanusi di Sarekat Islam memang tidak terlalu lama, hanya sekitar 3 tahunan.Meskipun hanya seumur jagung, namun mampu menunjukkan perhatian yang luar biasa terhadap Sarekat Islam.Ketika organisasi ini diserang dan dituduh bukan sebagai organisasi keislaman, K. H. Ahmad Sanusi tampil membelanya dengan menulis sebuah kitab yang berjudul Nahratoeddarham.Ia berusaha untuk meyakinkan umat Islam bahwa Sarekat Islam merupakan sebuah organisasi yang memiliki tujuan baik antara lain membebaskan orang-orang pribumi (bangsa Indonesia) dari ketergantungannya terhadap bantuan orang-orang asing. Ini bisa diartikan bahwa pada dirinya ada keinginan untuk membesarkan Sarekat Islam karena ia pun memiliki tujuan hendak membebaskan bangsanya dari kekuasaan bangsa asing dengan memajukan pendidikan, perekonomian, dan pertanian orang-orang pribumi. Oleh karena itu, mudahlah dipahami mengapa ia meminta syarat agar uang kontribusi tidak semuanya disetorkan ke Hoofdbestuur Sarkat Islam, melainkan sebagian dimasukkan ke kas cabang Sarekat Islam sebagai modal kegiatannya.

Meskipun sejak Mei 1916 K. H. Ahmad Sanusi sudah tidak aktif lagi di Sarekat Islam Sukabumi, baik sebagai pengurus maupun anggota, tetapi hubungan personal dengan para anggota Sarekat Islam Sukabumi terus terjalin.Selain itu, perkembangan organisasi itu pun dapat dipantau oleh K. H. Ahmad Sanusi, karena banyak santrinya yang masuk menjadi anggota Sarekat Islam.Mereka bukanlah “pion-pion” yang disusupkan oleh K. H. Ahmad Sanusi ke Sarekat Islam Sukabumi dengan tujuan untuk mengendalikan organisasi tersebut.Para santrinya masuk menjadi anggota Sarekat Islam karena keinginan sendiri, bukan disuruh oleh gurunya itu. Hal tersebut menunjukkan bahwa ia sangat menghargai perbedaan pendapat. Ia tidak memaksakan kehendaknya, sekalipun kepada para santrinya. Akan tetapi, ketika sudah menyangkut hukum, wataknya keras yang acapkali digambarkan sebagai seorang diktator, muncul ke permukaan.Dengan sikapnya itu, segala permasalahan yang dihadapi umat mampu diatasi dengan baik oleh Ajengan Cantayan itu (Sipahoetar, 1946: 71).

Pada tahun 1950 ia dipanggil untuk menghadap-Nya. Berita wafatnya Ajengan Sanusi begitu cepat menyebar dan dalam waktu yang sekejap ribuan umat Islam berkumpul di Pesantren Gunung Puyuh.

Sumber : http://www.academia.edu

Daftar Pustaka

Abdullah, Tuafik. 2001. Nasionalisme dan Sejarah. Bandung: Satya Historika.

Bahar, Saafroedin (eds.). 1995. Risalah Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI); Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI); 28 Mei 1945-22 Agustus 1945. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia. 

Benda, Harry J. 1980. Bulan Sabit dan Matahari Terbit: Islam Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang. Terj. Dhaniel Dhakidae. Jakarta: Pustaka Jaya.

Jaya, Ruhatna. 1995. Sejarah Perguruan Islam Syamsul Ulum Gunung Puyuh.Sukabumi.

Kahin,George McTurnan. 1970. Nationalism and Revolition in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press. 

Kohn, Hans. 1984. Nasionalisme; Arti dan Sejarahnya. Terj. Sumantri Mertodipuro. Jakarta: Erlangga.

Lubis, Nina H. et al. 2005. Peta Cikal Bakal TNI. Bandung: Puslit Kemasyarakatan & Kebudayaan Lemlit Unpad. 

Moedjanto, G. 1993. Indonesia Abad Ke-20; Dari Kebangkitn Nasional sampai Linggjati. Yogyakarta: Kanisius.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.