Pondok Pesantren Al, Mu’in Pesantren Salafi yang Menjelma Menjadi Pesantren Modern Salafi

0
624

Cianjur beritalangitan.com – Cianjur memiliki predikat sebagai kota santri terdapat banyak sekali pondok pesantren yang sudah berdiri sejak zaman penjajahan, salah satunya adalah Pondok pesantren Al-Mu’in, pondok ini adalah salah satu pesantren tua yang berada di Kabupaten Cianjur, tepatnya di Jl. Raya Sukabumi KM. 6, Ciwalen, Kec. Warungkondang, Kabupaten Cianjur. Berdiri sejak tahun 1966 dan didirikan oleh Kyai sepuh, KH Dahlan Saefullah.

Yang mana KH Dahlan Saefullah pada waktu itu tinggal di Tanggeng cianjur selatan dan sudah memiliki pesantren. Namun dikarenakan adanya longsor di area pesantren sehingga pesantren beliau mengalami rusak parah dan tidak dapat digunakan kemba, akhirnya KH Dahlan Saefullah memutuskan untuk pindah ke rumah mertuanya di warungkondang untuk mengembangkan pesantren baru.

Sekitar tahun 1966 KH Dahlan Saefullah mulai kembali membangun pesantren di daerah cibinong. Berjalannya waktu pesantren ini terus berkembang dan memiliki banyak santri hingga di teruskan oleh generasi ke dua yaitu anak pertamanya yaitu KH Opan Sofian.

KH Opan sofian pada saat itu terkenal julukan Singa Podium Jabar karena terkenal dengan gaya ceramahnya yang tegas dan kharismatik hingga membuat perkembangan pesantren Al-Mu’in luar biasa pesat, santri yang mondok mencapai lima ratus orang, karena di era itu pesantren salafi sangat diminati, namun hanya sampai 2003 KH Opan Sofian meninggal dunia dan dilanjutkan oleh adiknya yaitu KH Dadang Sujai hingga 2006 saja dikarenakan meningga pula.

Dari tahun 2006 sampai 2012 akhir terjadi kekosongan di pesantren dikarenakan tidak ada generasi penerusnya. Di tahun 2013 pesantren Al-Mu’in mendapatkan angin segar dimana cucu dari KH Opan Sofian menikah dengan KH Salman al-Farisi, Lc. M.S.I ia adalah lulusan S1 dari Universitas Al-Ahgaf Yaman dan S2 nya di UIN Walisongo Semarang.

KH. Salman Al Farisi, penerus Pondok Pesantren Al, Mu’in

KH Salman Al-Farisi kemudian memulai kembali membangun dan mengembangkan pesantren Al-Mu’in agar menjadi pesantren seperti dulu dan lebih modern sesuai perkembangan jaman saat ini yaitu pengembangan di bidang pendidikan formal seperti adanya SMP dan SMA Plus.

Ada hal Yang menarik di pesantren Al-Mu’in ini, yaitu Semua santrinya di wajibkan untuk setiap pagi sebelum masuk sekolah ada latihan percakapan bahasa arab dan inggris di halaman sekolah, tujuannya melatih semua santri agar dapat menguasai dua bahasa tersebut.

Tetapikendati sudah menjelma menjadi Pesantren Modern Kyai Salman mencoba memadukan antara pelajaran sekolah formal dan pelajaran kepesantrenan berupa sorogan, kitab kuning seperti pesantren salafi, hal ini tidak ditinggalkan karena hal itu adalah ciri has pesantren salafi.

Halini untuk tetap memelihara peninggalan Kakek mertuanya yaitu KH Dahlah Saefullah yang terkenal di kalangan ulama cianjur sebagai seoang ulama ahli Hikmah, guru spiritual yang dapat mengobati sakit jiwa dan pengobatan lainnya. Selain itu KH Dahlan Saefullah juga aktif menulis dan punya karangan Kitab fiqih Sarah Fathul Muin dengan nadhom Sunda.

“Harapan kami saat ini adalah adanya perhatian dari pemerintah kepada dunia pesantren, bahwa pesantren adalah bagian dari pada lembaga pendidikan di Indonesi dan harus diakui keberadaannya karena sebelum ada sekolah, pesantren lebih dulu berdiri di Indonesia dan sebuah ciri khas Indonesiadan tidak ada di negara lain adalah pesantren. pungkas Salman Al-Farisi”

(Tim Beritalangitan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.