Hendrik Maulana Fatah, dari Dilarang hingga Didukung Orangtua

0
1767
Hendrik Maulana Fatah, Santri Ponpes Istiqomatul Huda (Dok. Beritalangitan.com)

Bandung, 01/12 (Beritalangitan.com) – Majalaya adalah sebuah kawasan yang memiliki banyak industri tekstil berskala besar, daerah ini juga sering di sebut-sebut sebagai kota dollar karena kemajuan perekonomiannya sejak 1960 an.

Di tengah-tengah kesibukan masyarakat yang sibuk dan padat ini berdiri sebuah pondok pesantren tepatnya di Jalan Raya Radug Rt 02/01, Simpang, Wangisagara Kecamatan Majalaya, pesantren bernama Istiqomatul Huda ini berdiri pada tahun 2001 dan di pimpin oleh KH. Apip Syamsul Arif.

Pondok Pesantren Istiqomatul Huda
                                     Pondok Pesantren Istiqomatul Huda

Pesantren ini berada di dataran tinggi sehingga cocok untuk mengembangkan sektor pertanian bagi para santri yang bermukim disini, seperti ubi jalar padi dan sayur mayur lainnya, meski santri mukim disini tidak terlalu banyak tetapi santri kalongnya cukup banyak hingga mencapai 350 orang.

Hendrik Maulana Fatah (28) adalah salah seorang santri yang sudah sepuluh tahun mondok dan kini mengabdi sebagai tenaga pengajar pesantren, Hendrik adalah putra ke dua dari pasangan Sambas dan Engkom yang asli penduduk kampung ini, setelah lulus SMP dirinya memilih menimba ilmu pesantren, karena menurut Hendrik di pesantren itu dirinya bisa menimba ilmu agama lebih dalam lagi.

Pada  awalnya kedua orangtua Hendrik tidak setuju jika ia mondok di pesantren karena masa depan pesantren tidak menjanjikan, namun seiring waktu dan dengan keyakinan yang kuat tak terasa kini sudah sepuluh tahun dirinya mondok, dan membuahkan hasil yang tidak terduga, yaitu kedua orangtua Hendrik yang tadinya melarang akhirnya kini mereka sangat setuju bahkan menyuruh Hendrik mengajak adik – adiknya mondok juga.

Mondok di pesantren ini saya banyak belajar mengenai ilmu – ilmu tauhid, dan program yang di usung oleh KH Apip sebagai ciri khas pondok pesantren ini adalah Tri Program Pesantren, yaitu ulama ul mursalin, imamul mutaqin dan Mutaqin.

Inilah program yang juga sekaligus harapan Kyai terhadap seluruh santrinya, yaitu agar santrinya dapat menjadi ulama yang saleh, atau pemimpin yang bertaqwa atau setidaknya menjadi manusia yang bertaqwa ujar Hendrik menutup keterangannya kepada beritalangitan.com. (tim lipsus beritalangitan.com)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.