Hilman Iskandar

0
1474
Hilman Iskandar, Santri Ponpes Miftahul Huda 17

Santri yang punya cita-cita ingin jadi manusia sukses dihadapan Allah dengan jalan jadi guru ngaji.

Tanpa terasa sudah 2 tahun Hilman menjalani kehidupan di pesantren. Hilman menuturkan awal masuk ke pesantren Miftahul Huda 17 yang beralamat di kampung Pagerageung, Desa Pagerageung dan  Kecamatan Pagerageung, Tasikmalaya, waktu itu usianya baru 11 tahun, diantar oleh orangtuanya. Setelah orangtuanya pulang rasa sedih dan kesepian menyelimutinya. Tapi perasaan tersebut cepat sirna setelah mendapat kawan di pesantren tersebut.

Masuknya Hilman ke pesantren tersebut  adalah karena kehawatiran orangtuanya Hilman terjerumus pada pergaulan yang tidak baik, buktinya  saat duduk dibangku kelas 6 SD Anjun 2 kecamatan Plered Purwakarta, yaitu kampung halamannya, hilman pernah terlibat tawuran. Dan alasan lain kenapa masuk di pesantren Miftahul Huda adalah karena ayahnya yang juga alumni pesantren tersebut.

Dapat dibayangkan anak usia 11 tahun terpisah dari kedua orang tuanya juga lingkungannya, anak pertama dari pasangan Nono Darsono dan Titin Hertini ini, berusaha untuk beradaptasi dilingkungan baru tersebut dan menyibukkan diri dengan belajar dan juga mempraktekannya melalui dialog dengan teman – temannya. Namun seiring waktu akhirnya menjadi betah bahkan melahirkan tekad yang kuat untuk menyelesaikan tingkatan  pendidikan di pesantren ini.  Dan dia memiliki cita – cita menjadi manusia sukses dihadapan Allah dengan jalan jadi guru ngaji.

Untuk mengejar cita – citanya selain mondok Hilman juga mengikuti pendidikan formal yaitu sekolah di SMP terbuka yang ada di Pagerageung dan sekarang sedang duduk di kelas 2 dengan jadwal belajar setiap hari Jum’at dan Sabtu dari jam 13 – 15 tiap minggunya.

Dengan do’a dari kedua orang tuanya dan bimbingan para pengajar di ponpes serta sering bertemu dengan para alumni yang sudah sukses jadi para Ustad, akhirnya tekad Hilman semakin kuat untuk bertahan dan tekun belajar sampai akhir pendidikan yaitu kurang lebih 8 tahun lagi.

Selain menjadi pengusaha keramik bapaknya Hilman juga sekaligus menjadi guru ngaji dikampungnya dimesjid Baitul Makmur.

Cita-cita kedua orang tua ingin menjadikan anak yang soleh sepertinya akan terkabul melihat kemandirian dan ketekunan Hilman dalam menuntut ilmu.

(Team beritalangitan.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.