Imam Ali Santri Assyathibiyyah : “pernah dijerat kristenisasi tapi tetap memilih agama Tauhid”

0
1503
Imam Ali, Santri Pondok Pesantren Asy Syathibiyyah Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi

Palabuhanratu, 10/5 (Beritalangitan.com) – Imam Ali (23) adalah seorang santri senior yang mondok di Pesantren Asy Syathibiyyah Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi. Ia seorang santri yang berprestasi dengan kecerdasannya, sekolah formal ia tuntaskan sampai tingkat SMK dengan beasiswa dari pemerintah tutur Imam mengisahkan perjalanannya kepada tim beritalangitan.com kenapa sampai bisa berada di Pondok Pesantren Asy Syathibiyyah ini.

Santri yang berasal dari Kampung Cimanggu Desa Cimanggu Kecamatan Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi ini masuk Pesantren tahun 2008, kurang lebih sudah 8 tahun Imam menimba Ilmu di Pesantren ini. “Sebelum masuk ke Pesantren saya pernah menjadi korban kristenisasi sampai pernah masuk ke sekolah Kristen pada saat menginjak SMP”, papar Imam mengisahkan perjalanannya.

Sejak duduk dibangku SD Imam dididik dengan ajaran Kristen oleh gurunya yang seorang misionaris. Setelah lulus SD Imam diajak dan di sekolahkan ke Kota Sukabumi melanjutkan Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada tahun 2002 di Sekolah Kristen Mardi Waluya. Disana ia difasilitasi berbagai keperluan sekolah juga kebutuhan hidup sehari-hari. Imam di spesialkan oleh gurunya karena kecerdasannya dan kekritisan berfikirnya. Imam dipaksa mengikuti semua aturan dan program-program pembelajaran tentang kristen. Tetapi dengan ilmu keislaman yang pernah diperolehnya saat masih kecil ketika SD tidak serta merta Imam menuruti semua aturan pihak sekolah Kristen tersebut, ia berkeyakinan Islamlah agama yang benar. Di saat fitrah keislaman itu muncul dalam dirinya, ia berusaha meminta bantuan dan bercerita kepada orang yang tepat, kebetulan pada waktu itu ia bercerita kepada Imam Masjid Agung Kota Sukabumi.

Dengan bantuan dan strategi Imam Masjid Agung Kota Sukabumi, secara perlahan Imam bisa keluar pada tahun 2003 dari SMP Kristen Mardi Waluya Kota Sukabumi dan berhasil membawa pulang sebagian teman – temannya yang juga menjadi korban kristenisasi. Setelah keluar dari SMP Kristen tersebut, Imam dengan dibantu berbagai pihak dari pemerintahan setempat disekolahkan dengan mendapatkan beasiswa prestasi ke Pesantren Assalam Parungkuda Sukabumi tetapi tidak bertahan lama karena sakit, akhirnya ia memutuskan kembali ke Palabuhanratu dan melanjutkan sekolahnya ke MTS Buniwangi Palabuhanratu pada tahun 2006.

Disekolahnya tersebut Imam kembali mendapatkan beasiswa dari pemerintah setempat karena prestasinya. Dan setelah lulus dari MTS ia disekolahkan di SMK Alfajar Palabuhanratu dan juga dipesantrenkan di Pondok Pesantren Asy Syathibiyyah Palabuhanratu.

Dipondok inilah Imam menimba ilmu agama secara utuh yang dikolaborasikaan dengan ilmu pengetahuan umum disekolah formalnya. “Dengan pengajaran ilmu tauhid secara gamblang dari Kyai, alhamdulilah pemikiraan dan keyakinan saya semakin bulat untuk mengabdikan diri di Pesantren ini dan kelak berharap saya bisa dimukimkan oleh sang Kyai untuk mengamalkan ilmu yang sudah dimiliki kemasyarakat dengan berharap juga bisa mendirikan Pondok Pesantren seperti halnya Kyai Useh”, tutur Imam mengungkapkan cita-citanya.

Selain belajar ilmu tauhid, di Pesantren ini juga diajarkan tentang kemandirian seperti diajarkan berwirausaha jualan kebutuhan pokok, beternak ikan, bercocok tanam, dan keahlian kemandirian lainnya.

“Kebersamaan menjadi salah satu alasan saya masih bisa bertahan dipondok ini”, lanjut Imam. Menurutnya ada sekitar 75 orang santri putera dan puteri yang mondok di Pesantren ini dari berbagai wilayah seperti santri dari Banten, Bandung, Tanggerang, Makasar, Jampang, Jakarta, Sukabumi dan juga Palabuhanratu.

Selain kebersamaan dengan santri yang lainnya, alasan yang mendorong dirinya masih bertahan dipondok ini karena sosok seorang guru yang menjadi figur berpengaruh dalam hidup Imam.

Sosok kharismatik sang Kyai dengan keramahannya, kebijaksanaannya, kasih sayangnya dan juga ketegasanya dalam mendidik santri-santrinya membuat Imam ingin terus menimba ilmu di pondok ini. Selain itu sang Kyai juga berharap kepada Imam untuk menjadi penerus perjuangannya dalam mengamalkaan ilmu tauhid dimanapun berada.

Dari kepemimpinan sang Kyai tidak kurang dari 700 orang telah ia lahirkan para alumni dari Pesantren Asy Syathibiyyah ini. “Alhamdulilah sampai sekarang masih terjalin erat kesolidan para alumni dengan terus bersilaturahmi”. Adapun nama lembaga yang mengikat para alumni Pondok Pesantren Asy Syathibiyyah ini diberi nama HASANAH (Himpunan Alumni Santri Asy Syathibiyyah. (Tim Lipsus Pesantren Beritalangitan.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.