KH. Fuad Affandi, Sosok Revolusioner Kyai Masa Kini

0
3279
KH. Fuad Affandi, Pimpinan Pesantren Agrobisnis Al-Ittifaq, Bandung

Bandung, 07/12 (beritalangitan.com) – Saat tim lipsus pesantren beritalangitan.com menyisir ke selatan Bandung di sekitar Ciwidey disini tim menemukan sesuatu yang berbeda, persisnya di Kampung Ciburial Desa Alamendah Kecamatan Rancabali kabupaten Bandung terdapat sebuah pesantren yang disebut-sebut sebagai pesantren agrobisnis yaitu bernama Pondok Pesantren Al-Ittifaq, yang  berdiri sejak tahun 1934 didirikan oleh seorang ulama asal  Garut KH. Mansyur, dengan nama asalnya adalah Pondok Pesantren salafiyah Ciburial.

Gerbang Selamat Datang Pondok Pesantren Al Ittifaq – Bandung

Pada tahun 1953 setelah KH. Mansyur wafat, kepemimpinan pesantren di teruskan oleh KH. Rifa’i yaitu anak dari KH. Mansyur, dibawah kepemimpinannya perkembangan pesantren Ciburial ini sama dengan pendahulunya yaitu masih tradisional bahkan cenderung ortodok, saat itu terjadi kevakuman bahkan mengalami kemunduran karena masih menggunakan budaya tradisional dan masih melarang hal-hal yang datangnya dari luar tradisi islam yang memang  pada waktu itu seiring dengan menyebarnya pengaruh budaya kolonialis peninggalan penjajah.

Hal-hal ortodok yang melekat saat itu semisal melarang keras sekolah formal, melarang kenal dengan pemerintah, melarang ada rumah tembok, melarang menggunakan alat elektronik melarang ada kamar mandi di dalam rumah dan setumpuk peraturan yang kaku dan menolak perkembangan.

Tetapi sejak tahun 1970 perubahan besar-besaran dilakukan oleh KH. Fuad Affandi  sebagai generasi ke tiga atau cucu dari pendiri pesantren Ciburial, sosok Kyai yang egaliter dan revolusioner ini amat tidak menyukai  kebijakan ortodok dari para leluhurnya, hal-hal yang tadi dilarang dirubahnya dengan kebijakan-kebijakan baru sesuai dengan kondisi dan tuntutan keadaan masyarakat saat itu.

Kebijakan baru itu antara lain merubah nama pesantren Ciburial menjadi Pesantren Al-Ittifaq yang artinya kerjasama yang baik, mendirikan pendidikan formal mulai dari tingkat RA sampai dengan Madrasah Aliyah, mendirikan koperasi pesantren dan membuat bangunan-bangunan sesuai dengan layaknya zaman saat ini, meski disisi lain pola pendidikan salafiyah tetap dipertahankan.

Dibawah kepemimpinannyalah kini Pondok Pesantren Al-Itifaq berubah menjadi sebuah lembaga pendidikan Islam yang besar dan terkenal sampai ke luar negeri  bahkan banyak menjadi percontohan dan dijadikan bahan penelitian karena berbagai keberhasilannya.

Menerima kunjungan studi banding dari Lebanon

Tercatat hingga hari ini semua presiden yang pernah berkuasa di negeri ini pernah memberikan berbagai penghargaan kepada KH. Fuad Affandi dan Al- Ittifaqnya atas jasa-jasa dan keberhasilannya dalam mengembangkan ekonomi disektor pertanian dan ketahanan pangan.

Begitupun kiprah dan peranan Al-Ittifaq berperan besar terhadap perkembangan ekonomi dan sosial kemasyarakatan dan sekaligus menjadikan masyarakat lebih agamis dan islami, padahal sebelumnya masyarakat disini adalah masyarakat yang apatis terhadap dunia pesantren, bahkan cenderung membenci dan lebih menyukai perdukunan daripada mengaji bersama Kyai.

Foto kegiatan Lipsus Ponpes Tim Beritalangitan.com di Ponpes Al Ittifaq – Bandung

Tetapi setelah kepemimpinan dipegang oleh KH. Fuad Affandi lambat laun masyarakat mulai mencintai pesantren, apalagi saat pesantren mulai menawarkan solusi ekonomi dari pertanian yang memang bisa terjangkau dan dapat dilakukan masyarakat, lalu perlahan kesejahteraan masyarakatpun mulai terbantu dengan adanya managemen perekonomian yang diberlakukan Al-Ittifaq, betapa tidak, karena selain membantu di bidang pembinaan tekhnologi  pertanian, pemasaran hingga permodalan semuanya dibantu oleh pesantren.

Demikianlah pesantren ini kemudian terus berkembang, makin dikenal dan menjadi perhatian dunia yang kesemuanya itu bersumber dari seorang Kyai yang bahkan sangat bersahaja dalam kesehariannya, sikap egaliternya yang membuatnya dekat dengan siapa saja dan dari golongan mana saja, bahkan semua orang dibiasakan memanggil “emang” (paman.Red) dan tak suka dengan segala panggilan atau perlakuan berlebih terhadapnya.

Bahkan dalam sholat berjamaah saja sang Kyai yang lebih mendalami ilmu filsafat ini tidak mau berdiri di depan untuk menjadi Imam shalat, Kyai selalu menyuruh orang muda untuk memimpin, itulah sebagai sebuah pola kaderisasi yang diterapkannya, begitupun dalam muamalah atau bisnis yang digelutinya, semua bagian sudah ditanggulangi dan dikerjakan orang-orang yang sudah ditunjuknya dengan penuh keparcayaan sehingga dari pola ini semua menjadi mandiri dengan sendirinya tanpa harus melakukan pengendalian berlebih dan membuat bawahannya menjadi mandiri dan bertanggung jawab. (tim lipsus pesantren beritangitan.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.