KH. Hasan Basyari Pameungpeuk Garut, Tokoh Ulama yang Lebih Memilih Tetap Mendidik Santri Ketimbang Jadi Pejabat

0
5077
Papan nama Yayasan Mardliyah, Garut. (Foto : Cg/Beritalangitan.com)

Garut, 22/7 Beritalangitan.com – Pameungpeuk adalah salah satu wilayah yang cukup eksotis di selatan Kabupaten Garut, objek wisata pantainya yang indah di momen tertentu ramai dikunjungi wisatawan. Saat beritalangitan.com berkunjung ke wilayah ini berkesempatan mengunjungi sebuah pesantren yang terbilang cukup tua, di pimpin oleh seorang tokoh dan sekaligus ulama berpengaruh di Pameungpeuk bahkan di Garut.

“Yayasan Mardliyah” nama lembaga pendidikan yang sekarang di pimpin oleh Kyai kharismatik dan penuh wibawa yaitu KH. Hasan Basyari S.pd Saat di kunjungi dikediamannya kyai Hasan Basyari mengisahkan perjalanan lembaga ini. Pesantren Mardliyah didirikan pada tahun 1943 hampir berdekatan dengan saat-saat kemerdekan Republik Indonesia, pesantren ini didirikan oleh ayahnya yaitu KH. Hamami, ia adalah salah seorang tokoh ulama ternama dan tokoh PUI pada saat itu.

IMG_2258
KH. Hasan Basyari S.pd, Pimpinan Yayasan Mardliyah, Garut.

Pada masa awal berdirinya pesantren Mardliyah adalah pesantren salafiyah murni yang selama hampir 20 tahun tetap konsisten dengan kesalafiyahannya sehingga banyak melahirkan generasi yang berhasil dan sukses  menjadi kyai, pengusaha, TNI  dan tokoh pendidikan bahkan ada salah satu alumninya yang menjadi guru besar di perguruan tinggi negeri di Bandung.

Pada tahun 1963 yayasan Mardliyah terbentuk yang kemudian membentuk lembaga pendidikan formal berupa Madrasah Tsanawiyah yang seiring waktu hari ini sudah menjelma menjadi lembaga pendidikan lengkap mulai tingkat Madrasah Diniyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah. Konon Madrasah Tsanawiyah ini adalah Tsanawiyah pertama yang ada di wilayah Kabupaten Garut. Dulu untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat Aliyah siswa-siswinya harus melanjutkan ke kota lain yaitu ke Gunung Puyuh-Sukabumi dan ke Darussalam-Ciamis sebelum disana berdiri Madrasah Aliyah.

KH. Basyari menjelaskan bahwa, “pendidikan pesantren salafiyah itu lebih unggul bila di bandingkan dengan pendidikan formal, terbukti dari alumni pesantren salafiyah sebelumnya banyak yang menjadi tokoh terkemuka dan sukses sesuai bidang yang mereka pilih,  bahkan sang kyai mengakui bahwa beliau bisa seperti saat ini adalah hasil dari sistem pendidikan salafiyah,” ujar kyai jebolan Miftahul Huda Manonjaya ini.

Selain aktif mengurus lembaga pesantren, KH. Basyar juga aktif mengurus majelis taklim dan aktif di MUI Kecamatan Pameungpeuk, sudah lebih dari 35 tahun di MUI Kecamatan dan 3 periode berturut-turut ia menjadi ketua MUI di Kecamatan Pameungpeuk.

Berbagai tawaran dan dukungan datang kepada dirinya, tawaran untuk menjadi pejabat pemerintah di lingkungan kabupaten, dan dukungan untuk menjadi dewan pun datang dari berbagai ormas, orpol dan para pejabat pemerintahan. Itu semua dia tolak mentah-mentah dan lebih memilih mengurus umat, membimbing majelis taklim dan mengajar ilmu kepada anak didiknya baik di pesantren maupun di sekolah.

Kemudian ia mengisahkan tentang Uwa Ajengan (gurunya ketika mondok di pesantren Miftahul Huda Manonjaya) bahwa Uwa pernah berkata kepada temannya ketika masih mondok disana “Tuh… Mun daekeun mah si Basyar jadi pejabat mah… Sabab manehna mah jaga bakal deukeut jeng pajabat..” (kalau mau… Tuh si Basyar yang jadi pejabat, sebab dirinya nanti bakal deket sama pejabat. Red.).

“Perkataan Uwa Ajengan itu terbukti sekarang, banyak para pejabat pemerintah datang dan mendekat kepada dirinya meskipun datangnya hanya ketika ada maunya saja,” pungkasnya. (Cg/zul)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.