KH. Iing Solihin Keikhlasan “Uwa Ajengan” dalam Menyebarkan Agama Wajib Kita Teladani

0
5063
KH. Iing Solihin, Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Falah

Bandung, 01/12 (beritalangitan.com) – KH. Iing Solihin (56) adalah pimpinan pondok pesantren Miftahul Falah, Miftahul Falah sendiri artinya Kunci kebahagiaan, pesantren yang berdiri diatas tanah seluas satu hektar ini beralamat di Kp. Nekelan, Ds. Sindangsari Kec. Paseh, Kabupaten Bandung, didirikan pada oktober 1984 atas perintah dari guru besar Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya yaitu KH. Khoer Affandy (alm).

Sejak berdirinya hingga saat ini, dari 21 angkatan pesantren Miftahul Falah telah melahirkan lebih dari 100 alumni yang sudah ditempatkan di berbagai daerah di jawa barat untuk mengamalkan ilmunya di masyarakat, tetapi walaupun sudah ditempatkan diberbagai daerah, para alumni ini tetap dibina setiap bulan yakni pada jum’at ke-3 dan ke-4, juga acara reuni digelar setiap tahunnya untuk mempererat silaturahmi antar alumni, hal ini persis seperti tradisi yang dilakukan pesantren induknya yaitu Miftahul Huda Manonjaya

Asrama Putra Ponpes Miftahul Falah
                                    Asrama Putra Ponpes Miftahul Falah

Memang Kyai kharismatik yang juga mantan ketua rohis Miftahul Huda Manonjaya ini bulat-bulat menerapkan pola pendidikan salafiyah persis seperti induknya di Manonjaya, meski pimpinan Miftahul Huda saat ini usianya jauh di bawahnya namun estafeta kepemimpinan tetap dipegang teguh sebagai bukti ketaatan dan rasa mahabbah yang begitu tinggi terhadap gurunya.

Saat tim bertandang di kediamannya yang asri sang Kyai banyak bercerita tentang kesalehan gurunya KH. Khoer Affandi yang diteladaninya hingga saat ini, “dulu saya menyaksikan sendiri saat Uwa Ajengan (sebutan untuk KH. Khoer Affandi Alm. Red) pada suatu hari dimaki-maki orang di sebuah kebun, tetapi Uwa tidak marah dan hanya tersenyum, lalu besoknya saya malah disuruh Uwa membawa sebakul nasi dengan lauknya ayam panggang untuk diberikan kepada orang yang memarahinya tersebut, “kamu bilang sama dia, uwa ucapkan terimakasih kemarin sudah memarahi Uwa” itu pesan Uwa yang saya disuruh menyampaikan kepada orang itu.

Asrama Putri Ponpes Miftahul Falah
                              Asrama Putri Ponpes Miftahul Falah

Itulah tigkat keikhlsan Uwa ajengan yang sunguh sulit untuk di tiru oleh orang yang tingkatannya seperti kita tuturnya, begitupun saat saya memulai merintis mendirikan sebuah pesantren di tempat ini, berbagai pihak yang tidak suka dan membenci saya melakukan berbagai cara dan melancarkan berbagai fitnah agar saya tidak jadi membuat pesantren disini.

Masjid Ponpes Miftahul Falah
                                           Masjid Ponpes Miftahul Falah

Saya adalah Kyai ke delapan belas yang mencoba menyebarkan agama di kawasan ini, dan tujuh belas Kyai sebelumnaya tidak sanggup dan menyerah karena ditentang orang-orang disini, tetapi berbekal ketaatan kepada Guru dan selalu ingin meneladani keikhlasannya dalam menyebarkan agama saya tetap tidak bergeming hingga hari ini, dan alhamdulilah sekarang santri cukup banyak dan sebagian besar masyarakat juga mau diajak menempuh jalan yang lurus dan taat kepada agama.

Sebutan “Ajengan Cagak, Santri ketapel” yang dulu sering dilontarkan kepadanya kini sudah jarang terdengar lagi, meski sebagian masyarakat masih terkotak-kotak dengan berbagai faham yang dianutnya namun gangguan kini sudah jarang dirasakannya, “Da uwa mah tara danguan nu penting mah uwa berbuat sae ka batur” (Uwa itu tidak suka menanggapi keburukan yang didengarnya dari orang lain yang penting kita berbuat baik kepada mereka, Red) itulah keteladanan keikhlasan yang wajib kita teladani bersama dari sosok guru besar seperti Uwa Ajengan pungkas sang Kyai menutup kisahnya kepada tim beritalangitan.com. (tim lipsus pesantren beritalangitan.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.