KH. Zainal Abidin Anwar, Pimpinan Ponpes Suryalaya di Usia 86 Masih Bekerja Untuk “Memanusiawikan Manusia”

0
9887

Beritalangitan.com – Siapa yang tak mengenal Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, pesantren besar dengan fasilitas pendidikan pesantren dan juga pendidikan formal terlengkap di Tasikmalaya, jumlah santri  dan semua komponen didalamnya tercatat mencapai 8000 orang, terhampar diatas lahan seluas 36 Ha, berisi segala fasilitas pendidikan dari yang paling dasar hingga perguruan tinggi serta penunjang lainnya juga lengkap dengan lima masjid besar didalamnya.

Didirikan pada tahun 1905 oleh Syekh Abdullah Mubarok atau dikenal dengan Abah Sepuh, setelah beliau wafat estafeta kepemimpinan jatuh pada puteranya yang nomor enam yaitu KH. Shohibul Wafa Tajul Arifin atau yang kemudian hari dikenal dengan julukan Abah Anom, dan setelah Abah Anom Wafat kepemimpinan dipegang oleh puteranya yaitu KH. Zaenal Abidin Anwar hingga hari ini.

Kyai kharismatik berusia 86 tahun ini memang tidaklah muda lagi, tetapi juga belumlah tua. Sosok yang sangat bersahaja, ramah dan bersahabat, itu kesan pertama yang tim beritalangitan.com tangkap saat bersilaturahmi menyambangi kediamannya yang juga sangat sederhana, persis ditengah-tengah kemegahan sarana pendidikan dan fasilitas Ummat yang tersedia di kawasan ini,  sungguh mencengangkan memang, ditengah – tengah kejayaan dan kegemilangan dinasti Suryalaya yang pengaruhnya terhampar ke hampir separuh Asia tenggara,  tapi sang Imam memilih tinggal di sebuah rumah kecil yang hangat dengan perabotan sederhana.

Inilah prototype pemimpin yang tak lagi tergiur oleh kemewahan duniawi bagi dirinya pribadi, tetapi untuk kepentingan ummat berapapun nilainya tak menjadi persoalan baginya, itulah pancaran jiwa yang merasa cukup dan penuh syukur dengan apa yang Tuhannya berikan sekedar untuk mencukupi kebutuhan hidup, dan tak pernah merasa cukup membelanjakan hartanya untuk berjuang di jalan Allah.

Saat memulai perbincangan di dahului dengan derai tawanya yang hangat kami (tim beritalangitan.com) disuguhi dengan sebuah Ayat Al-Quran, Qs : Al A-Raff (7:179)

“Dan sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka Jahannam itu kebanyakan dari Jin dan Manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah, dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah, mereka itu sebagai binatang ternak bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai”.

Rupanya sang Kyai mengajak tim untuk merenungi kondisi hari ini dimana banyak sekali manusia yang buta dan tuli dari memahami ayat-ayat Allah, dan untuk orang seperti itu Allah menghadiahinya dengan julukan “binatang ternak”. Sebagai seorang Kyai yang setiap hari tentunya menghadapi seribu satu persoalan ummat, tentunya Kyai banyak menyaksikan langsung tingkah polah ummat manusia yang selalu menyimpang dari maksud penciptaannya.

“Manusia itu diciptakan utuh, jiwa raga dan segalanya lengkap, Allah memberikannya kepada kita lengkap, tak satu lembar bulu pun kita ikut membuatnya, maka dari itu manusia harus menyelaraskan antara hatinya, akal fikirannya, dan juga seluruh anggota badannya untuk juga utuh dan lengkap dalam menerima, memahami, dan mengamalkan ayat-ayat Allah, jangan sampai mulutnya mengatakan putih tapi hatinya mengatakan hitam, itu tidak benar, itu namanya munafik, seperti itulah yang dimaksud Allah dengan lebih buruk dari binatang ternak.

Nah agar jangan menjadi binatang ternak dihadapan Allah, maka kita haruslah menyelaraskan hati, ucapan dan perbuatan kita, jangan sampai kita ini tergolong orang yang lebih buruk dari binatang ternak dimata Allah, maka dari itu setiap dakwah yang dilakukan para Kyai, para Ulama, dan para Mubaligh adalah untuk “memanusiawi kan kembali manusia” artinya untuk menyelamatkan manusia agar tidak menjadi lebih buruk dari hewan dihadapan Allah, tuturnya.

Luar biasa memang, di usianya yang sudah lebih dari separuh abad ini, semangat dan usaha sang Kyai untuk “memanusiakan manusia” masih begitu tinggi, keresahannya akan perilaku manusia yang sudah banyak menyimpang layak diteladani oleh setiap generasi, kepeduliannya untuk mau membuat perubahan tak terhalangi, tim hanya dapat menarik satu kesimpulan, sosok  pemimpin seperti inilah yang paling layak di teladani. (tim beritalangitan.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.