Kyai Apip Syamsul Arif, Pelopor Perubahan bagi Generasi Muda Simpang Majalaya

0
2361
Kyai Apip Syamsul Arif Pimpinan Ponpes Istiqomatul Huda (Dok. Beritalangitan.com)

Bandung, 01/12 (Beritalangitan.com) – Majalaya terletak disebelah timur Kabupaten Bandung, sebagai daerah yang dikenal sebagai kota industri tekstil skala besar, di kawasan ini hampir 80% masyarakatnya berprofesi sebagai buruh pabrik,  dan hal ini berdampak menjadi rendahnya perhatian masyarakat terhadap pendidikan apalagi pendidikan islam, hal ini disebabkan karena di kawasan ini lulusan SMP saja sudah dapat langsung diterima bekerja sebagai buruh di pabrik.

Ditengah-tengah kondisi masyarakat industri yang sedikit individualis dan didominasi kaum pendatang itulah Kyai Apip Syamsul Arif, di daulat oleh Gurunya dari Miftahul  Huda Manonjaya untuk menyebarkan syi’ar islam melalui pondok pesantren, dan setelah tiba di kawasan ini, selama enam bulan dirinya melakukan sosialisasi diri dan mengenal sifat dan karakter masyarakat setempat, selama itu Kyai ini mendatangi warga dari pintu ke pintu untuk sekedar mengenali watak masyarakat secara dekat.

Pondok Pesantren Istiqomatul Huda
Pondok Pesantren Istiqomatul Huda

Hingga akhirnya pada 17 Maret 2001  berdirilah pondok pesantren Istiqomatul Huda yang beralamat di Jl. Radug Kp. Simpang, Wangisagara – Majalaya – Bandung  yang hingga saat ini terus mengalami perkembangan selain telah resmi di aspek legalitas sebagai sebuah Yayasan dipondok ini kini telah tersedia pula sarana Paud, dan TK, selain tentunya santri mukim, santri kalong dan juga jamaah majelis ta’lim yang jumlahnya mencapai ratusan setiap kali diadakan pengajian.

Paud Istiqomatul Huda
Paud Istiqomatul Huda

Di kunjungi tim lipsus jelajah pesantren di kediamannaya senin 30/11, bapak tiga orang anak ini menceritakan pengalamannya di tahun-tahun pertama merintis syi’ar agama di kawasan ini, sebelumnya daerah ini merupakan daerah yang pemudanya cukup rawan akan minuman keras, perjudian dan lain sebagainya.

Selain sifat kebanyakan penduduk yang individualis dan materialistis, di kampung ini kenakalan remajanya juga cukup meresahkan. Dulunya sebelum saya datang, selama satu tahun pertama saya terus melakukan pendekatan-pendekatan terhadap kaum muda disini, hingga banyak masyarakat yang malah mencemooh saya, Kyai kok bergaulnya sama pemuda pemabukkan, begitu kata masyarakat yang sampai ke telinga saya waktu itu.

Tapi hal itu tidak membuat saya patah semangat, saya tetap dengan tekat saya untuk dapat merubah karekter masyarakat disini, hingga lambat laun akhirnya pemuda disini akhirnya dapat diarahkan, bahkan yang tadinya berandalan kini menjadi santri-santri saya, saya bahkan membuat kelas khusus bagi para pemuda ini yang saya namai kelas Mumtaz.

Kelas khusus ini sebenarnya hanya mengajarkan tentang sholat dan tata cara ibadah saja kepada para pemuda ini, tetapi itu saja sudah cukup berhasil karena tadinya para pemuda ini tadinya tukang mabuk-mabukan, main gitar di perapatan dan meresahkan, ternyata perjungan pendekatan saya membuahkan hasil yang cukup menggembirakan, dan akhirnya masyarakatpun percaya bahwa saya bergaul dengan para pemuda berdampak positif dan dapat merubah para pemuda ini menjadi lebih baik.

Demikian pula dengan masyarakat disini yang akhirnya kini dapat lebih agamis, pengajian cukup ramai dan meski santri yang bermukim tidak banyak tapi masyarakat disini sekarang sudah jauh lebih baik dibanding sebelumnya tutur Kyai Apip Syamsul Arif mengakhiri kisahnya. (tim lipsus beritalangitan.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.