Masjid Agung Manonjaya TasikmalayaPenyusun

0
2119

Deskripsi

Beritalangitan.com – Hanya ada dua Masjid Agung di tatar Jawa Barat yang bangunannya dilindungi Undang-Undang Kepurbakalaan Badan Arkeologi RI, yaitu Masjid Agung Sumedang dan Masjid atau Kaum Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya. Kedua masjid agung tersebut selain berusia ratusan tahun, juga keduanya memiliki Nilai Sejarah Tinggi yang perlu dilestarikan.

Pembangunan Masjid Agung Manonjaya terkait dengan pindahnya Ibukota Tasikmalaya dari Kecamatan Sukaraja (Sukapura) ke Manonjaya pada tahun 1832. Penata dan perencana bangunan adalah Patih Raden Tumenggung Danuningrat, pada dekade pemerintahan Bupati Sukapura ke-delapan.

Bangunan “Kaum Manonjaya” yang letaknya menghadap ke timur alun-alun itu memiliki dua kubah (menara). Menara palangan (laki-laki) dan menara pawadonan (perempuan). Kedua menara yang bermahkuta antik itu kini masih dijaga keasliannya. Konon kedua mahkuta yang berkuncup seperti bunga itu hasil pemberian Syeh Abdul Muhyi dari Gua Pamijahan Kecamatan Bantarkalong Kabupaten Tasikmalaya sekitar abad ke XVI-an. 1  3

Kedua “Kubah Kaum” punya makna tersediri. Kubah Palangan, di bawahnya khusus tempat beribadahnya kaum lelaki. Dan di bawah Kubah Pawadonan, bagian kaum perempuan. Malah di bawah kubah pawadonan dulu sering digunakan tempat nikah warga Manonjaya dan sekitarnya. Pada masa lalu, di bawah kedua menara tersebut tersimpan dokumen-dokumen penting pemerintahan.

Setelah pusat pemerintahan hijrah ke Kota Tasikmalaya, nasib kaum/masjid Manonjaya tetap dijaga dan dirawat masyarakat Manonjaya. Meski sudah beberapa kali ada perehaban, keaslian bangunannya masih tetap dipertahankan. Hanya saja, dokumen-dokumen penting yang dulu disimpan di bawah menara sudah tidak ada.

Kaum Manonjaya yang berukuran 1.250 m2 dan dijadikan cagar budaya sejak tanggal 1 September 1975 itu mampu menampung sekitar 5.000 jamaah. Lokasinya diapit kiri-kanan jalan raya, sehingga kemegahan kaum tersebut bisa dipandang dan segala arah.

Masjid yang disangga oleh tiang tembok sebanyak 61 buah ini, sarat dengan fasilitas dan halaman luas. Sarana tempat wudlu yang refresentatif, pertamanan yang sarat dengan bunga-bungaan, tempat salat utama dan tempat kegiatan ibadah lainnya baik di luar maupun dalam bangunan masjid yang cukup luas.

Sejarah

Masjid Agung Manonjaya telah ada pada masa pemerintahan R.T. Wiradadaha VIII tahun 1814­ – 1835, tetapi bentuknya tidak seperti sekarang. Pada tahun 1837, masa Bupati R.T. Danuningrat, masjid diperbesar dan dilengkapi dengan pawestren. Walaupun masjid telah diperbesar, tetapi masih belum cukup untuk menampung para jamaah. Maka tahun 1889 pada masa pemerintahan R.T.A. Wiraadiningrat masjid diperbesar lagi ke timur guna membangun dua buah menara dan serambi timur. Arsitektur masjid merupakan perpaduan unsur/gaya tradisional dan kolonial. Unsur kolanial dapat dilihat pada tiang sokoguru, jendela, dinding yang tebal dan diplester, pintu, serta menara dengan pilaster di setiap sudut dinding luar. Sedangkan unsur tradisional antara lain terlihat pada denah bujur sangkar, fondasi masif, serambi, dan atap tumpang. Pada tahun 1974 dilaksanakan pemugaran masjid oleh swadaya masyarakat setempat dengan kegiatan perbaikan kerangka atap yang rusak dan bocor. Tahun 1977 untuk kedua kalinya dilakukan perbaikan akibat gempa bumi, sehingga terjadi peretakan dinding. Kegiatan ini dibiayai Mexiteri Dalam Negeri. Sebelas tahun kemudian, tahun 1988 untuk ketiga kalinya diadakan pemugaran kembali oleh Direktorat Perlindungan clan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala. Terakhir masjid ini dipugar oleh Proyek Pelestarian dan Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Barat pada tahun 1991/1992 dengan kegiatan perbaikan atap, penampil serambi timur, teras dan lantai bangunan utama dan serambi, pintu, jendela, dan plesteran tiang-tiang serambi. Pada bagian atas tembok timur terdapat tiang ganda dari semen dan di tengah tembok ada tangga menuju ke bangunan induk dengan lima anak tangga. Koridor tersebut mempunyai atap berbentuk limasan dari genteng hijau. Pada atap sebelah timur terdapat lagi atap segi tiga dari tembok dan bagian muka segi tiga dilapisi kayu berbentuk segi tiga pula. Hiasan terdapat pada permukaan tembok atap sebelah timur berupa bunga teratai dan tulisan angka tahun pendirian menara.

masjid manonjaya1

 Arsitektur

Dari segi arsitekturnya, Masjid Agung Manonjaya ini begitu kental dengan nuansa neoclassic, seperti kekhasan bangunan di Eropa. Secara umum, arsitektur Masjid ini memadukan desain Eropa dengan arsitektur tradisional Sunda dan Jawa. Nuansa tradisional itu sangat terasa dengan bentuk dari elemen bangunan, seperti ruang shalat untuk wanita, serambi (pendopo) di sebelah timur, dan mustaka (memolo) yang konon merupakan peninggalan dari Syekh Abdul Muhyi, ulama asal Pamijahan, Tasikmalaya Selatan. Beberapa unsur bangunan yang sangat khas dan melambangkan percampuran unsur tradisional dengan Eropa klasik itu adalah atap tumpang tiga, serambi (pendopo), dan struktur saka guru yang terdapat di tengah-tengah ruang shalat.

masjid23

Kekhasan lainnya dari masjid ini adalah keberadaan tiang saka guru yang berjumlah 10 buah. Konstruksi tiang-tiang saka guru tampak berbeda dibandingkan konstruksi serupa yang lazim ada di bangunan masjid-masjid masa lalu dan masa kini. Bila Masjid Agung Demak menggunakan tiang saka guru yang terbuat dari kayu, sebaliknya tiang saka guru Masjid Manonjaya ini menggunakan material pasangan batu bata. Masing-masing tiang saka guru berbentuk persegi delapan dengan diameter 80 cm. Di masjid ini terdapat 51 tiang dari total 61 tiang yang ada dengan diameter antara 50-80 sentimeter (cm) yang terletak di beranda masjid. Tepat di depan beranda itu juga bisa menikmati keindahan dan kekokohan dua buah menara yang pada masa lalu digunakan muazin untuk mengumandangkan azan. Kedua menara itu persis mengapit pintu gerbang utama yang menghadap langsung ke alun-alun Manonjaya.

Kekhasan lainnya dari masjid ini adalah keberadaan mustaka (memolo) di atas atap tertinggi masjid. Keberadaan memolo ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh kebudayaan Jawa di tanah Sunda sekalipun. Menurut Didi, konsep memolo itu merupakan adaptasi dari bangunan saktal yang ada di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur pada masa Hindu. Seperti umumnya masjid yang dibangun di masa lalu, Masjid Agung Manonjaya ini juga menggunakan bahan yang terbuat dari kayu jati, kapur, dan tanah liat. Ketiga material itu digunakan sebagai bahan struktur rangka dan campuran tembok masjid.

Bangunan masjid yang didominasi warna putih dengan atap warna hijau, memiliki arsitektur khas. Selain ornamen bergaya campuran tradisional maupun luar, masjid ini juga disangga puluhan tiang berukuran besar. Dari total luas lahan sekira 6.159 m2, terbagi menjadi beberapa bagian yaitu bangunan utama masjid dengan luas sekira 637,5 m2 dan bangunan tambahan 289,5 m2. Masjid tersebut berdiri kokoh dengan disangga sekira 62 tiang. Tiang yang menyangga bangunan utama terdapat sekitar 30 buah dan penyangga bangunan tambahan sekitar 32 buah.   ( team beritalangitan.com )

Sumber : depdiknas/wikipedia.org/matapriangan.blogspot.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.