Menelusuri Jejak Islam dan Pesantren di Patani (1)

0
2444
Menelusuri Jejak Islam dan Pesantren di Patani

Beritalangitan.com – PATANI kekinian merupakan beberapa provinsi sebagian dari Thailand bagian Selatan, Thailand salah satu negara di Asia Tenggara yang apabila ditinjau dari sudut agama yang dianut oleh penduduknya, mayoritas beragama Budha.

Umat Islam penduduk minoritas dari jumlah keseluruhan penduduk Thailand, mayoritas umat Islam di Thailand tinggal di wilayah Thailand Selatan, yaitu daerah yang disebut dengan “Patani”, daerah ini meliputi provinsi Patani, Yala, Narathiwat, Setul dan sebahagian Senggora, dihuni oleh sekitar 5 juta jiwa yakni 8 % dari jumlah seluruh penduduk Thailand yang berjumlah 65 juta jiwa. Diwilayah ini dihuni sekitar 85% masyarakat Muslim yang bersuku etnis Melayu.

Patani diantara pusat kebudayaan Islam yang ada di Asia, dan dikenal sebagai bekas negeri Melayu yang terbayak melahirkan para ulama dan cendekiawan Islam.

Bahkan para ulama merupakan golongan yang paling berperan dalam pengembangan Islam di Patani. Mereka mempunyai kedudukan penting dalam pemerintahan, juga di kalangan masyarakat. (Ahmad Fathy al-Fatani, “Ulama Besar dari Patani”)

Diungkapkan juga oleh Dr. Ahmad Omar Chapakia dari Fatoni University, melalui peran-paran Ulama, Patani menjadi sebuah negeri Islam yang dikenal dengan sebutan Patani Darusalam. Bahkan ia menilai, bahwa ulama Patani telah memainkan peran besar dalam menumbuhkan dan membangun di Dunia Melayu atau Nusantara.

Apalagi banyak di antara mereka hijrah meninggalkan Patani untuk mengembangkan Islam di negeri-negeri Melayu di Nusantara.

Di antara sumbangan besar yang paling kentara adalah mendirikan institusi pendidikan pondok.

Pemerintah Thailand mengambil Kebijakan pada tahun 1966, yang mewajibkan seluruh institusi pondok untuk mendaftarkan diri ke pemerintah di bawah Akta Rongrian Rat Son Sasna Islam (Sekolah Swasta Agama Islam atau Sekolah Agama Rakyat). Sejak itu mulai perubahan pendidikan pondok di Patani.

Pondok yang selama ini menjadi pusat pendidikan Islam tradisional untuk masyarakat Islam di Thailand tiba-tiba menjadi tumpuan pihak kerajaan Thai pada tiga dekad yang lalu. Semasa proses pembaharuan dalam bidang pendidikan itu, institusi Pondok akhirnya ditukarkan menjadi “Sekolah Agama Rakyat” setelah ia dijadikan madrasah itu. Pada ketika itu juga pihak pemerintah telah berusaha bersungguh-sungguh untuk menerapkan bahasa dan budaya Thai ke dalam sekolah tersebut.

Hasilnya, para pelajar sekolah Agama Rakyat kini menguasai tiga buah bahasa sekaligus, yaitu bahasa Melayu, bahasa Arab dan bahasa Thai. Setelah kerusuhan kembali merebak di kawasan Patani. Pondok Patani, umumnya masih sangat tradisional, bagi kaum Melayu Muslim Patani lebih daripada sekadar lembaga pendidikan Islam, tapi juga merupakan salah satu identitas keagamaan dan kultural.

Karena itu, ancaman penutupan pondok, langsung ataupun tidak, bagi kaum Muslimin Patani merupakan ‘pembunuhan’, genocide, religius-kultural.

Pembicaraan tentang pondok juga mengemuka dalam international workshop bertajuk “Voices of Islam in Europe and Southeast Asia”, yang diselenggarakan The Regional Studies Program, Walailak University dan Department of Cross-Cultural and Regional Studies, University of Copenhagen. Dalam lokakarya di Kota Nakhon Si Thammarat itu, kawasan selatan Thailand, terlihat kontras perkembangan pondok Patani, dengan pesantren, madrasah, dan lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia.

Tradisionalisme pondok Patani mempunyai sejarah panjang. Kaum Muslimin Melayu Patani mengklaim, pondok merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara, meski sumber-sumber sejarah umumnya menyebutkan, Islam datang dan berkembang di wilayah ini baru pada abad ke-16.

Kementerian Pendidikan Thailand secara serentak menggap Pondok Pesantren di Patani secara keseluruhan dapat dikatakan sama dengan pesantren di Jawa atau tempat-tempat lain di Indonesia pada tahun 1950/60-an sebelum mengalami modernisasi. Kini, setelah kerusuhan merebak di Patani atau kawasan Muslim Melayu di Thailand Selatan dalam beberapa tahun terakhir, pondok menjadi tertuduh sebagai tempat pusat perlawanan atas pendekatan keamanan yang dilakukan pemerintah Thailand.

Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, secara terbuka menyatakan bahwa ia tidak akan memberikan toleransi kepada pondok yang seperti itu. Pondok Patani umumnya masih sangat tradisional, bagi kaum Melayu Muslim ia adalah lebih dari sekadar lembaga pendidikan Islam.

Walaupun bagaimanapun Pondok Pesantren menjadi institusi pendidikan yang sangat vital di Patani. Tapi warga Muslim Patani hanya menyebutnya pondok saja. Institusi ini telah melahirkan tokoh dan ulama-ulama besar yang terkenal, tak hanya di tanah melayu, tapi juga di dunia Islam. Nama Syeh Daud al-Fatani (1769-1847), Syehk Ahmad Bin Muhammad Zain al-Fatani (1817-1908) dan banyak lagi nama ulama yang dibelakang namanya membubuhkan nama Fathoni.

Puncak kegemilangan pondok di Patani terjadi sekitar abad 19 sampai awal abad 20.

Selain penyebaran Islam, peranan pondok di Patani sangat besar dalam struktur masyarakat Islam. Pondok juga menjadi kawah candradimuka, tempat menggodok jatidiri masyarakat Melayu Muslim di Patani. Setelah Patani dijajah oleh Siam, atau yang lebih kita kenal dengan nama Thailand pada tahun 1785, sampai dengan berakhirnya Kesultanan Patani tahun 1902, maka berakhir pula pengaruh politik bangsa Melayu di Patani. (die)

BERSAMBUNG

Sumber: Sejarah Derita Pondok Jihad Witaya.docx/ Marwan Al-Fathoni <wan.sperow@gmail.com / islampos.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.