Menelusuri Jejak Islam dan Pesantren di Patani (2-Habis)

0
1166
Ilustrasi (kiblat.net)

Beritalangitan.com – Pondok menjadi satu-satunya benteng terakhir dalam mempertahankan akidah ummat Islam, jatidiri bahkan budaya Melayu di Patani. Tetapi kini, pertahanan dan benteng terakhir itupun sudah mulai mendapat serangan dahsyat yang nyaris tak bisa dibendung lagi. Pemerintah Thailand melakukan kekerasan dan mengganggu pertumbuhan pondok-pondok di Patani.

Gangguan tersebut sudah terjadi sejak tahun 1961, ketika Thailand dipimpin oleh PM. Sarith Thanarath. Pemerintah Thailand mengeluarkan undang-undang yang mewajibkan semua institusi pendidikan melakukan registrasi secara resmi. Tak hanya registrasi pondok juga diharuskan menerapkan kurikulum pemerintah, mengganti nama menjadi sekolah rakyat dan mewajibkan pengunaan bahasa Siam.

Bahasa Melayu dilarang digunakan dan tulisan dalam huruf Jawi (Arab-Melayu) pun tak dibenarkan. Bagi pondok-pondok yang mau menuruti perintah-pemerintah, mereka dikucuri dana subsidi dan bantuan pendidikan. Pemerintah juga akan mengirim guru- guru beragama Budha untuk mengajarkan bahasa Siam (Thai) dan ilmu-ilmu lainnya di pondok tersebut.

Maka terjadikan asimilasi besar-besaran pada bangsa dan Budaya Melayu menjadi bangsa Thai. Tercatat sampai pada tahun 1971 sebanyak 426 pondok di Patani telah melakukan registrasi dan menukar nama pondok dengan nama sekolah rakyat. Meski demikian ada beberapa pondok yang mempertahankan jatidirinya dan mempertahankan identitas Islam dan Melayu. Bagi pondok-pondok seperti ini mereka menerima ancaman, paksaan dan penindasan pemerintah Thailand meminta mereka agar menutup pondok.

Tekanan demi tekanan untuk menghapuskan sistem pondok ini tak pernah surut sampai hari ini. Pondok sering dijadikan sebagai sasaran militer Thailand.

Mereka menggeledah dengan paksa pondok-pondok yang dituduh menyembunyikan para pejuang Patani atau melindungi mereka. Masyarakat Patani merasa, aksi kekerasan dan tuduhan yang dilakukan oleh pemerintah Thailand ini sebagai usaha menindas hak pendidikan yang harus didapatkan oleh rakyat Patani.

Selain institusi yang menjadi serangan, para pengajar di pondok, ustadz dan para guru juga dimasukkan dalam daftar hitam oleh pemerintah Thailand. Mereka dituduh sebagai pejuang pembebasan Patani. Banyak guru, ustadz dan pengajar yang dikejar-kejar dengan alasan ini. Sejak 2004, banyak pula pondok yang ditutup oleh pemerintah.

Kisah pemberangusan pondok di Patani ini bisa ditelusuri dari penutupan paksa pondok Tuan Guru Haji Sulong al-Fatani yang bernama Madrasah Al-Ma’arif al-Wataniyah tahun 1950, kemudian secara massal, militer Thailand memburu para guru dan ustadz paska Demontrasi di Masjid Jamik Patani 1975, unjukrasa besar-besaran pada tahun 1975. Banyak guru pada wilayah ini menyelamatkan diri lari ke perbatasan dengan wilayah Malaysia. Mereka meninggalkan pondok-pondok terbengkalai dan hancur.

Kasus yang terbaru terjadi pada Januari 2004. Dari tahun 2004 sampai hari ini, sekurang kurangnya ada tiga pondok besar yang ditutup oleh pemerintah Thailand. Pondok Jihad Witaya di daerah Jering wilayah Patani, ditutup pada tahun 2006. Pondok Jalalaudin di Sebaya di wilayah Songkhla ditutup pada bulan Maret 2007. Terakhir Pondok ad-Dirasat al-Islamiyah, Sepong di wilayah Narathiwat pada bulan Juni 2007.

Konflik yang tak kunjung reda di wilayah Patani, akan membawa dampak yang sangat besar pada kehancuran pondok dan sistem pendidikan Islam di Patani, pondok-pondok di Patani akan terkubur dan dikubur oleh tangan tangan militer Thailand yang memegang senapan. Pondok-pondok selalu disebut sebagai sarang teroris dan tempat bersembunyi para kelompok perlawanan.

Dan akhirnya bila benteng terakhir ummat Islam di Patani ini terkubur, maka akan terkubur pula identitas ummat islam Melayu di Patani. [die]

HABIS

Sumber: Sejarah Derita Pondok Jihad Witaya.docx/ Marw / islampos

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.