Menjadi Santri, Menjadi Mukmin Sejati (1/2)

0
1193

Ditulis ulang oleh : Sumardi*

Beritalangitan.com – Sebuah pemikiran saya tentang reformasi pesantren di Indonesia, agar pesantren tidak jadi tempat penetasan telur kadal-kadal liberal

Sekelumit tentang pesantren

Pesantren atau pondok pesantren adalah sekolah Islam berasrama, para pelajar pesantren disebut santri. Kata santri menurut profesor Johns berasal dari bahasa Tamil yg berarti guru mengaji. Sedang kata pondok berasal dari bahasa arab funduq yg berarti hotel atau asrama. Selain itu kata santri juga bermakna orang Islam yang taat, sebagai lawan kata Abangan, inilah yang akan ditekan pada pembahasan ini. Tujuan dari didirikannya pesantren adalah untuk mendidik dan menempa kader dakwah, yang mengajarkan Islam, menjaga dan membela agama agar Indonesia menjadi Negara Islam yang kaffah.

Pesantren adalah lembaga pendidikan pertama di Indoneisa. Pendiri pertama pesantren adalah dari kalangan wali songo, yakni Maulana Malik Ibrahim, dilanjutkan oleh Raden Rahmat atau Sunan ampel, kemudian Sunan Bonang dan juga Sunan Giri. Pesantren-pesantren ini menggembleng kader-kader dakwah yang kemudian punya peran besar dalam mengislamkan Nusantara.

Dalam bukunya Tradisi Pesantren Zamakhsyari Dhofier menyatakan; pondok, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab islam klasik dan kyai merupakan lima elemen dasar dari tradisi pesantren. Jadi bisa dibilang kelima hal tersebut adalah syarat atupun rukun berdirinya pondok pesantren.

Santri di jaman Rasul saw

Jika kita menengok kebelakang, kepada awal mula sejarah Islam, kita akan temukan contoh kehidupan santri dan kyai yang juga kita temukan di jaman sekarang. Di masjid Nabawi terdapat tempat untuk berteduh  yang disebut shuffah, yang digunakan oleh para santri Rasulullah untuk tinggal, sambil belajar, menghafal Al-Quran, mengambil Hadits, dan bersiap diri jika suatu saat datang panggilan jihad. Mereka inilah yang disebut dalam Al-Quran;

“kepada orang-orang fakir yang terikat di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak.”

Yakni mereka ini telah mendermakan hidupnya untuk jalan Allah dengan mencari Ilmu, berkhidmah kepada Allah dan Rasulnya, dan siap berjihad membela agamaNya, mereka tidak punya harta akan tetapi mereka tidak mau meminta minta-minta.  Mereka ini adalah orang-orang yang wajib dibantu denagn sadaqah.

Diantara alumni Shuffah yang menonjol adalah sahabat Abu Hurairah yang bernama lengkap Abdurrahman bin Shakhr, cuma tiga tahun lebih ia nyantri, tapi karena keteguhan dan kegigihannya, dan berkat doa dari Rasul Saw ia menjadi sahabat yang Alim dan paling banyak meriwayatkan Hadits. Abu hurairah menceritakan perihal rahasia kesuksesan dia menjadi santri:

“Sesungguhnya orang-orang mengatakan: sungguh Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadits!! dan sesungguhnya jika bukan karena dua ayat dalam al-Quran niscaya aku tidak akan meriwayatkan sebuah hadits-pun, kemudian beliau membaca firman Allah. (artinya) :Sungguh, orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan dan petunjuk, setelah Kami tunjukkan kepada manusia dalam kitab, mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat pula oleh orang yang melaknat. kecuali mereka yang telah bertobat, mengadakan perbaikan dan menjelaskannya, mereka itulah yang Aku terima tobatnya dan Akulah maha penerima tobat. Sesungguhnya saudara-saudara kami dari kalangan muhajirin disibukan dengan perniagaan di pasar, sedangkan saudara kami dari kalangan Anshor disibukan dengan pekerjaan-pekerjaan mereka, sedangkan Abu Hurairah senantiasa melazimi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam- dengan kenyangnya perutnya, dan dia menghadiri yang tidak dihadiri para sahabat yang lain, dan menghafal hadits-hadits yang tidak dihafal oleh para sahabat yang lainnya. (HR. Bukhari)

Beliau juga berkata:

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendengarkan hadits yang banyak darimu, namun aku melupakannya. Maka Rasulullah mengatakan: hamparkanlah selendangmu!!, maka aku hamparkan selendangku, maka Nabi mengambilnya dengan tangannya, kemudian beliau bersabda: peluklah selendangmu!!, maka akupun memeluklnya, dan aku tidak lupa sedikitpun setelah itu. (HR. Bukhari)

Rasul berkata kepadanya memuji kegigihannya dalam mengambil hadits:

“Sungguh aku telah mengira wahai Abu Hurairah, bahwa tidak akan ada seorangpun mendahului engkau untuk bertanya kepadaku tentang hadits ini, karena aku telah melihat semangatmu yang besar untuk mempelajari hadits. sesungguhnya orang yang paling bahagia dengan syafaatku pada hari kiamat kelak adalah semua yang mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illallah dengan penuh keikhlasan. (HR. Bukhari)

Karena tidak bekerja dan hanya mengabdikan diri pada agama, tidak jarang Abu hurairah tertimpa kelaparan, terkadang ia berdiri di jalan  menyapa orang lewat, pura-pura bertanya tentang suatu ayat Al-Quran dengan tujuan agar orang yang lewat tadi mengajak ke rumahnya sembari berharap mendapat sedekah makanan. Ia berkata:

“Demi, Allah. Tidak ada sesembahan yang benar, kecuali Dia. Sungguh aku  pernah sampai menempelkan perutku ke tanah karena lapar dan aku ganjal perutku dengan batu menahan lapar. Sungguh, pada suatu hari aku duduk di jalan yang biasa keluar darinya. Lalu Abu Bakar melintasi jalan itu. Aku pun bertanya kepadanya tentang satu ayat Al-Quran. Dan tidaklah aku menanyakannya, kecuali agar Abu Bakar menjamuku. Dia pun melewatiku dan tidak berbuat apa-apa. Lalu melintas di jalan itu, Umar bin Al Khaththab. Aku pun bertanya kepadanya satu ayat Al-Quran. Dan tidaklah kutanyakan hal itu, kecuali agar ia menjamuku. Namun ia pun melintas dan tidak berbuat apa-apa. Kemudian setelah itu Abul Qasim Shalalllahu alaihi wa sallam melintas di jalan itu seraya tersenyum ketika memandangku. Beliau mengetahui yang yang ada dalam hatiku dan yang tersirat dari wajahku. (HR. Bukhari)

Bahkan pernah pula ia sampai pingsan karena kelaparan, ia bercerita mengenang masa perjuangannya menjadi santri:

“Sungguh aku terbayang ketika aku jatuh tersungkur di Antara mimbar Rasul dan bilik Aisyah, tidak tersadarkan diri, maka datang seseorang kemudian menaruh kakinya di atas leherku, mengira kalau aku punya penyakit gila, padahal aku tidak gila, tidaklah yang demikian ini kecuali lapar. (HR. Tirmidzi dalam kitab Syamail)

Ada juga santri yang kalau sekarang disebut kilatan, mereka ini adalah utusan dari qabilah-qabilah dari luar madinah yang diutus untuk mempelajari Islam dari sumbernya untuk kemudian mengajarkanya pada kaumnya:

Dari Malik ibn al-Huwayris berkata: Kami, beberapa orang pemuda sebaya  datang kepada Nabi saw., lalu kami menginap bersama beliau selama 20 malam. Beliau menduga bahwa kami telah merindukan keluarga dan menanyakan apa yang kami tinggalkan pada keluarga. Lalu, kami memberitahukannya kepada Nabi. Beliau adalah seorang yang halus perasaannya dan penyayang lalu berkata: Kembalilah kepada keluargamu! Ajarlah mereka, suruhlah mereka dan salatlah kamu sebagaimana kamu melihat saya mengerjakan salat. Apabila waktu salat telah masuk, hendaklah salah seorang kamu mengumandangkan azan dan yang lebih senior hendaklah menjadi imam. (HR. Bukhari)

Allah berfirman sebagai anjuran untuk pergi mencari ilmu:

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. ( Qs. At-taubah : 122 )

Bersambung

*Sumardi, pengasuh kolom pesantren beritalangitan.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.