Menjadi Santri, Mmenjadi Mukmin Sejati (2/2)

0
775

Ditulis ulang oleh : Sumardi*

Menjadi Santri

Dari sekelumit cerita dalam tulisan ini kemarin, kita dapat ketahui bahwa agar sukses menjadi santri harus melalui perjuangan yang berat dan tekad yang sangat kuat.

Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu- berkata:

“Aku letih ketika menuntut ilmu maka aku mulia dengannya [menjadi tujuan rihlah para penuntut ilmu].

Berkata Yahya bin Abi Katsir rahimahullah-: saya mendengar ayahku mengatakan:

“Ilmu tidak akan bisa diperoleh dengan santai.”

Imam Syafii rahimahullah menegaskan-:

“Tidak akan beruntung seorang penuntut ilmu kecuali yang menuntutnya dengan kesengsaraan.”

Apalagi menjadi santri bukan Cuma sekedar menuntut ilmu tapi ada tugas besar yang diemban, yaitu yang terkandung dalam firman Allah

“Dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Allah juga berfirman;

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung“.

Hendak pula diketahui bahwa kesuksesan pendididikan pesantren bergantung pada santri itu sendiri, sang ulama, materi yang diajarkan, serta kondisi lingkungan yang mendukung.

Sering sekali ungkapan kita dengar kalau ilmu itu seperti air, akan tetapi kita lupa kalau tanaman jika disiram air tapi tidak terkena cahaya matahari maka justru tanaman itu menjadi cepat busuk. Begitu juga iman, karena iman adalah ibarat pohon, akarnya yang menghujam di hati adalah tashdiq (percaya), batangnya adalah kalimah tauhid, sedang cabang dan rantingnya adalah amal-amal sholeh kita.

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.”

Yang dimaksud kalimah thoyyibah adalah kalimah tauhid atau kalimah lailaha illah. Dalam hadits riwayat ibnu

Umar, ia berkata;

Dari ibnu umar bahwasanya Rasulullah berkata sesungguhnya dari jenis pohon terdapat pohon yg tidak gugur daunnya, dan sesungguhnya ia adalah perumpamaan seorang mukmin. maka beritahulah aku pohon apa itu? Maka orang-orang merasa itu adalah pohon yg terdapat di desa-desa. Abdullah ibn umar berkata: aku merasa dalam hatiku bahwa ia adalah pohon kurma namun aku malu mengatakannya. Kemudian orang-orang berkata beritahukan pada kami ya rasulullah pohon apakah itu?! Rasul berkata ia adalah pohon kurma. (HR. Bukhari)

Maka yang perlu dilakukan pertama adalah membersihkan tanah tempat tumbuhnya iman, yaitu hati dan tubuh dari makanan yang haram, dan hanya mengisinya dengan perkara halal, karena Allah berfirman:

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana.  (QS. Al – Arof 58)

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata : ” Rasulullah Shallallahualaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya Allah taala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana dia memerintahkan para rasul-Nya dengan firmannya :” Wahai Para Rasul makanlah yang baik-baik dan beramal shalihlah. Dan Dia berfirman : Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rizkikan kepada kalian dan bersyukurlah pada Allah jika memang hanya kepadaNya lah kalian menyembah.”

Yakni perbuatan baik hanya diterima dari yang baik, yaitu dari makanan halal, dan dari ayat yang disebut menunjukkan bahwasanya makanan halal mengantarkan pada amal sholeh dan bersyukur pada nikmatNya.

Sufyan Ats-Tsauri berkata:

Tidaklah seorang hamba mencapai hakikat Iman sampai ia menjadikan Antara dirinya dan barang haram suatu tameng dari perkara halal, dan sampai ia meninggalkan dosa dan yang samar-samar darinya.

Kemudian menyiraminya dengan Ilmu, yakni ilmu Al-Quran dan hadits, bukan Cuma Fiqih atau Nahwu, Rasul bersabda:

Perumpamaan apa yg dengannya allah mengutusku yaitu berupa petunjuk dan ilmu itu seperti hujan yg deras yg mengenai bumi (HR. Bukhari)

Rasul bersabda:

İlmu ada tiga, selain yg tiga ini adalah tambahan; ayat yg muhkamah (jelas maknanya), sunnah yg tegak, Faraidl yg adil. (HR. Abu Dawud dan Ibn Majah)

Allah berfirman;

Dan barangsiapa berpaling dari Dzikirku yakni Al-Quran, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.

Dan barangsiapa yang berpaling dari Dzikir Tuhannya (Al-Quran), niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat.

Apa yang Rasul datangkan kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya

Sedang termasuk kategori berpaling dari Al-Quran adalah berpaling dari belajar, berpikir dan mengangan-angan maknanya, karena justru itulah tujuan Al-Quran diturunkan. Maka jangan heran jika ada santri ketika keluar dari pesantren justru Allah menjalarkan padanya sebab-sebab menuju neraka, dengan mengeluarkan tindakan-tindakan yang melabrak firman Allah dan ketentuan Rasulnya, disebabkan kesalahan memprioritaskan ilmu yang harus dipelajari, entah dari dia sendiri atau dari akibat kesalahan sistem pendidikan Pesantren.

Setelah itu menaruhnya di tempat-tempat suci yang tersinari sinaran hidayah, dengan terlebih dahulu membersihkan hati dari selaput dosa yang membungkusnya, karena Allah berfirman:

Sesungguhnya Allah tidak akan memberi hidayah kepada orang-orang dzalim.

Siapakah orang dzalim? Jawabnya ada pada firman Allah:

Barang siapa tidak mau bertobat maka merekalah orang-orang dzalim.

Disinilah letak pentingnya membersihkan diri dari dosa dengan bertaubat bukan cuma satu dosa tapi seluruhnya, karena dengan begitu tidak ada penghalang yang menghalangi sinaran hidayahNya menuju hati.

Rasul Saw bersabda;

Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan kesalahan hatinya ternoda dengan setitik noda, kemudian jika ia berhenti, meminta ampunan dan bertobat, hatinya menjadi bersih mengkilap, dan jika ia mengulangi kesalahanya, bertambahlah nodanya sehingga menutupi seluruh hatinya. Itulah ar-roon yang Allah berfirman mengenainya;

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka kerjakan  itu telah menutupi hati mereka. (Al-Muthoffifiin 14) (HR. Tirmidzi)

Adapun tempat-tempat suci yang tersinari oleh sinarNya, maka yang paling utama adalah masjid tempat dimana nama Allah disebut dan diagung-agungkan, Allah berfirman:

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.. al-aayah

Setelah itu Ia menyebutkan dimana cahaya ini bersemayam:

Di rumah-rumah yang Allah izinkan untuk ditinggikan dan disebut-sebut namaNya di dalamnya.

Inilah satu keutamaan ngaji di masjid yang tidak di jumpai di sekolah-sekolah, universitas, dan tempat lainnya, satu tradisi dari ulama salaf kita yang sayangnya semakin berkurang dan semakin ditinggalkan.

Karena itu menjadi pantangan bagi seorang santri untuk meninggalkan shalat berjamaah di masjid, dan selayaknya bagi seorang santri  sebagai seorang muslim yang taat untuk melazimi masjid dan mengantungkan hati padanya, dalam hadits:

“Senada dengan Masjid adalah majlis ilmu dan dzikir, yakni bukan sekedar majlis ilmu tapi majlis yang mengingatkan diri kepada Allah.”

Di Indonesia pembangunan pesantren biasanya di mulai dengan pembangunan masjid, seorang kyai akan membangun masjid dan mengajarkan ilmu-ilmu agama, ketika muridnya semakin banyak dan memerlukan tempat tinggal, barulah dibangun pondok. Selanjutnya pondok bukan hanya menjadi tempat tinggal tapi penjara suci yang berfungsi menghindarkan diri dari pengaruh negatif lingkungan luar, karena menuntut ilmu tidak mungkin berhasil dengan adanya gangguan yang menyibukkan hati terutama dari kesibukan duniawi, seperti yang terpetik dari kisahnya Abu Hurairah; sementara kawannya sibuk mengurusi dunia, ia sibuk melazimi Rasulullah.

Inilah tiga hal pokok yang perlu diperhatikan oleh tiap santri, yaitu menjaga makanan, mempelajari Al-Quran danSunnah, serta bertaubat dan menghindarkan diri dari dosa yang diwujudkan dengan mengasingkan diri di masjid dan pondok pesantren, karena yang dipentingkan dari menuntut ilmu bukanlah sekedar mengumpulkan, akan tetapi mengamalkan dan mengajarkan.

Al-Hasan Al-Bashri berkata: Orang Alim adalah yang takut pada Allah dalam kesendirinnya, senang pada apa yang Allah senangi, dan benci pada apa yang Allah benci, kemudian ia membaca firman Allah:

Sesungguhnya yang takut pada Allah hanyalah Ulama

“Ibnu Masud berkata: Tidaklah ilmu itu dari banyaknya riwayat, akan tetapi ilmu itu dari banyaknya takut pada Allah”

Peran utama Kyai

Selanjutnya, seorang kyai  yang juga seorang ulama sebagai pewaris anbiya harus bisa meneruskan tugas yang diemban oleh Nabi yang termaktub dalam firman Allah:

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

Yakni seorang kyai harus mampu membacakan Al-Quran pada santrinya, dan mentazkiyah mereka dengan dengan mengajarkan sikap takwa pada Allah, menjauhkan mereka dari dosa, menumbuhkan di hati mereka rasa cinta padaNya serta rasa takut (Khof) dan berharap (Roja) padaNya, serta mengingatkan tentang Akhirat dan apa yang terjadi disana”.

Juga seorang kyai harus mampu mengajarkan Al-Quran dan As-Sunnah (Al-Hikmah), pada para santrinya, bukan Cuma dengan lisan tapi juga dengan tindakan nyata. Karena itu seorang kyai dituntut untuk mengamalkan sunnah dalam kehidupan sehari-harinya agar menjadi pedoman bagi para santrinya.

Jadi sungguh tidak tepat jikalau seorang kyai ceramah, disela-sela ceramahnya diselingi senda gurau, karena yang terjadi dihati para pendengarnya bukannya rasa takut pada Allah yang bertambah tapi justru sifat lalai dan kerasnya hati. Simaklah bagaimana rasul menancapkan rasa takut dihati para sahabat dan membuat mereka mengutamakan kehidupan Akhirat:

Dari Abu Hurairah ia berkata; “Ya Rasulullah, kami jika ada disisi engkau, hati kami menjadi lembut (kebalikan dari keras), kami membenci dunia, dan senang pada akhirat”

Apalagi kyai bukanlah seorang pelawak, dan sungguh tidak tepat seseorang membaca A-Quran atau Hadits kemudian tertawa-tawa seperti  halnya sikapnya orang kafir.

Maka tak urung, seorang kyai haruslah mempunyai pengetahuan yang cukup dibidang Al-Quran dan Hadits sebelum menjadi pendidik, seperti firman Allah:

“Hendaklah kalian menjadi orang-orang Rabbani, dengan sebab mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu telah mempelajarinya.

Seorang kyai juga dituntut untuk sabar, punya kualitas Iman yang kuat, welas asih, rendah hati, punya perhatian yang besar terhadap muridnya, senantiasa mengingatkan jika mereka melakukan kesalahan, selalu menginginkan yang terbaik bagi muridnya, serta senantiasa mendoakan mereka.  Inilah karakteristik kyai yang robban. Selesai.

*Sumardi, pengasuh kolom pesantren beritalangitan.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.