Miftahul Huda 17 Pagerageung Masih Bertahan Salaf Selama Tiga Generasi

0
2270

Beritalangitan.com – Pondok pesantren Miftahul Huda 17 Didirikan oleh KH. Samanhudi pada tahun 1982, pesantren dikawasan Pagerageung Ciawi Tasikmalaya ini masih kokoh berdiri, setelah KH. Samanhudi wafat pesantren ini dilanjutkan oleh anaknya yaitu kH. Hendar Iskandar yang kemudian wafat pada tahun 2003 lalu, kemudian hingga hari ini di kelola oleh adik-adik dan putera-puterinya yang berjumlah Sembilan orang.

Saat team beritalangitan.com menyambangi ke pesantren yang santrinya kurang lebih seratus orang ini kami disambut dengan ramah oleh ajengan Irfan Hilmi yang merupakan suami dari anak tertua, ajengan Nuroni, serta ajengan Fauzi malik yang merupakan adik dari almarhum kH. Hendar Iskandar, sangat mengagumkan bagaimana keluarga besar ini bahu-membahu dan bekerjasama dalam mengelola dan membesarkan pesantren peninggalan mendiang kakeknya ini.

mesjid 17

Namun ada kegelisahan yang team beritalangitan.com tangkap setelah cukup lama berbincang dengan para ajengan yang rata-rata masih muda ini, kegelisan akan kondisi keberlangsungan pesantren salafi yang terus terdesak oleh kebutuhan dan tuntutan keadaan untuk menyediakan fasilitas pendidikan formal atau sekolah umum.

Sebenarnya para ajengan ini menyadari sepenuhnya bahwa hanya dengan pesantren salafi lah yang akan mampu mencetak dan melahirkan manusia-manusia Sholeh dan berkualitas, namun disisi lain minat dan animo masyarakat terhadap pesantren yang tidak menyediakan sarana pendidikan formal sudah sangat menurun, inilah sebuah ancaman besar bagi keberlangsungan pesantren salafi manapun hari ini.

Seperti dituturkan oleh ajengan Nuroni kepada team bahwa kami juga menyadari bahwa pengaruh pesantren salafi itu begitu kuat bagi pembentukan karakter santri, tetapi kondisi hari juga harus disikapi dan disiasati agar semua bisa berjalan seimbang, menurutnya meski ilmu pesantren itu penting tetapi ilmu yang lan juga tak kalah penting, karena Almarhum uwa ajengan (KH.Choer Affandi.Red) juga pernah mengatakan “ilmu agama tanpa ilmu umum yang lain itu seperti orang lumpuh, tetapi punya ilmu umum tanpa punya ilmu Agama itu seperti orang buta”.

mesjid12.1

Dengan demikian menurutnya seorang santri memang harus juga mengenyam pendidikan formal lain agar tak tertinggal, tapi juga tak boleh meninggalkan kesalafiannya jika ingin berhasil menjadi seorang Kyai penerus para gurunya kelak, untuk itu kami disini sedang merumuskan formula seperti apa yang terbaik agar keduanya bisa berjalan seimbang tuturnya.

Jika menyimak fenomena tersebut, team beritalangitan.com dapat menarik benang merah, seperti inilah gambaran umum permasalahan dunia salafi hari ini, ter telikung oleh kepentingan aspek legalitas formal yang ditentukan pemilik kekuasaan, dan untuk itu perlu ketabahan dan kecerdasan para Murabby, para Kyai, serta para Mujahid yang memiliki kepentingan untuk menyelamatkan bangsa ini daari kegelapan. (team beritalangitan.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.