Miftahul Huda 27

0
1187

USWATUN HASANAH DALAM MEMPERTAHANKAN EKISITENSI PESANTREN SALAFIYAH

Pondok Pesantren Miftahul Huda 27, Terletak di dusun Cipeuteuy Rt 09/03 Desa Jayaraksa Kec. Cimaragas Ciamis, Pesantren  dibawah pimpinan KH. Zainal Arifin, Kyai kharismatik  ini merupakan termasuk generasi awal Santri pesantren Miftahul Huda Manonjaya  pimpinan KH. Khoer  Afandi (alm) Lingkungan pesantren yang cukup bersahaja tapi lengkap dengan ciri khas  pesantren tradisional dan sarana penunjang sebuah pesantren seperti masjid, asrama atau kobong, kolam ikan, kebun, dan fasilitas pelengkap lainnya.

mesjid1

Tetapi meski lingkungannya sederhana namun  tetap menampilkan kesan Islami yang kuat,kehidupan para santri disini berbaur dengan pemukiman masyarakat sekitar tanpa pagar tanpa batasan sosial, ada sekitar empat puluh santriwan santriwati yang bermukim disini,dan bisa dilihat kegiatan pendidikan dan pengajaran khas sebuah pesantren tradisional sudah dimulai sejak sebelum shubuh, dan berakhir selepas isya.

KH. Zainal Arifin sendiri adalah sosok Kyai yang sederhana dan penuh wibawa, ke enam anaknya sudah mulai diperkenalkan ke dunia pesantren agar kelak dapat meneruskan perjuangannya dalam membangun dan membina ummat, seperti putera lelaki nya yang  nomor dua Al Ustadz Dodo Aliyul Murtadlo yang kini sudah mendapat tempat untuk mengabdikan ilmunya di pesantren Miftahul Huda Manonjaya sebagai tenaga pengajar.

mesjid2

KH. Zainal Arifin

Ditengah degradasi kepercayaan terhadap pesantren salafy saat ini, pesantren ini adalah salah satu pesantren yang masih bertahan, kokoh memegang prinsip-prinsip salafy, tapi juga fleksibel dan luwes dalam berkecimpung dengan dinamika masyarakat, hal itu terungkap dalam perbincangan team beritalangitan.com saat berkunjung di pesantren tersebut Jumat 06-03-15.

Ustadz Dodo Aliyul Murtadlo,  menegaskan bahwa sebuah pesantren harus mampu menghidupi dirinya sendiri agar tak menjadi peminta -minta dan merendahkan diri sendiri, seperti pesantren Miftahul Huda 27 ini yang hampir semua pembangunan sarananya adalah dari hasil swadaya, dan kalaupun ada bantuan dari pemerintah paling hanya sarana MCK saja tuturnya.

Begitupun dengan mempertahankan prinsip-prinsip salafy,  menurutnya meskipun prinsip-prinsip itu tetap harus di pegang teguh, tapi mengelola sebuah pesantren juga haruslah menyesuaikan dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat, ibaratnya warung itu harus serba ada agar dapat memenuhi kebutuhan pelanggannya pungkasnya. (team beritalangitan.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.