Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya di Bawah Kepemimpinan Kh. Abdul Aziz Affandi

0
9331

Tasikmalaya, 01/4 (beritalangitan.com) –  Di Pondok Pesantren Miftahul Huda ini terdapat Kurang lebih tiga ribu santri aktif  dan ribuan alumni yang sudah tersebar di Jawa barat dan sekitarnya bahkan hingga di luar pulau jawa pun ada yang sudah membuka cabang Miftahul Huda, inilah yang membuat Pesantren Peninggalan Almarhum KH Choer Affandi ini merupakan pesantren terbesar di Jawa barat.

Di tanah seluas sebelas hektar dengan luas bangunan asrama mencapai tiga hektar, pesantren Miftahul Huda berdiri sejak tahun 1967 tepatnya di dusun pasir panjang Desa Kalimanggis Kecamatan Manonjaya Tasikmalaya, cikal bakal nya adalah pondok pesantren Wanasuka dikampung Cigugur Ciamis, karena masa pergolakan perjuangan pada saat itu pondok pesantren Wanasuka tidak dapat di lanjutkan.

Mesjid Pontren Miftahul Huda
                 Mesjid Pontren Miftahul Huda

Beberapa tahun kemudian KH. Choer Affandi(alm) mendirikan lagi pondok pesantren dengan nama Gombangsari di kampung Situ Kaler di desa Pasirpanjang, kemudian karena di lokasi itu tidak bisa diperluas lagi sementara jumlah santri semakin meningkat, atas dukungan masyarakat lokasinya di pindah ke lokasi sekarang, di bangun di atas tanah wakaf dari seorang aghniya di Manonjaya.

KH.Choer Affandi (alm) dan Hj. Siti Sofiyah (alm) memiliki enam anak, yang pertama adalah Hj. Enung Mutmainnah Affandi, Hj. Daliah Mutiara Affandi, KH. Asep Ahmad Maosul Affandi, Hj. Ulfah Quraisyin Affandi, KH. Abdul Aziz Affandi, dan Hj. Totin Affandi, dan saat ini putranya yang nomor lima yaitu KH. Abdul Aziz Affandilah yang memegang tanggung jawab untuk mengelola Pesantren Miftahul Huda.

Di sebuah rumah sederhana yang terletak samping Mesjid Besar Team beritalangitan.com menemui sang Kyai yang sedang mengerjakan sesuatu di bengkel mekanik yang terletak di samping rumah itu, dengan penampilan yang sangat bersahaja sang Kyai ini terjun langsung memimpin santrinya mengerjakan pekerjaan kasar itu, lalu team dipersilahkan masuk dan berbincang di ruang tamunya.

Sosok yang lugas dan egaliter, itu kesan pertama yang muncul saat berbincang dengan Kyai Abdul Aziz ini, begitupun dengan pemikiran-pemikirannya yang cukup terbuka, bijaksana tetapi tegas dengan prinsip-prinsipnya, mungkin itulah manifestasi karakter mendiang sang ayahanda yang melekat dalam kepribadiannya.

Saat ditanyakan mengenai mengenai terpuruknya kondisi pesantren salafiyah hari ini Kyai Aziz membenarkan bahwa memang banyak sekali godaan dan tidak mudah bagi pesantren saat ini untuk mempertahankan ke salafiannya, baik dari sisi kebutuhan sarana dan prasarana maupun minat dari santri sendiri yang cenderung lebih banyak memilih pendidikan formal ketimbang dunia pesantren.

Namun baginya itu kembali kepada keyakinan para Kyai nya sendiri, menurutnya jika sebuah pekerjaan dilakukan dengaan fokus maka hasil itu akan ada datang dengan sendirinya, “ lamun urang nyieun minyak,  galendo mah pasti meunang kasampeur “ ( kalau kita membuat minyak, ampas kelapa disunda disebut galendo pasti ada, asal prosesnya dilalui.Red ) yang kurang lebih artinya jika sebuah pekerjaan dilakukan dengan benar dan fokus, maka hasil sekecil apapun akan dapat ditemui di akhirnya, jadi tidak perlu khawatir dengan hasilnya yang penting adalah melakukan prosesnya.

Kyai Abdul Aziz juga meyakini bahwa para Kyai saat ini masih memiliki kapasitas besar dalam memimpin ummat ini, baginya Kyai juga adalah Qadli dalam memutuskan permasalahan Ummat, meski dirinya pun tak memungkiri bahwa saat ini banyak Kyai yang sudah menyerah pada keadaan dan meninggalkan jati diri kesalafannya, namun menurutnya itu tidak akan terjadi jika para Kyai sendiri tetap komitmen dalam melaksanakan kewajibannya yaitu membina Ummat.

Pesantren menurut Kyai ini adalah satu – satunya pola pendidikan yang akan mampu menjawab tantangan zaman, dimana di pendidikan formal tak bisa ditemui pendidikan moral dan akhlak, di pesantren justru hal tersebut menjadi ruh yang tak bisa dilepaskan, untuk itu dirinya berharap agar pesantren salafi kembali pada fungsinya sebagai produsen sumberdaya manusia yang berkualitas, yang sesuai dengan kehendak penciptaan manusia itu sendiri.

Aktivitas Belajar Santri Miftahul Huda
Aktivitas Belajar Santri Miftahul Huda

Namun diakui disisi lain Kyai dengan Ribuan Santrinya ini sangat merindukan adanya kesefahaman diantara para Kyai di mana saja, kesefahaman dalam bagaimana ummat ini harus dipersatukan dengan tujuan dan komitmen yang sama, tidak berpecah belah apalagi berbeda tujuan, dan dirinya menjamin akan mendukung penuh jika dinasti salafiyah yang saat ini terpuruk kembali bangkit dan menjadi kekuatan ummat Islam dalam melahirkan calon-calon pemimpin yang berkualitas. (team beritalangitan.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.