Pengurus HAMIDA Sumedang Resmi Dilantik, “Ummat Islam Butuh Komando Untuk Bersatu”

0
1934
KH. Uu Ruzhanul Ulum, Ketua 1 Hamida Pusat.

Sumedang, 01/06 (beritalangitan.com) –  Himpunan Alumni Miftahul Huda (HAMIDA) Kabupaten Sumedang resmi melantik pengurus baru minggu 28/05. Acara pelantikan kali ini diadakan di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Manan  Tanjung Sari Desa Pasir Loa Pimpinan KH. Anwar Fadil.

Dirangkai dengan Tasyakur peringatan Isra Mi’raj serta silaturahmi para pengurus dengan agenda puncak pelantikan pengurus HAMIDA Kabupaten Sumedang oleh Ketua umum HAMIDA yaitu KH. Uu Ruzhanul Ulum SE yang juga memiliki sejumlah jabatan diberbagai organisasi selain masih aktif sebagai Bupati Tasikmalaya.

Pelantikan Pengurus Baru Hamida Kabupaten Sumedang
Pelantikan Pengurus Baru Hamida Kabupaten Sumedang

Dalam kesempatan tersebut dilantik sebagai Ketua satu HAMIDA Sumedang yaitu KH. Sofwan Wahyudin Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Hasanah, Ketua dua Kyai Hilmi Ahmad Hidayat S.Pd.I Pimpinan Pondok Pesantren Gunung Cupu, Sekretaris Kyai Dani Darmawan dan Bendahara adalah KH. Anwar Fadil Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda Al – Manan.

Pelantikan Pengurus Baru Hamida Kabupaten Sumedang
Pelantikan Pengurus Baru Hamida Kabupaten Sumedang

“Dengan dilantiknya kepengurusan baru ini kini HAMIDA Sumedang tidak lagi menginduk pada Bandung Raya”, ungkap Kyai Hilmi Ahmad Hidayat S.Pd.I kepada Beritalangitan.com.

Dalam sambutannya Ketua Umum HAMIDA KH. Uu Ruzhanul Ulum memaparkan “Kelemahan umat Islam saat ini adalah ‘gampang berkumpul tapi susah untuk berbaris’ ummat Islam saat ini  tidak terkomando secara sistematis, akhirnya ya jalan sendiri sendiri”.

“Selanjutnya untuk bisa mencapai apa yang menjadi tujuan agar umat Islam bisa seperti dalam hadist yang berbunyi  “kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir” maka  tugas pengurus Hamida yang sudah dilantik salah satunya adalah harus mampu mengordinasikan pengurus di Kabupaten atau Kecamatan agar bisa menyerap apa yang menjadi harapan dan kesulitan anggota Hamida di Kabupaten Sumedang.

“Kedua, kelemahan umat Islam adalah bisa gegap gempita di wilayah sendiri sementara sunyi senyap di wilayah orang. Artinya didalam tubuh sendiri ramai meributkan syari’at, ushul fiqih, akidah dan lain sebagainya tapi sunyi senyap dalam dakwah melawan kemunkaran diluar sana”.

Jika kondisinya terus demikian maka semakin hari Islam akan termajinalkan, maka oleh sebab itu sedikit demi sedikit Pesantren Miftahul Huda dan seluruh cabangnya harus mulai bergerak dalam bidang ekonomi, politik, sosial budaya supaya semua ramai bicara tentang Islam, ramai-ramai memakai standar kehidupan Islam dan masyarakat kembali kepada aturan agama.”

“Ketiga, tugas Hamida adalah harus mempunyai jaringan, harus memiliki akses ke semua lini masyarakat supaya tidak termarjinalkan seperti yang terjadi selama ini. Para Kiyai, para Ulama adalah orang yang berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, kita tentu tidak mau termarjinalkan seperti sekarang ini, ‘man roa minkum munkaron falyughoyyiru biyadihi’, barang siapa melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya”  tangan disini bukan tangan kita melainkan adalah kekuasaan yaitu umat Islam harus menjadi pemimpin di negara ini untuk memenangkan ijjul Islam wal muslimin.”

Sementara ketua Departemen Organisasi dan Pendayagunaan Hamida Pusat KH. Mukhtar Ghazali “dalam sambutannya mengatakan bahwa Hamida siap menjadi pelopor untuk mempersatukan umat”, ia juga menghimbau agar Hamida senantiasa menjaga kekompakan dan kebersamaan untuk kesatuan dan persatuan umat Islam karena Pemerintah tanpa Agama akan hancur, sekolah tanpa agama akan hancur dan ekonomi tanpa agama juga akan hancur, maka kita harus memilih pemimpin yang agamis untuk kemajuan umat Islam.

Dikirim oleh : Wn/ KSPP Gunung cupu Sumedang

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.