Pesantren Miftahul Ulum, lahir dari kemandirian dan militansi Kyai

2
2862
KH. Dadun Abdul Halim Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Ulum Cianjur

Cianjur, 20/3 (Beritalangitan.com) – Pondok Pesantren diakui atau tidak merupakan cikal bakal lembaga pendidikan di Indonesia, bahkan jauh sebelum ide untuk membuat negara Indonesia ada, pesantren sudah ada sebagai satu-satunya tempat untuk menuntut ilmu, meskipun dengan kondisi yang amat sederhana dan hanya mengajarkan ilmu agama serta praktek peribadatan.

Hal tersebut dikatakan pimpinan pesantren Miftahul Ulum KH. Dadun Abdul Halim saat ditemui tim lipsus beritalangitan.com di Kampung Irigasi Rt 03/04 Desa Cikondang Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur Kamis 17/3.

KH. D. Abdul Halim beserta istri Siti A’isyah sebenarnya sudah merintis dunia pendididikan santri sejak usai menimba ilmu di pesantren Miftahul Huda Manonjaya pada tahun 1992 karena keduanya adalah alumni dari sana.

Namun saat itu Kyai Dadun tidak sendiri, ia bekerjasama dengan pihak lain dalam mengelola Madrasah Diniyah dan juga Pondok Pesantren bernama Mambaul ulum, namun tekad dan keyakinannya yang kuat membuat Kyai Dadun ingin mandiri. Perlahan-lahan ia membeli sebidang tanah dan kemudian mulai membangun pondok miliknya sendiri yang diberinya nama Pesantren Miftahul Ulum, dan hingga saat ini ia sudah bisa menyelenggarakan Madrasah Diniyyah dan memiliki santri kalong serta santri mukim yang diisi dengan mengkaji Al Quran dan Kitab kuning.

Santri dan Murid Putra / Putri Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Miftahul Ulum Cianjur
Santri dan Murid Putra / Putri Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Miftahul Ulum Cianjur

Pesantren Miftahul Ulum ini dirintisnya dari tahun 2010 dan baru resmi berdiri sebagai lembaga pendidikan pada tanggal 10 Oktober 2015 lalu. Awalnya hanya memiliki sepuluh orang santri saja, tapi karena sosok Kyai Dadun yang sudah dikenal dan memiliki tempat di hati masyarakat, dalam waktu yang tak lama santri yang mengaji ditempatnya sudah mencapai 280 Orang lebih, bahkan dalam perjalanannya ada sepuluh orang santri mualaf dewasa yang belajar di tempat ini dan sudah menjalani hidup layaknya sebagai seorang muslim.

Saat di temui tim lipsus di sela sela kesibukanya Kyai yang kini didaulat sebagai Ketua Umum HAMIDA Cianjur selama dua priode ini mengungkapkan begitu sulitnya pada awal merintis pesantren ini, karena di satu sisi ia dituntut untuk mandiri oleh kondisi pada saat itu, tetapi disisi lain ia memiliki banyak keterbatasan dengan posisinya sebagai pengelola pesantren Mambaul Ulum yang belum dilepasnya hingga kini.

Hingga akhirnya masyarakat sendiri yang banyak mensuport dan memberikan bantuan kepadanya untuk memiliki lembaga sendiri. Mulai dari melelang lahan yang akan dijadikan pesantren pada saat itu hingga bantuan membangun madrasah, semua tak lepas dari peran dan dukungan masyarakat.

Sang Kyai mengungkapkan keinginannya membangun  sekolah dan pesantren satu atap karena menurutnya bila tidak dikolaborasikan seperti itu akan sulit, karena saat ini minat anak atau orang tua untuk menimba ilmu di pesantren sangat kurang. Sebagian besar masyarakat tetap akan menitipkan anaknya ke sekolah umum karena masih kurangnya kesadaran untuk membangun generasi yang islami dan masih banyak yang berfikir bahwa menjadi Kyai itu masa depannya tidak jelas.

Meski saat ini ia baru memiliki Madrasah Diniyah namun sang Kyai sudah mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari lahan saat ini yang sudah ia dapatkan tak kurang dari 1800 meter persegi dari wakaf masyarakat setempat. Ia juga sudah menyiapkan tenaga pengajar sebanyak sembilan orang alumninya yang sekarang mengajar di luar, dan empat orang yang saat ini sudah mengajar di pesantren ini, pungkasnya.    (Tim Lipsus Beritalangitan.com)

2 KOMENTAR

  1. Semoga Allah SWT, panjangkan umur beliau, disehatkan dan diberikan kekuatan dalam mensyiarkan agama Islam…Aamiin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.