Pesantren Cigunung Sukabumi, “Hidup Berkah itu Membela Agama Allah”

0
4104
Ustadz Muhammad Hasan Arsyadi

Sukabumi, 20/4 beritalangitan.com – Sukabumi sebenarnya memiliki akar sejarah kepesantrenan yang cukup kuat dalam perjalanan penyebaran Islam di Jawa Barat, ini terbukti dengan banyaknya pesantren yang cukup tua yang berdiri sebelum terbentuknya NKRI itu sendiri. Salah satu pesantren yang cukup tua di Sukabumi ini adalah pesantren Miftaahussa’adah Cigunung Sukabumi.

IMG_8857

Pondok pesantren Salafiyah ini didirikan oleh KH. Ahmad Djunaedi (Alm). KH. Ahmad Djunaedi adalah salah satu panglima Hizbullah pada masa pra kemerdekaan dan juga seorang pejuang Bojong Kokosan. Awalnya dulu sempat membangun sebuah pesantren di daerah Sukaraja, namun karena berbagai hal ia memilih untuk hijrah mencari tempat yang dimana masyarakatnya belum tersentuh oleh nilai-nilai agama sedikitpun.

Pondok Pesantren Miftaahussa'adah Cigunung Sukabumi
Pondok Pesantren Miftaahussa’adah Cigunung Sukabumi

Lalu pada tahun 1925 KH Ahmad Djunaedi membangun sebuah pesantren di Cigunung Sukabumi yang kemudian dinamai pesantren Miftaahussa’adah. Tepatnya beralamat di Jl. KH A Sanusi No.28 Cigunung Rt. 01/01 Keluarahan Sukakarya Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi, tetapi pesantren ini kemudian lebih dikenal di masyarakat dengan sebutan “Pesantren Cigunung”, pada masa kejayaannya sebelum kemerdekaan pesantren Cigunung ini pernah memiliki santri hingga 800 orang.

KH Ahmad Djunaedi (Alm) adalah lulusan pesantren Gentur Cianjur, bahkan tokoh ulama legendaris Cianjur Aang Enuh adalah salah satu murid asuhannya sebagai santri senior di Gentur. KH Ahmad Djunaedi wafat pada tahun 1989 pada hari sabtu di usia 90 tahun.

Sepeninggalnya kepengurusan pesantren Cigunung dilanjutkan oleh puteranya yaitu KH Abdullah Fauzi dengan dibantu putera lelaki tertuanya yaitu Ustadz Muhammad Hasan Arsyadi (39). Dengan Ustadz muda inilah tim berkesempatan berbincang menelusuri seluk beluk pondok yang hingga kini tetap konsisten memelihara ke-salafiyahannya ini.

Ustadz Muhammad Hasan Arsyadi  yang biasa dipanggil Aa Hasan ini awalnya sempat ragu untuk meneruskan perjuangan ayahnya mengurus pesantren ini karena ia melihat dari segi finansial kurang menguntungkan. Akhirnya Aa Hasan memutuskan berwiraswasta dengan membuka sebuah toko, dari sinilah muncul penggalan kisah penuh hikmah yang sangat menarik yang coba di kutip tim beritalangitan.com.

Setelah memiliki sebuah toko lambat laun perilaku Aa Hasan berubah, setelah shalat subuh ia langsung pergi membuka toko, ia tak lagi mau mengajar santri, bahkan tak jarang tak ikut wirid setelah shalat, hal ini diperhatikan oleh ayahandanya KH Abdulah Fauzi hingga suatu saat terjadi percakapan menarik.

“Aa ama (bapak.Red) mau Tanya sama Aa, Aa teh senang dengan kehidupan seperti itu?, ama perhatikan Aa bangun subuh langsung ke toko jarang ngajar santri malah jarang wiridan, padahal coba Aa lihat ama, setiap hari duduk ngajar santri tapi banyak orang yang datang bersimpuh mencium tangan ama, derajatnya tinggi, dihormati orang, tidak ada yang berani nyuruh-nyuruh ama, tapi coba aa di toko malah disuruh suruh bikin kopi sama tukang ojek, tukang becak, apa hidup seperti itu yang Aa mau?, lalu apa Aa bahagia mengurus uang dan semua perniagaan itu?   

Perkataan ayahandanya yang menyejukkan itu yang ternyata seperti hantaman palu besar buat Aa Hasan, ia menyadari bahwa pilihannya ini perlahan menjauhkannya dari kewajibannya mengurus agama, lalu akhirnya tahun 2002-2003 secara bulat ia memutuskan untuk berhenti berdagang dan lebih memilih mengikuti jejak ayahandanya mengurus pesantren dan mengajar santri. Ajaibnya setelah memutuskan hal itu rezeki malah datang tanpa dikejar, bahkan ia bisa memiliki rumah setelah memilih duduk mengajar santri bersama ayahnya.

Air Cacing
Air Cacing

Ternyata keberkahan menghampiri siapa saja yang dengan tulus ikhlas membela agama Allah, ini dibuktikan sendiri oleh Aa Hasan. Hingga kini setiap seminggu sekali ia membagi makanan kepada santri-santrinya, hal itu ia dapat dari hasil menjual air permentasi cacing untuk obat sebagai sebuah usaha sampingan yang ia niatkan malah bukan untuk bisnis, tetapi justru untuk membantu sesama, dan hasilnya pun ia bagikan kembali pada santri-santrinya setiap minggu.

Keunikan lain pesantren ini yaitu dari sisi kurikulum pengajaran yang di terapkan sejak tahun 1925 sejak berdiri  sampai sekarang dengan jumlah santri sekitar 150 orang tetap konsisten dengan kurikulum salafiyah murni, belajar kitab kuning, sorogan, ilmu alat, tafsir jalalen, grammar bahasa arab, dan lain sebagainya. Santri disini pun hampir setiap minggu ada yang khatam Qur’an. (tim lipsus beritalangitan.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.