Pesantren Darul Falah Al-Muiz Cianjur, Pencetak Pemimpin Ahlul Qur’an Masa Depan

0
619

Cianjur, beritalangitan.com – Pondok pesantren memiliki ciri yang khas
sesuai budaya dan nilai-nilai religius keislaman, ciri khas yang tidak dimiliki oleh pendidikan formal lainnya.

Ciri khas tersebut yaitu pertama,  sebagai lembaga pendidikan, kedua dakwah, dan ketiga pemberdayaan masyarakat.

Ketiga ciri khas tersebut menjadi kekuatan tersendiri bagi pondok pesantren, karena di lembaga pendidikan itu para santri tidak hanya menimba ilmu tetapi juga mencari keberkahan yang mengalir dari seorang guru.

Penghormatan pada guru (kiai) oleh para santri merupakan keniscayaan, Penghormatan pada guru telah menjadi tradisi bagi para santri di pondok-pondok pesantren, salah satu bentuk memperoleh keberkahan dalam rangka menimba ilmu pengetahuan.

Seperti di Pondok Pesantren Darul Falah Al-Muiz yang didirikan oleh KH. Abdul Muiz, MA dan Istrinya Hj. Ai Nuraidah pada tanggal 17 April 2004, yang sebelumnya ponpes ini berdiri di Kp. Nyelempet Daarusuada Al-Amin kemudian pindah ke Jalan K.H. Achmad Munawar, Sukasari, Kec. Cilaku, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat hingga saat ini.

Setelah sepeninggalnya KH. Abdul Muiz pimpinan Ponpes Darul Falah Al-muiz pada tahun 2010 kemudian Pondok Pesantren dilanjutkan oleh Istrinya Hj. Ai Nuraidah bersama putranya Cep Abdul Wahid Al-Muiz dan Gus Muhammad Noval Mu’iz.”tutur Ustadz Cep Abdul Wahid kepada team liputan khusus pesantren beritalangitan.com. Senin, (20/07/2020)

Menurutnya, Pendidikan di pesantren Darul Falah Al-Muiz bertujuan untuk menghantarkan generasi Qur’ani yang mampu membaca al-Qur’an dengan baik, Sesuai hadits Rasulullah SAW “Iqro Qur’an ulkhunil A’rab” yang artinya (bacalah al-quran dengan nagmah-nagmah atau lagu orang arab).

Dalam upaya pencapaian tujuan di atas, maka Pondok Pesantren Darul Falah Al-Muiz telah menciptakan kurikulum dalam kegiatan belajar mengajarnya dengan memadukan antara tilawah al-Qur’an, tahfidz al-Qur’an, qira’at al-Qur’an, kajian keilmuan al-Qur’an dan kitab kuning.

Sehingga disini santri dapat mempelajari 50% kitab kuning dan 50% Al-quran, Namun yang paling mendasar disini dalam mendalami seni tilawah baca Al-quran seperti seni bayati, shoba, hijaz, nahwand, rast, sika dan jiharkah.

Sehingga dalam membina dan mengembangkan mereka yang memiliki bakat di bidang seni baca Al-qur’an, Sekaligus agar para santri dapat memahami makna yang terkandung di dalamnya, serta mengaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Upaya itulah dalam rangka mencapai tujuan ponpes darul falah al-muiz, yaitu mencetak kader-kader qari’ qari’ah, hafidz hafidzah dan mufassir mufassirah yang mendalami ilmu-ilmu Islam (Tafaqquh fid-din) dan bertanggung jawab atas pengembangan agama (Iqamah al-din) dalam membangun umat.

Dengan harapan para santri disini menjadi santri yang soleh solehah yang dapat membawa pesan-pesan dan nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-quran, untuk dapat diterapkan dan diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat serta sebagai sumbangsih dalam mengatasi berbagai problematika umat yang lahir dikalangan masyarakat dewasa ini.”pungkasnya

(And)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.