Pesantren Mencegah Kematian Dini pada Anak karena Ponsel

0
68

Oleh: Hariqo*

Pada Ahad, 15 Maret 2020 saya diminta bicara literasi digital dari pukul 08.30- 11.30 WIB, karena siangnya santri akan pulang. “Darunnajah pusat menginstruksikan cabang-cabangnya agar merumahkan santri selama 14 hari untuk mencegah corona,” kata Ustaz Fajar Suryono (34 tahun) pimpinan di Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14, Serang, Banten.

Dalam presentasi, saya meyakinkan para santri yang rata-rata berusia 12 – 18 tahun, bahwa kebijakan pesantren melarang penggunaan ponsel sangat visioner. Dengan data tentunya, termasuk menceritakan orang terkaya di dunia, Bill Gates yang melarang anak kandungnya menggunakan ponsel.

Pada usia 15 tahun, anaknya baru boleh pegang ponsel. Tapi Bill Gates sangat membatasi, ia melarang keras anaknya membawa ponsel ke sekolah, sebelum tidur, saat kumpul keluarga, di meja makan dan banyak aktifitas lainnya.

Pada 2015, Uni Eropa bahkan melarang anak di bawah 16 tahun menggunakan media sosial. Kebijakan pesantren melarang santrinya menggunakan ponsel lebih dulu ketimbang Bill Gates dan Uni Eropa, bahkan kebijakan ini sudah ada sejak ponsel pertama kali hadir di Indonesia. Termasuk di Ponpes Nurul Ilmi Darunnajah 14, Serang, Banten. Larangan ini menjaga kesehatan panca indera santri, utamanya mata, fisik dan psikis, merawat otak, melatih fokus.

Usia 8-18 tahun adalah masa rawan. Kecanduan ponsel bisa membuat anak sakit jiwa. Salah menggunakan ponsel bisa menyebabkan foto, video mesum anak tersebar. Ponsel sama dengan motor dan mobil, jika digunakan anak di bawah usia 17 tahun dapat menyebabkan “kematian”.

Kebijakan melarang ponsel ini mencegah “kematian dini” pada anak. Betapa banyak anak-anak yang mengurung diri di rumah, malu bertemu siapa pun karena foto, video tidak pantasnya menyebar di internet. Ia ada, tetapi ingin dianggap tidak ada.

Namun bagaimana jika santri liburan dan lulus nantinya? Tentunya akibat dilarang lama menggunakan ponsel, mereka akan melampiaskannya setelah wisuda? Saya tanyakan ini kepada Ustaz Fajar Suryono dan para ustaz lainnya saat ngopi pagi di teras gedung penerimaan tamu.

“Ada pembekalan sebelum santri pulang ke rumah, ini terus kami sempurnakan. Saat liburan, kami juga menugaskan santri bersilaturrahmi ke tokoh masyarakat seperti RT, RW, ulama, guru mereka saat TK dan SD, para akademisi serta figur lainnya. Mereka harus mencatat nasehat dari para tokoh tersebut. Ini bukan imbauan tapi penugasan,” jelas Ustaz Fajar Suryono yang juga alumnus Gontor tahun 2002 ini pada saya.

“Keren juga ide ente mas bro”, respon saya sambil membayangkan anak usia 15 tahun datang bersilaturrahim kepada guru-guru mereka saat TK dan SD. Saya panggil Mas, kebetulan Ustaz Fajar Suryono yang memimpin pesantren ini adalah orang Yogya asli, lahirnya di Kalasan dekat Candi Prambanan.

Lalu apakah Ponpes Darunnajah gaptek? Anda cek saja website dan akun-akun media sosialnya. Pengelolaan dan kontennya keren serta kekinian banget. Bahkan website-nya paling banyak diakses di antara pesantren lainnya di Indonesia.

Sebelum pulang, saya menolak diajak keliling pondok pesantren ini, “Saya lelah taz, lumayan juga keliling pondok yang 15 hektar ini.” Lahan seluas itu adalah milik tokoh Betawi KH Abdul Manaf Mukhayyar yang kemudian diwakafkan untuk pendidikan.

Sekarang status tanah itu milik umat, bukan lagi milik keluarga. Kiai dan keluarga sudah ikhlas, karena sebelumnya sudah terlatih mewakafkan harta-harta lainnya. Allahu Akbar.

Mohon doanya untuk seluruh keluarga besar sivitas akademika Pondok Pesantren Darunnajah. Alfatihah.

*) Hariqo Wibawa Satria, M.HI, pengamat media sosial dari Komunikonten, penulis buku seni mengelola tim media sosial

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.