“PKMDT Cianjur, dari Keluarga Lahirkan Kader Santri yang Berkualitas”

0
1043
Ajengan Ayi Deddy SPd.I Pimpinan Pesantren Keluarga Muslim Dzuriyyah Thoyyibah (PKM DT)

Cianjur, 16/3 (beritalangitan.com) – Keluarga adalah pondasi terpenting dalam menjalankan nilai – nilai Islam. Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat terdiri dari kepala keluarga dan anggota keluarga lainnya yang terkumpul dan tinggal di sebuah tempat.

Berawal dari program pembinaan Keluarga Muslim yang di usung oleh Ajengan Ayi Deddy SPd.I  inilah kemudian terlahir Pesantren Keluarga Muslim Dzuriyyah Thoyyibah (PKMDT). Pesantren berbasis keluarga ini terletak di Kampung Sinagar Rt 01/14 Desa Bojong  Kecamatan Karang Tengah Cianjur. Pesantren yang memanfaatkan rumah – rumah warga sebagai tempat mengaji ini dinilai patut menjadi contoh dan bisa diterapkan diseluruh kalangan masyarakat.

Sosok Ajengan Ayi Deddy sendiri adalah sosok yang sederhana tetapi memiliki kemauan keras. Sejak lulus sebagai santri Miftahul Huda Manonjaya ia terang terangan berkata kepada gurunya bahwa belum ingin menjadi Kyai, tetapi ia ingin berpetualang mencari berbagai pengetahuan dan pengalaman diluar pesantren.

Setelah puas berkelana akhirnya Ajengan Ayi menikah dan aktif sebagai pengurus HAMIDA Cianjur. Dengan mengontrak rumah di kawasan yang ditempatinya kini Ajengan Ayi mulai merintis pengajian, tetapi baru saja merintis badai ujian itu sudah datang menimpanya, rumah yang didiaminya kebakaran sehingga menghabiskan semua kitab dan harta benda yang dimilikinya.

Tetapi rencana Allah ternyata lebih baik. Ajaib setelah kebakaran, Ajengan Ayi malah ditawari tanah yang bisa dibelinya dengan cara menyicil, dan akhirnya ia kembali membangun rumah ditanah yang kini dimilikinya. Setelah cukup lama ia ditanya oleh gurunya kapan membuat pesantren lagi?, tetapi Ajengan Ayi mengeluh dimana harus membuat pesantren sedangkan rumah yang ditempatinya relatif sempit. Dan muncullah kalimat monumental yang memotifasinya “Ari maneh teu boga para ?” (kamu nggak punya atap? -Red).

Dari situlah akhirnya Ajengan Ayi mulai membangun rumahnya menjadi tiga lantai sehingga akhirnya hingga kini dapat digunakan sebagai pesantren bagi warga sekitar. Diawali dengan mengaji di teras-teras rumah penduduk hingga terbentuknya PKM DT yang kini resmi diakui sebagai lembaga pendidikan berupa pesantren yang dinaungi yayasan.

Pesantren PKM DT ini cukup unik dan berbeda dengan pesantren pada umumnya karena kegiatan pengajiannya  dilaksanakan pada malam hari dari pukul 18:30 hingga pukul 21:00 untuk anak-anak, sedangkan bagi yang dewasa dari pukul 18:30 hingga pukul sebelas malam di rumah kiyai yang juga sederhana berukuran 60 x 10 meter persegi tetapi memiliki tiga lantai ini, untuk pengawasannya menggunakan CCTV dan pengeras suara agar sang Kyai dapat memantau setiap kegiatan santri dan santriwatinya.

Kegiatan Santri Putra dan Putri
Kegiatan Santri Putra dan Putri

Sejak tiga tahun Pesantren Keluarga Muslim ini didirikan semakin banyak diminati warga sekitar. Dari radius dua RW yang memiliki tak kurang dari 700 Kepala Keluarga kini notabene telah menjadi santri Keluarga Muslim Dzuriyyah Thoyyibah. Dengan adanya program santri dirumah masing-masing seperti ini masyarakat sekitar sangat terbantu dan termotivasi untuk mulai mengaji bersama-sama.

Ajengan ini memiliki visi dan misi ingin menciptakan keluarga yang harmonis, tentram dan solutif. Ia juga berkeinginan agar pesantren ini menjadi tempat therapy (penyembuhan) psikis berbasis Qur’aniyah. Dalam jangka panjang kedepannya ia juga berkeinginan membangun tempat ini menjadi tempat yang religius, melahirkan para kader, santri dan para ulama ulama yang dapat merubah hidup masyarakat ke jalan yang lebih baik.

(Tim Lipsus Beritalangitan.com)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.