Pondok Pesantren Al Istiqlaal Al Islamy, Konsisten dan Mandiri dengan Kesalafiyahan

0
6339
KH. Jalaluddin Mahally Pimpinan Pondok Pesantren Al Istiqlaal Al Islamy

Cianjur, 21/3 (beritalangitan.com) – Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang keberadaanya tak lekang ditelan jaman. Namun, dalam perkembanganya pesantren juga mengalami masa jatuh bangun dan memiliki tantangan sendiri.

Dulunya pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional yang tersentral pada sosok kyai dan kajian kitab-kitab  kuning, namun kini banyak pesantren yang sudah mengadopsi sistem pendidikan formal berupa sekolah-sekolah, atau lembaga pendidikan agama non pesantren.

Namun tidak demikian dengan pesantren yang dikunjungi tim beritalangitan.com di hari terakhir program jelajah pesantren salafiyah di Kabupaten Cianjur ini. Inilah salah satu pesantren yang berusia tak kurang dari 50 tahun dan terbilang cukup sukses mengelola pesantrennya dengan jumlah santri yang tidak sedikit dan masih konsisten mempertahankan kesalafiyahannya.

Masjid dan Pondok Putra Pesantren Al Istiqlaal Al Islamy
Masjid dan Pondok Putra Pesantren Al Istiqlaal Al Islamy

Pondok Pesantren Al Istiqlaal Al Islamy berdiri sejak 1958, beralamat di Jalan Raya Bandung Km 11 Kampung Cicantu Desa Hegarmanah Kecamatan Sukaluyu Kabupaten Cianjur yang di pimpin oleh KH. Jalaluddin Mahally seorang Kyai sepuh berusia 86 tahun dan akrab di sapa “Mama” (panggilan khas Jawa Barat untuk Kyai sepuh. Red)

Meski terbilang sudah cukup tua, tapi sosok Mama Kyai yang bersahaja ini masih begitu semangat dalam mengamalkan ilmu dengan mengajar langsung para santri, diusia ini dirinya masih mampu mengisi kegiatan-kegiatan rutinnya seperti pengajian alumni, rutinan ikhwan, rutinan akhwat dan pengajian sehari hari santri.

Menarik saat mendengarkan kisah bagaimana Kyai ini mulai menimba ilmu dan selesai pada tahun 1958 di Banjar Sari, Keresek Garut, Kudang limbangan Garut, dan di Ciharashas Cilaku Cianjur. Dan memulai mendirikan pesantren tahun 1962  bersamaan dengan kondisi keamanan indonesia pada saat itu sedang dikuasai PKI, keselamatan bahkan nyawa para Kyai sendiri seringkali sangat terancam saat itu dan sudah menjadi target operasi yang harus dibunuh oleh PKI karena dianggap menjadi penghalang.

Namun atas pertolongan Allah dirinya selamat sampai sekarang dan tidak kurang suatu apapun. Kyai kelahiran Garut ini sadar betul bahwa tidak mudah mempertahankan sebuah pesantren salafi ditengah-tengah gencarnya pembangunan pabrik-pabrik di sekitar wilayah ini,  dimana minat masyarakat terhadap pesantren salafiyah jadi sangat terpengaruh oleh hal tersebut, terbukti tak sedikit pesantren yang santrinya berbelot meninggalkan pesantren dan memilih menjadi karyawan pabrik.

Namun berkat keyakinan dan kegigihannya, pesantren ini dapat bertahan dengan jumlah santri saat ini tak kurang dari 300 orang yang berasal dari berbagai kota, begitupun dengan alumni yang sudah tersebar membentang dari Banten sampai Berebes yang kemudian oleh persatuan alumni Al-Istiqlal dibagi menjadi 12 Kordinator wilayah.

Dalam perjalanannya berbagai tawaran datang kepada pesantren ini supaya merubah sistem kesalafiyahannya dan memadukan dengan pendidikan formal dengan diiming-imingi bantuan dan semacamnya, namun dengan tegas Sang Kyai menolak dengan alasan “saya dulu tidak sekolah dan hanya mengenyam pendidikan di Pesantren dan saya tidak akan mengganti kesalafiyahaan pesantren ini”, terangnya.

Meski tidak ada bantuan dari pemerintah pesantren yang murni salafiyah ini masih tegak berdiri bahkan terus berkembang diatas tanah seluas 1,5 hektar dengan fasilitas yang ada dan terbilang cukup, tidak ada biaya pendidikan yang diberlakukan pada santri-santrinya, paling santri patungan sendiri untuk makan dan bayar listrik. “Dengan bermodalkan tawakal kepada Allah alhamdulillah pesantren ini masih tetap bertahan sampai dengan hari ini, karena tawakaltu al Allah adalah kuncinya”, pungkas sang Kyai. (Tim Lipsus Beritalangitan.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.