Pondok Pesantren Asy Syathibiyyah Palabuhanratu, “hanya pesantren yang mencetak orang sholeh”

3
4313
KH Useh Ahmad Ahwasyi, Pimpinan Pondok Pesantren Asy Syathibiyyah Pabuhanratu - Sukabumi

Palabuhanratu, 10/5 (Beritalangitan.com) – Jika mendengar Palabuhanratu maka siapa saja akan tertuju pada daerah wisata laut dan pantai yang ada di Sukabumi. Namun tak hanya itu, ternyata di Palabuhanratu terdapat Pondok Pesantren Asy Syathibiyyah yang masih mempertahankan kesalafiyahannya yang beralamat di Jl. Penegak Kp. Jamban Rt. 03/15 Desa Palabuhanratu Kec. Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi, pondok pesantren ini di dirikan pada tahun 1992 oleh KH. Usjeh Ahmad Ahwasyi.

Sampai saat ini Asy Syathibiyyah sudah menghasilkan lebih dari 700 orang alumni yang tersebar mulai dari daerah Banten, Jawabarat sampai Jakarta dan daerah lainnya di Indonesia. Nama Asy Syathibiyyah diambil dari ayah Kyai Usjeh dan ayah sang Istri Ibu Hj. Cucu Mulyati yang memiliki kesamaan nama yaitu almarhum Satibi.

Meski awal masa pendiriannya mengalami kesulitan dalam hal ekonomi, namun Kyai bersama Istri pantang menyerah dan terus berjuang untuk memajukan pesantren yang didirikannya ini. Pernah suatu ketika di lingkungan sekitar pesantren ada rencana akan dibangun sebuah Gereja, tapi karena aparat pemerintah setempat dan Kyai tentunya tidak mengizinkan sehingga hal tersebut tidak terjadi.

Dalam perjalanan hidup Kyai Usjeh yang lahir di Palabuanratu 50 tahun lalu tentu tidak dapat dilepaskan dari sosok Sang Guru Uwa Ajengan Khoer Afandi sebagai pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya karena Kyai Usjeh memang santri disana tahun 1983 hingga menikah dengan santri puteri dari Pesantren yang sama dan dimukimkan pada tahun 1992 oleh Sang Guru sehingga dalam mengajar santri-santrinya ciri khas Miftahul Huda yaitu tauhid kental mewarnai pengajarannya.

Saat ini ada  lebih dari 200 orang santri putera dan puteri yang menimba ilmu di Pesantren Asy Syathibiyyah dan sebagian besar adalah siswa SMP dan SMA yang ada di dekat Pesantren atau santri kalong, sedangkan yang mondok tak kurang dari 75 orang. Selain itu Kyai Useh aktif dalam pengajian rutin mingguan di berbagai Majelis Ta’lim di palabuhanratu yang pesertanya mencapai ratusan orang termasuk rutin mengisi pengajian Mesjid besar Palabuhanratu.

Kyai Useh mengungkapkan kurang minatnya orang tua untuk memasukan anaknya ke Pesantren adalah salah satu penyebab berkurangnya santri yang menimba ilmu agama di Pesantren. Lebih miris lagi terkadang Pesantren hanyalah dipakai untuk menakut nakuti anak agar mau sekolah dipendidikan formal.

Kendala lain bagi santri yang mengaji adalah padatnya jadwal belajar membuat anak sulit mengatur waktu untuk Pesantren bahkan mengaji sekalipun jadi sulit karena anak sudah cukup kelelahan dengan aktivitas di sekolah yang menyita waktu kadang hingga sore hari. “Banyak lembaga pendidikan yang bisa membuat orang pintar namun hanya di Pesantren tempat menciptakan orang – orang yang sholeh pungkas sang Kyai. (Tim Lipsus Pesantren)

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.