Pondok Pesantren “Gelar”Cianjur, Pondok Pemersatu Umat sejak Zaman Pra kemerdekaan

0
393
Pondok Pesantren Gelar Cibeber Cianjur

Cianjur, beritalangitan.com – Pondok Pesantren Gelar Kabupaten Cianjur dikenal banyak orang sebagai salah satu pondok pesantren tertua di Cianjur, Jawa Barat. Pasalnya Pondok Pesantren ini berdiri sejak tahun 1932-an yang hingga saat ini masih berperan aktif membina dan melayani umat.

Dalam catatan sejarah, KH. Zen Abdusomad yang dikenal dalam sebutan Mama Gelar dikenal sangat santun dalam menyampaikan dakwah maupun pengajian di berbagai daerah.

Mama Gelar lahir dari ayah bernama KH Subandi bin Eyang Husen bin Eyang Johar Kadupandak dan ibu Umi Hj Asiah bin Uyut Fatimah bin Eyang Arnas bin Nyimas Kararanggeng bin Aria Wiratanu Datar Cikundul.

Secara garis keturunan, Mama Gelar masih ada pertalian darah dari keturunan bupati pertama Cianjur Eyang Dalem Cikundul.

Jasanya dalam menyebarkan ajaran Islam hingga kini masih bisa terlihat dari sebaran majelis talim yang masih aktif di laksanakan di berbagai daerah di Jawa Barat, serta pesantren Gelar yang masih berdiri kokoh di kawasan Kecamatan Cibeber.” Seperti yang di ungkapkan KH.M Subchan ZE atau yang akrab di sapa Aang ZE.

KH.M.Subchan ZE, akrab disapa Aang ZE

Beliau mengatakan, Pondok pesantren sangat berperan penting untuk menyiapkan umat dalam membangun bangsa ini.”Pesantren juga berperan dalam menyiapkan umat yang bersatu membangun bangsa dan agama, dalam memperkuat persatuan dan kesatuan, memerangi kemiskinan dan kebodohan,” ujar nya kepada team lipsus pesantren beritalangitan.com saat di kunjungi di Pondok Pesantren Gelar, Desa Peuteuy Condong Kecamatan Cibeber, Cianjur, Jawa Barat. Senin, (20/07/2020)

Menurutnya, pesantren juga berperan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman untuk hidup berdampingan dengan seluruh komponen lainnya. Menurutnya pula, ulama, santri dan pondok pesantren memiliki peran yang sangat penting untuk bisa melayani umat.

“Tanpa bimbingan dari para ulama, tanpa adanya santri yang menjadi contoh, umat Islam dapat kehilangan arah atau bahkan hanya menjadi buih di lautan,” terang nya.

Sebagaimana ada sebuah nasihat “Tidak ada kemenangan tanpa kekuatan, tidak ada kekuatan tanpa persatuan, tidak ada persatuan tanpa adanya kesatuan dan tidak ada kesatuan tanpa adanya ikatan tali silaturahim”.

Maka dari itu kalau kita mau menang berarti kita harus ada kekuatan yang besar, ketika kita punya kekuatan yang besar berarti kita harus mengadakan persatuan dari persatuan inilah kita harus membuat wadah yang di sebut kesatuan.

Maka dari kesatuan itulah kekuatan akan datang kemenangan akan datang, dengan ikatan yang paling kuat yaitu ikatan tali silaturahim, Semoga kita semua terutama agama dan bangsa yang kita cintai dapat menang dalam segala hal terutama secara pribadi kita juga harus menang dalam melawan hawa nafsu.

Aang ZE pun mengatakan, setiap pesantren dipandang sebagai samudera ilmu. Hal tersebut berarti, pesantren adalah tempat di mana para santri mempelajari ilmu agama yang dibimbing oleh para pengasuh pondok.

“Di pesantren kita tidak hanya menjalankan perintah untuk menuntut ilmu, tetapi juga sekaligus memperdalam pengetahuan agama dan mengamalkannya,” ujarnya.

Di pesantren pulalah, jelas dia, para santri dapat memahami ajaran Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Aang ZE juga mengatakan, kemajuan yang ada saat ini harus disikapi dengan baik oleh umat Islam dengan cara membangun umat yang berkualitas.”Tandasnya.

Di tempat yang sama ditemui pula KH Giban Zen atau yang akrab disapa Haji Abeng yang merupakan putra bungsu Mama Gelar beliau mengatakan, “Umat yang berahlak adalah umat yang mengamalkan Islam secara kaffah sekaligus dapat membina diri dengan berbagai ilmu pengetahuan dan wawasan.

KH. Giban Zein akrab disapa H.Abeng

Bila seorang muslim tidak bisa menjaga tata cara berfikir, bahasa dan sikap terhadap Allah Ta’ala dan sesama manusia, maka ia belum bisa mengejawantahkan ilmu yang telah dimilikinya,” jelas dia.

Apalagi dalam menyikapi berbagai isu dan permasalahan, umat Islam harus dewasa. Menurut H.Abeng, setiap umat manusia arus melihat setiap masalah dengan kepala dingin, hati yang jernih dan jiwa yang lapang, agar tidak mudah terbakar amarah, terhasut dan bahkan diadu domba.

“Di sinilah peran penting pondok pesantren, ulama, dan para santri untuk ikut mendorong bangsa dalam membina umat sehingga menjadi umat yang maju dan berahlak.

Akhlak berperan besar dalam menentukan kriteria iman seseorang, karena itu Islam mengajarkan etika berfikir, berbicara dan bersikap sesuai tuntunan agama semuanya bermuara pada Akhlak yang mulia (Akhlaq Al-Karimah).”pungkasnya.

tim lipsus beritalangitan.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.